
Satu sekolah heboh. Apalagi siswi pengagum Angkasa. Barisan gadis-gadis cantik itu bereaksi macam-macam atas apa yang terlihat pagi tadi. Beberapa dari mereka tidak terima, iri, sedih dan hampir menyerah untuk mengejar Angkasa. Pemuda impian ratusan siswa itu mematahkan hati banyak orang.
Kabar kebersamaan Angkasa dan Myria begitu santer di kalangan siswa seluruh lapisan tingkat kelas. Cukup seorang saja yang memergoki keduanya di parkiran, tetapi buntut dari pembicaraan itu sangat cepat menyebar.
“My, apa yang kamu lakuin? Kenapa bisa-bisanya bareng Kasa? Aku, kan, udah bilang buat jauhin dia.” Berbeda dari biasanya yang bicara meledak-ledak, Friska saat ini lebih memlih menyampaikan kekhawatiran dengan nada pelan. Setengah frustrasi dia rasakan untuk menasihati sahabatnya.
Myria mengatupkan bibir. Dari sorot mata yang ditunjukkan sahabatnya, gadis itu tahu kekecewaan yang dirasakan Friska. Namun, tetap saja dia bingung menyikapi. Satu sisi Friska demikian karena sayang, tetapi di sisi lain, perintah suami selama tidak buruk adalah wajib baginya.
“Fris, aku ….” Mungkin sudah saatnya Myria mengakui status hubungannya dengan Angkasa bukan sekadar majikan dan pekerja. Gadis itu mencoba menata hati dan mengumpulkan niat untuk mengungkapkan kenyataan pada Friska seorang, dengan tujuan agar sahabatnya tidak terus menerus khawatir. “Sebenarnya aku sama Kasa ….”
Belum selesai pengucapan kalimat, bel istirahat berbunyi. Sorakan teman-teman di kelasnya, membuat fokus Myria dan Friska pindah.
Sakti berteriak dari bangkunya duduk. Pemuda itu mengingatkan pada teman-teman sekelas untuk traktiran sesuai janjinya kemarin. Dia tersenyum bangga saat dapat pujian dari beberapa siswa, lalu segera beranjak dan ke kantin.
Bangku duduk memang tidak berada di deretan yang sama, tetapi Sakti sengaja berputar dan menghampiri gadis pujaan. Dia berhenti tepat di samping kursi Myria sekalipun Angkasa masih ada di sana. “My, ayo ke kantin.”
Friska mendelik. Perkara Angkasa belum selesai, kini sudah muncul masalah baru berasal dari Sakti. Ingin sekali dia basmi para cowok yang ada di sekitar sahabatnya dengan obat serangga.
“Bos yang hari ini nraktir.” Friska sengaja berkata sinis. Wajahnya kaku karena geram sendiri melihat para pengagum Myria. “Lo nggak kapok udah ditolak? Pergi, ya, pergi sendiri aja. Nggak usah ngajakin sahabat gue!”
Kemarin Sakti masih diam dan bengong begitu saja saat Myria dibawa pergi oleh Friska, tetapi kini pemuda itu tidak mau. Semalam penuh Sakti berpikir dan menyusun niat untuk menghadapi rintangan yang ada. Dia bertekad akan memperjuangkan cintanya. “Myria nggak pernah bilang dia nolak gue. Itu elo, kali, Fris.”
Friska menggeram. Dia nyaris berdiri dan menggebrak meja. Akan tetapi, dari arah belakang, Angkasa sudah berdiri dan memiting Sakti lalu membawanya pergi.
“Bro, gue!”
__ADS_1
“Nggak usah nekad deketin cewek kayak gitu.” Pitingan di leher Sakti terlepas sampai depan kelas. Angkasa ganti merangkul bahu. “Cari aja yang laen. Noh, anak-anak kelas laen banyak, adik kelas juga nggak kurang. Tinggal pilih aja mau IPA atau IPS. Mau yang aktif atau biasa aja.”
Sakti mengempas tangan Angkasa dari bahunya. Dia berhenti dan menatap sahabatnya dengan serius. “Ka, gue maunya dia. Lo harusnya dukung, kek. Bukan gini. Masih anggep gue soib lo nggak?”
Pertanyaan Sakti membuat Angkasa terperangah. Dia sudah bicara baik-baik dengan nada rendah agar tidak menyinggung. Namun, sahabatnya justru marah seperti itu. “Lo ngomong apa? Gue bukannya ….”
Ditatap heran oleh Sakti, Angkasa melanjutkan, “Bukannya nggak dukung, tapi lo lihat sendiri kalau itu cewek nggak mau.”
“Siapa yang nggak mau? Myria belum pernah bilang kalau dia nolak gue!” Sakti menukas. Dadanya telah meledak oleh bom kemarahan. Sejak pagi dia pura-pura tidak tahu perkara gosip yang beredar mengenai kebersamaan Angkasa dan Myria karena beranggapan itu hanya kebetulan. Sakti mengenal bahwa sahabatnya suka menolong.
Akan tetapi, melihat sikap Angkasa saat ini, presepsi Sakti berubah dan menyimpulkan jika sahabatnya itu diam-diam turut mengejar Myria. Secara tidak langsung, Angkasa menikung perempuan incarannya. Tentu sulit bagi Sakti menerima itu sekalipun dia begitu akrab dengan Angkasa.
Memahami kondisi memanas dan akan jadi perhatian siswa lain, Angkasa mengalah. Dia membuang napas pelan. “Terus mau lo gimana?”
Ketegangan Sakti mengendur. Pemuda itu memutar badan dan melanjutkan langkah ke kantin. Angkasa di sampingnya mengikuti. “Nggak banyak rencana sementara ini. Gue cuma mau pendekatan aja sama dia. Lagian, nggak lama kita ujian. Dia pasti fokus belajar.”
Tidak ada lagi pembicaraan antara Sakti dan dirinya sepanjang jalan menuju kantin. Maka dari itu, Angkasa mencoba mengecek ponsel untuk mengirim pesan pada Myria. Tidak ingin menimbulkan curiga, dia mengirim pesan yang sama pula pada Friska.
“Susul gue ke kantin.”
Keseriusan Myria menghadapi Friska teralihkan oleh getaran ponsel. Gadis itu membuang muka dan merogoh saku.
“My, Kasa ng-chat gue, nih. Kita disuruh ke kantin.”
“Oh, ya, udah, ayo.” Kesempatan kabur dari memberi penjelasan tidak ingin Myria sia-siakan. Dia berdiri dan segera ke kantin bersama Friska.
__ADS_1
Sesuai bayangan di benak Myria, kantin lebih penuh dari biasa karena semua makan di tempat tersebut.
“Myria, sini!”
Teriakan Sakti langsung terdengar oleh Friska maupun Myria. Dua gadis itu mau tidak mau datang karena bangku lain penuh.
Langkah Myria dan Friska terayun pelan sebelum akhirnya sepasang mata mereka bertumbukkan dengan Erika dan Risti di meja yang sama.
“Kamu nggak pa-pa ada mereka?” Friska berbisik singkat. Dia genggam tangan Myria dengan lembut.
Bibir Myria terkatup. Matanya memejam sebentar lalu membuang napas perlahan dari mulut. Dia mengangguk. “Nggak pa-pa.”
Meja panjang berisi delapan bangku berhadapan itu memang tersisa dua kursi kosong yang ada di tengah. Sakti sengaja menyingkirkan anggota gengnya agar bisa duduk bersama Myria. Tadi, hampir saja Angkasa duduk di sebelahnya, tetapi pemuda itu melarang. Akhirnya yang ada, dia di ujung kanan sedangkan Angkasa di ujung kiri.
“Kasa, geser sana.” Friska mendorong pelan bahu Angkasa agar pemuda itu pindah di dekat Sakti.
Angkasa mendongak, lalu menoleh pada Sakti yang ada di ujung.
“Eh, Fris, duduk ajalah di tengah sini. Kasa udah mau makan itu.” Sengaja Sakti beralasan. Susah payah dirinya mengatur rencana, tetapi lagi-lagi Friska mengacau.
“Modus lo, ya. Biarin aja Kasa deket lo, gue di sini sama Myria.”
“Myria deket gue juga nggak pa-pa, kali, Fris.”
“Enak aja ….”
__ADS_1
“Udahlah, keburu bel.” Myria jengah melihat Friska dan Sakti berseteru. Akhirnya gadis itu memilih sembarang duduk tepat di samping Angkasa. Dia tidak sadar jika Erika di depannya sudah menatap penuh kebencian.
.