Menikahi Teman Kelas

Menikahi Teman Kelas
Ch. 57: Langit Malam


__ADS_3

Ada ungkapan kurang benar, katanya, peraturan dibuat untuk dilanggar. Namun, jika ungkapan itu dijalankan oleh Erika dan Risti, tentu saja mereka akan dapat masalah lebih besar. Meski bukan tergolong siswa pandai di kelas, kedua gadis itu tidak pula terlalu bodoh. Mereka masih mampu berpikir akibat yang akan diperoleh jika tidak menerima keputusan sekolah.


Sehari setelah pertemuan antar wali murid dilakukan, mulai hari itu pula masa skorsing Erika dan Risti dimulai. Mereka tak lagi ke sekolah hingga pekan kedua semester genap nanti.


Lomba class meeting telah berakhir, beberapa hari lagi penerimaan raport. Angkasa dan Myria ke sekolah hanya untuk sekadar berkumpul bersama teman karena tak ada lagi kegiatan.


Malam hari setelah makan, tuan muda keluarga Sastra itu langsung kembali ke kamar. Tidak ada acara mengobrol bersama ayah atau ibunya. Sejak sore, Angkasa hanya berguling-guling di tempat tidur sembari bermain ponsel.


“My ….”


Myria berhenti mengetik. Dia memutar kursi belajarnya. “Ya.”


“Gabut gue. Keluar, yok!”


Kening Myria langsung berkerut. Dia sudah menulis sejak tadi, tetapi baru mendengar suara Angkasa. “Tumben ngajak keluar.”


“Serius, bete banget gue dari sore nggak ngapa-ngapain. Udah nggak ada yang dipelajari juga. Mau ngapain?”


“Main aja ke rumah Sakti biar bisa kumpul sama temen-temen geng kamu.”


Mendengar nama Sakti, Angkasa berdecak. Dia mengubah posisi duduk dan mengacak rambut dengan gerakan cepat. “Kalau abis ulangan gini, nyokap bokap Sakti di rumah. Gue nggak mau ganggu momen keluarga. Lagian, kayak lo nggak tahu gue sama Sakti lagi musuhan.”


“Musuhan apanya, tiap hari ngobrol gitu?”


“Ngobrol nggak penting.” Jawaban tak acuh keluar begitu saja dari mulut Angkasa.


“Emang dulu kalau ngobrol selalu penting? Paling juga ngomong ngalor ngidul semua dibahas.”


“My ….” Angkasa mendesah frustrasi. Dia berjingkat dari kasur lalu turun menghampiri sang istri. “Cerewet banget lo sekarang. Bikin gue gemes.”


“Kasa.” Myria spontan berdiri karena waswas. Dia bersiap meninggalkan kursi atau lari lantaran dapat tatapan jail dari sang suami. “Jangan aneh-aneh, deh.”


Gelak tawa menggema, bahkan mungkin bisa didengar dari luar. Kamar tanpa pengedap suara itu awalnya sepi, kini mendadak riuh. Angkasa memangkas jarak lebih banyak. Dia bisa saja melompat dan menangkap Myria yang terus berjalan mundur, tetapi cara itu dianggap kurang seru.

__ADS_1


“Lo kayak mau gue apain aja, My. Maju sini!”


Myria menggeleng cepat. Kakinya terus mundur seperti sedang terancam. “Balik rebahan aja, sih, Ka. Ngapain kayak gini?”


“Lagian lo ngapain? Gue deketin malah kucing-kucingan gini.”


“Tatapan kamu itu bikin aku takut tahu, nggak?”  Sebal. Myria naik ke ranjang dan membuang bantal satu demi satu. Tindakan itu makin membuat Angkasa sakit perut gara-gara terus tertawa.


“Turun nggak! Kalau nggak, gue terkam sekarang!” perintah Angkasa karena sudah lelah. Dia melipat dua tangan ke perut, sementara Myria makin memelototi dengan wajah tak kalah sangar.


Untuk kesekian kali, Angkasa tertawa karena menggoda Myria. Perutnya makin sakit andai terus seperti itu. Merasa tak kuat lagi, dia mundur dan berjalan menuju kursi belajar yang memiliki posisi tak tentu arah. Padahal, tadi hanya ingin dekat, tetapi mengapa Myria demikian? Sungguh di luar perkiraan.


“Sini, My.” Perintah Angkasa kembali mengudara. Dia sudah membelakangi ranjang dan menghadap layar laptop sang istri. Deretan huruf dibaca pelan hingga menghabiskan baris demi baris, lalu mulutnya spontan berujar, “Kenapa lo nggak nulis kisah kita aja, My? Nikah muda. Terus endingnya punya banyak anak.”


“Iya. Besok. Kalau ini udah tamat. Aku jadiin kamu tokoh fiksi badboy, terus meninggal biar sad ending.” Myria menjawab malas. Dia berjalan perlahan sembari memunguti bantal yang berserak di lantai akibat ulahnya. Kemudian, menyusul Angkasa.


Angkasa tertawa pelan. Entah apa yang terjadi pada cowok itu sehingga hari ini banyak sekali tertawa. Dia menarik pinggang Myria, lalu mendudukkan sang istri ke pangkuan. “Diem!” ancamnya saat Myria berteriak dan hendak berdiri.


“Gue tahu, tapi gue pengin mangku elo.” Bibir Angkasa menyeringai, Myria sampai bergidik melihatnya. Tidak peduli sikap istrinya, pemuda itu justru mengeratkan lilitan tangan ke pinggang makin kuat.


“Senyum kamu nyebelin, Ka.”


“Mau nyebelin atau apa pun, gue tetep suami lo.”


Bibir Myria mengatup. Dia tak lagi mendebat karena dirasa percuma. Saat mode seperti ini, tenaga suaminya terlalu banyak untuk adu mulut. Mana mungkin Myria menang?


“My.”


“Um?” Tatapan Myria sepenuhnya mengarah pada Angkasa. Memiliki suami yang cukup rupawan, ada saat gadis itu seperti tersihir tanpa sadar.


Angkasa ganti menyulam senyum tipis. Saat Myria terdiam seperti ini, justru kesempatan emas bagi pemuda itu untuk melihat wajah istrinya lebih intens. Dia sengaja tak lekas melanjutkan pembicaraan karena masih ingin terus memandang.


“Ah, astagfirullah.” Tangan refleks mengusap wajah saat tersadar. Myria menunduk dan tak berani menatap suaminya lagi. Dia ingin turun, tetapi Angkasa tetap tidak mengizinkan.

__ADS_1


Tak hanya melarang turun, Angkasa melarang pula Myria menunduk terlalu lama. Pemuda itu menaikkan dagu istrinya dengan satu tangan. “Lihat gue.”


Pelan-pelan, Myria mengangkat wajah. Dia ingin melengos, tetapi selalu dihalangi. Angkasa belum puas memandangi.


“My.”


“I-iya.”


“Lo cinta nggak sama gue?”


Pertanyaan seperti itu langsung menghilangkan kesadaran. Myria membeku tanpa bisa menjawab. Beberapa bulan bersama hingga akhir semester, baru kali ini suaminya bertanya soal perasaan.


Tak kunjung dapat respons, Angkasa masih setia menunggu. Dia balas tatapan Myria dengan begitu dalam seolah ingin menyampaikan perasaan yang tidak bisa disebut hanya sekadar teman seperti dahulu.


Udara yang dihasilkan pendingin ruangan menerbangkan tirai jendela dengan pelan, mengantarkan sunyi dalam ruang. Dua pasang indra penglihatan Myria dan Angkasa masih saling mengunci. Tanpa diminta, aktivitas mereka mengantarkan gelombang-gelombang ombak perasaan hingga menimbulkan gemuruh di dada.


Detik demi detik terlewat, perlahan naluri lelaki yang dimiliki bangkit. Angkasa mendekatkan wajah, lalu bibirnya mendarat di bibir sang istri tanpa izin.


Bola mata Myria langsung membulat penuh. Dia ingin mendorong Angkasa, tetapi tangan di dada sudah dicekal lebih dahulu. Suaminya itu ganti menahan kepala bagian belakang, menjadikan dirinya sulit bergerak. Mungkin pasrah adalah pilihan paling tepat menurut Myria. Toh, tindakan tersebut tidak melahirkan dosa.


Pelan-pelan Myria menerima semua pemberian sang suami. Dia hanya menurut tanpa menolak lagi. Saat Angkasa memperdalam ciuman, gadis itu berusaha sebisa mungkin mengimbangi karena ini pengalaman pertama.


Langit gelap dengan kerlip bintang di langit, suara hewan malam di luar menjadi saksi aktivitas dua insan yang ada di kamar itu. Memang tidak ada kejelasan mengenai perasaan masing-masing, tetapi tindakan itu tak pantas lagi jika hanya disebut sebagai teman.


.


.


......................


Note:


Kak, kalau bab ini vulgar. Tegur aku di komen, yak🫰

__ADS_1


__ADS_2