
Ruang BK sekolah SMA 1 menjadi tempat bermusyawarah antar wali murid. Pak Zayyan selaku guru BK yang memanggil para orang tua keempat siswanya menjadi penengah. Ibunda Friska lebih banyak diam dan mendengarkan, wanita itu sudah habis tenaga memarahi putrinya kemarin.
Sementara itu, Nyonya Nasita sebagai perwalian dari Myria ikut hadir. Beliau datang paling awal dan rela meninggalkan pekerjaan di butik.
“Saya yakin Bapak bisa mengambil keputusan bijak untuk masalah remaja seperti ini, Pak.” Nyonya Nasita meminta keadilan. Dia telah mendengar semua cerita perundungan menantunya dari Angkasa maupun guru BK di sekolah tersebut.
“Tapi namanya juga anak remaja, Nyonya. Mereka masih labil.” Ibunda Erika ikut menyela. Beliau tidak terima jika putrinya berada di pihak yang salah.
“Delapan belas tahun bukan lagi anak-anak, Nyonya. Usia itu sudah mulai bisa membedakan mana yang baik dan buruk. Berbeda dari anak TK.” Nyonya Nasita menekan nada pembicaraan. Meski wanita itu mulai kesal, tetapi keanggunannya tetap memancar. Sering hadir di pesta kalangan pebisnis, Nyonya Nasita terlalu pandai menguasai pembawaan diri.
Pak Zayyan yang ada di ruangan menjeda argumen agar tidak sampai terjadi perkelahian lebih sengit. Dia tak ingin anak maupun orang tua muridnya bermusuhan. “Ibu-Ibu yang ada di sini, saya mohon ketersediannya untuk tenang. Di sini, saya mengundang Anda sekalian untuk memberi tahu bahwa anak-anak bermasalah. Adapun sanksi yang harus saya ambil setelah diskusi bersama wali kelas dan kepala sekolah, kami sepakat untuk memberikan skorsing selama satu bulan kepada Erika dan Risti.”
“Pak!” Ibunda Erika langsung berdiri dan berkacak pinggang. Tatapannya melotot pada guru BK sang anak yang belum selesai menjelaskan.
Pak Zayyan menarik napas sebentar, lalu meminta ibu Erika kembali duduk. “Maaf, Ibu, saya belum selesai bicara.”
Orang tua Risti menarik ibu Erika untuk duduk. Akhirnya, wanita pemilik usaha catering itu kembali mendaratkan diri ke sofa.
Guru muda yang ada di sana kembali melanjutkan pembicaraan. “Maaf, Bu. Semua hal itu ada akibatnya, saya harap Anda terima keputusan sekolah. Kami juga mengeluarkan surat peringatan untuk kelakuan kurang baik bagi Erika dan Risti.”
Hati ibu Erika makin panas. Sesekali wanita berpakaian cokelat susu itu melirik Nyonya Nasita dengan tatap kesinisan. Namun, Nyonya Nasita mengabaikannya.
“Wali Murid sekalian, keputusan ini sebenarnya berat untuk pihak sekolah. Mengingat para siswa kelas XII setelah ini akan persiapan ujian akhir. Maka dari itu, kami sepakat memperpendek hukuman untuk Erika dan Risti. Selama masa skorsing, pihak sekolah berharap orang tua bisa berperan penting untuk menyadarkan putrinya.” Guru BK dengan tampilan selalu rapi itu memaparkan lebih jelas. Pak Zayyan berusaha tetap berkepala dingin sekalipun para ibu-ibu di depannya sudah saling serang membela anak masing-masing. Pria dengan perawakan tinggi itu berdiri, lalu keluar sebentar dan memanggil satu siswa untuk dimintai tolong.
Beliau kembali masuk ruangan dan berkata, “Untuk melegakan hati wali murid dari Myria dan Friska, saya memanggil keempat siswa itu. Ibu nanti bisa menjadi saksi mereka saling bermaafan.”
Ibu Erika berdecak. Dia masih memasang wajah sinis tidak terima. Seperti apa pun Erika, gadis itu tetap jadi putri kesayangan. Efek terlalu dimanja, Erika selalu merasa benar dan berkuasa. Ditunjang dengan harta dan penampilan, sikap gadis itu kian menjadi.
Pintu ruangan terbuka. Friska masuk paling dahulu bersama Myria. Dua gadis berjilbab itu saling pandang kebingungan, lalu menunduk takut.
__ADS_1
“Ba–Bapak manggil kami, Pak?” Berbeda dari kemarin saat memberi penjelasan begitu lancar, kini cara berbicara Friska tergagap. Dia takut ada ibunya yang masih di duduk di sana. Kemarin malam, gadis itu sudah dicerca banyak omelan, sehingga pagi hari langsung kabur dari rumah tanpa sarapan ataupun pamit.
“Benar, tunggu sebentar.”
Ucapan sang guru selesai, setelah itu pintu ruangan kembali terbuka. Erika muncul bersama Risti. Dua gadis itu menatap sekeliling dan berhenti pada guru BK di depan.
“Pak Zayyan memanggil kami lagi. Ada apa, ya, Pak?” Erika berujar tanpa basa basi. Meskipun ada para orang tua di sana, gadis itu beranggapan tidak melihat apa pun.
“Erika dan Risti, Bapak memanggil kalian bersamaan Myria dan Friska untuk menyelesaikan masalah kemarin.”
“Bukannya udah, ya, Pak? Mama saya, kan, sudah datang ini.” Tanpa dipersilakan, Erika memotong pembicaraan. Sikapnya yang demikian justru menarik perhatian semua orang yang ada di ruangan.
Astagfirullah, Kasa … dulu punya pacar diam-diam dan kelakuannya seperti itu?
Nyonya Nasita membatin. Dia teringat putranya yang kemarin malam menceritakan banyak hal. Bahkan, fakta-fakta kelakuan di masa lalu sebelum kecelakaan ikut terbeberkan.
“Benar, Erika. Tapi itu tidak cukup.”
Suara Pak Zayyan menarik kesadaran Nyonya Nasita untuk kembali mendengar kejadian saat ini. Wanita itu masih bersandar di sofa dan bersikap tenang setenang air danau tanpa gelombang.
Erika mengerutkan kening mendengar ucapan gurunya.
“Erika, Bapak minta kamu dan Risti meminta maaf pada Myria juga Friska.”
Empat pasang mata gadis-gadis itu membulat bersama. Baik Myria dan Friska maupun Erika dan Risti, sama sama tidak menyangka jika gurunya akan bersikap demikan.
Sesuai perangai Erika yang congkak. Gadis itu tentu menolak langsung. Dia masih beranggapan hal kemarin adalah hal biasa. “Maaf, ya, Pak. Tapi saya nggak mau.”
“Bapak akan menambah masa skorsing kamu kalau tidak mau melakukan itu.”
__ADS_1
“Apa? Menambah? Maksudnya? Memangnya saya di-skorsing, Pak?”
Kepala Pak Zayyan mengangguk. “Kamu dan Risti sama-sama bersalah, jadi pihak sekolah memberi skorsing satu bulan. Tapi kalian masih beruntung karena terpotong libur semester dua pekan, jadi tersisa dua pekan lagi saat masuk semester genap nanti.”
“Pak, Bapak nggak bisa gitu, dong. Saya, kan—”
“Masih beruntung kalian berdua tidak dikeluarkan dari sekolah!” kata Guru BK penuh ketegasan mendengar Erika yang terus rewel sejak tadi. Beliau tidak pandang bulu baik siswa maupun siswi yang bermasalah, semua aturan harus dijalankan. “Sekarang Bapak minta lakukan perintah tadi. Kalau tidak, belum boleh keluar.”
“Rik, udahlah. Dengerin aja kata Pak Zayyan.” Risti berbisik sembari menahan tangan Erika. Sejak tadi dia diam karena ada ibunya yang terus memperhatikan. Risti masih memiliki batas untuk bersikap kurang ajar.
Erika mendengkus. Dia menatap tajam pada Myria dan Friska. “Gue minta maaf sama kalian,” katanya dengan pandangan menuju ke arah lain.
Nyonya Nasita menggelengkan kepala melihat pemandangan di depan mata. Beliau sampai mengelus dada sendiri.
Pak Zayyan menarik napas panjang lalu membuang pelan. “Ulurkan tangan kalian berempat untuk berjabat tangan. Erika dan Risti segera minta maaf dengan benar!”
Terpaksa menurut meski begitu berat. Empat gadis berbeda penampilan itu maju dan bersalaman secara bergantian.
“Gue minta maaf sama lo,” kata Erika sembari menatap sinis pada Friska. Kemudian, dia pindah pada Myria. “Gue juga minta maaf sama lo, Myria.”
“Aku juga minta maaf.” Myria menjawab lembut, tetapi tanggapan Erika justru bola matanya berputar malas.
Cih! Sok lugu! Awas lo.
.
.
......................
__ADS_1