
“Pa, Ma, aku dan Myria ingin bicara serius.”
Tuan Aji yang sedang menikmati tontonan di televisi menoleh pada sumber suara. Ternyata, putra bungsunya datang dari arah tangga. Pria itu mengecilkan volume televisi, lalu memerintah Angkasa duduk.
“Kamu bilang ingin bicara serius bersama istrimu. Mana dia?”
“Masih di dapur sama Mama. Sebentar lagi ke sini.”
Benar yang dikatakan Angkasa. Tidak sampai satu menit, Myria muncul bersama Nyonya Nasita. Dua perempuan itu membawa nampan berisi minuman berbeda. Dua cangkir teh hijau di tangan Nyonya Nasita, sementara Myria membawa dua gelas susu.
Angkasa menerima pemberian istrinya, lalu meminta Myria duduk.
Tuan Aji yang kini duduk bersama Nyonya Nasita memandangi anak dan menantunya. Beliau masih tidak habis pikir putra yang tinggal satu-satunya itu sudah menikah.
“Kerjaan Papa banyak hari ini?” Daridapa diam dan suasana sepi, Nyonya Nasita memulai pembicaraan. Jarang sekali keluarga itu berkumpul lengkap seperti sekarang.
“Lumayan. Tapi masih bisa diatasi. Dua bulan lagi waktunya RUPS. Apa Mama ingin hadir dan bertemu para pemegang saham yang lain?”
Nyonya Nasita menyeruput teh buatannya dengan pelan. Wanita bertunik hijau muda itu menggeleng. “Tidak. Mama leibh senang diam di butik daripada duduk beberapa jam hanya untuk mendengarkan. Semua perkembangan saham, Mama serahkan pada Papa.”
Tuan Aji tersenyum mendengar respons istrinya. Pria itu mendekatkan kepala, lalu menghadiahi Nyonya Nasita dengan kecupan lembut di kening.
Angkasa memilih pura-pura tidak lihat. Sudah terlalu kenyang selama ini melihat keromantisan dua orang tuanya. Sementara itu, Myria justru ikut tersenyum melihat interaksi dua mertuanya. Gadis itu menebak bahwa sikap lembut Angkasa mungkin menurun dari Tuan Aji.
“Kasa, kamu bilang ingin bicara serius.”
Dapat teguran dari sang ayah, Angkasa baru mau menoleh. Dia mencondongkan badan sedikit. “Biar Myria aja yang ngomong, Pa.”
Alis terangkat satu sisi, Tuan Aji ganti memindah pandangan pada sang menantu. “Kenapa, Myria?”
Segelas susu yang baru terminum seperempat gelas itu dikembalikan Myria ke meja. Dia menarik napas sesaat sebelum bicara. “Papa, Bunda, Myria sudah bertemu dengan ayah kandung Myria.”
__ADS_1
Tuan Aji dan Nyonya Nasita tertegun beberapa detik. Mereka tentu saja kaget dapat kabar demikian.
“Bertemu ayahmu? Di mana, Sayang?” Nyonya Nasita yang tak sabaran segera meluncurkan pertanyaan. Bagaimana pun juga, Myria sekarang ikut menjadi tanggung jawab keluarga Sastra karena telah menikah dengan Angkasa.
“Eum ….” Myria menjawab hati-hati. “Itu, Bunda. Ketemu di rumah sakit waktu Kasa kena musibah.” Gadis dengan rambut panjang yang tergerai malam ini itu mulai menceritakan semua yang telah dilalui bersama Tuan Tirta. Mulai dari perjumpaan hingga tes DNA yang menyatakan dia memiliki hubungan darah.
Tanggapan Tuan Aji dan Nyonya Nasita antara percaya dan tidak. Ingin bahagia mendengar kabar dari sang menantu, tetapi khawatir pula andai itu hanya manipulasi seseorang. Akhrinya, Tuan Aji berujar, “Kamu yakin dia ayahmu, Myria?”
Myria mengangguk sekali. “Iya, Pa. Semua hal yang beliau ceritakan, mirip dengan cerita mendiang Ibu.”
“Aku selalu menemani Myria, Pa, Ma.” Angkasa turut meyakinkan. “Beliau orang baik, kok. Kemarin sore baru juga ketemu, lalu beliau bilang ingin bertemu Papa sama Mama kalau ada waktu.”
“Nak.” Nyonya Nasita menjeda obrolan sesaat. Wanita itu menoleh pada sang suami seakan-akan bicara melalui sorot matanya. “Bukannya Papa atau Mama tidak percaya dengan cerita kalian. Papa dan Mama hanya takut ada orang yang berniat tidak baik. Tinggal kalian anak-anak di keluarga ini, kami berharap kalian bisa hati-hati di luaran sana.”
Myira menunduk lesu. Dia paham maksud mertuanya. Namun, jujur saja, Myria akui bahwa bersama Tuan Tirta tidak sekalipun pikiran buruk menghantui. Hal yang dirasakan Myria justru rasa hangat layaknya api unggun di atas gunung.
“Terus gimana, Ma, Pa? Mama sama Papa nggak mau nemui ayahnya Myria?”
Pria berkaus biru tua itu berdehem, lalu menjawab pertanyaan putranya, “Akhir pekan ini, undang beliau kemari untuk makan malam.”
Senyum merekah di bibir Myria. Angkasa yang ada di sampingnya turut melengkungkan bibir. Dua anak muda itu mengangguk bersama dan mengucap terima kasih.
Akhir pekan yang ditunggu tiba. Nyonya Nasita telah sibuk sejak siang menyiapkan semua keperluan untuk menyambut besannya dibantu Myria yang kebetulan libur.
Selepas isya, semua makanan telah siap di meja makan bersama alat-alat makan. Seharian penuh para pekerja di kediaman Sastra begitu sibuk. Mereka semua tahu jika sang majikan akan menerima tamu penting.
“Kamu tidak salah rumah, Dan?” Tuan Tirta yang sudah ada di depan gerbang rumah Tuan Aji memastikan. Pria itu memicing saat melihat nomor rumah yang menempel di dinding pagar.
“Benar, Tuan.”
“Apa dunia sedang bercanda? Mana mungkin putriku tinggal di sini?”
__ADS_1
Alis Daniel mengerut. Pria itu melirik spion atas kepalanya dan memperhatikan ekspresi sang bos. “Apa ada masalah, Tuan?”
Bukannya menjawab pertanyaan sang asisten, ekspresi wajah Tuan Tirta menggelap dengan dua mata menatap intens ke depan. Ayah kandung Myria itu mendecih, lalu memberi instruksi, “Kita ke dalam, Dan.”
Gerbang dibukakan oleh sang penjaga. Mobil hitam metalik itu memasuki halaman luas hingga berhenti di depan teras.
Tuan Tirta turun setelah merapikan jas tanpa menunggu Daniel membukakan pintu. Beliau terlihat begitu bersemangat di mata asistennya.
Bel ditekan, lalu tidak menunggu lama pintu terbuka dari dalam.
“Ayah.” Myria menghambur ke pelukan. Dia sangat antusias menyambut orang yang sejak tadi ditunggu.
Tidak hanya Myria, ternyata di ruang tamu sudah duduk Angkasa dan sang ibunda. Kemudian, tersusul Tuan Aji yang langsung keluar kala mendengar bel berbunyi.
“Ayo, masuk, Yah.” Masih dengan menggandeng tangan Tuan Tirta, Myria membawa ayahnya itu duduk di sofa. Daniel di belakang mengikuti tanpa bicara apa pun.
Angkasa menyalami Tuan Tirta dan Daniel bergantian, sementara ibunya hanya tersenyum lalu mengangguk. Tuan Aji tak mau kalah, beliau berdiri dan menjabat tangan hendak merangkul pria yang sekarang menjadi besannya itu.
Akan tetapi, ada yang salah menurut Tuan Aji saat Tuan Tirta membalas pelukan dan menepuk punggung. “Hidupmu terlihat sangat bahagia, Aji Laksana,” kata Tuan Tirta dengan nada dingin.
Pria beranak dua itu segera menarik diri dan memperhatikan Tuan Tirta. Saking seriusnya, kening Tuan Aji sampai membentuk lipatan berkali-kali. “Anda mengenal saya?”
Wajah Tuan Tirta tak lagi memunculkan senyum. Pria itu menatap tajam dan menarik Myria ke pelukan lagi hingga membuat semua orang bingung.
“Tentu saja aku kenal. Bagaimana aku lupa dengan anak wanita jallang sepertimu.”
“Tuan.” Daniel menyela. Dia syok mendengar tuannya tiba-tiba bersikap tidak sopan pada orang yang baru pertama kali ditemui.
“Diam, Dan. Aku tidak butuh saranmu untuk menghadapi sampah seperti dia.”
Tuan Aji dan Nyonya Nasita masih dalam kondisi bingung dan kaget, sementara Angkasa sudah maju dan mendorong Tuan Tirta. “Ayah Mertua bicara apa? Dia papaku, tidak seharusnya Ayah Mertua bilang begini.”
__ADS_1
“Jangan memanggilku Ayah Mertua lagi. Aku tidak sudi memiliki menantu sepertimu!”