Menikahi Teman Kelas

Menikahi Teman Kelas
Ch. 50: Khawatir


__ADS_3

Angkasa segera berlari setelah mendengar Myria dibawa ke ruang BK. Dia sempat mencari-cari istrinya kala pertandingan usai. Pemuda itu melangkah lebar dan mengabaikan teman timnya yang sedang sibuk foto bersama. Pikiran cowok itu, ingin segera tahu kondisi Myria.


Koridor demi koridor terlampaui, Angkasa makin mempercepat langkah saat ruang BK mulai terlihat. Dia langsung menghentikan langkah kala pintu kayu dengan pelitur cokelat itu terbuka.


“My.” Angkasa langsung mendekat saat tahu istrinya yang keluar pertama kali. Dia lupa bahwa sekarang masih ada di lingkungan sekolah dan akan mengundang perhatian banyak orang.


Akan tetapi, beruntungnya sebelum kerumunan kembali terjadi, Friska segera maju dan memisah. Dia menepis tangan Angkasa yang hendak menyentuh Myria.


Tatapan tajam dari Friska menyadarkan, Angkasa mundur kembali. “Ada masalah apa?” Meski sudah menjaga jarak, tetapi nada bicara yang timbul tenggelam membuat orang sekitar tahu betapa khawatirnya Angkasa. Termasuk Erika yang baru keluar dari ruangan BK.


“Aku mau pulang.” Myria menjawab pelan. Dia tidak bersemangat apa pun lagi dan hanya ingin pergi saat ini. Apalagi menanggapi Angkasa, sungguh, Myria begitu malas. Sebenarnya, wajar atau tidak jika memusuhi Angkasa saat kondisi seperti ini?


Myria tahu itu salah. Harusnya dia terima risiko menjadi istri dari pemuda seperti Angkasa. Akan tetapi, kali ini hatinya tak mengelak jika sedikit kesal pada sang suami. Semua kekacauan terjadi lantaran ketenaran pemuda itu, bukan?


“My.” Diabaikan Myria, Angkasa tahu ada yang tidak beres. Mana pernah istrinya marah kalau bukan hal yang serius atau keterlaluan. Buru-buru dia hendak mengejar, tetapi Erika secara lancang mencekal lengan dan menahan.


“Gimana hasilnya? Kamu menang?” Erika seolah tidak mengalami masalah apa pun. Dia masih bisa tersenyum centil dan menggoda Angkasa. Padahal, jelas-jelas dirinya tadi keluar dari ruangan yang sama seperti Myria.


Segera Angkasa memutar tubuh. Dia memberi tatapan nyalang pada mantan kekasihnya itu. Rahang pemuda itu mengerat dengan gigi geraham yang saling menabrak saking tidak sukanya dipegang sembarangan. “Singkirin tangan lo dari gue!”


Bukan Erika yang takut, melainkan Risti yang mundur. Gadis itu baru ini melihat kemarahan Angkasa secara nyata. Dahulu, dia hanya mengandalkan curhatan sahabatnya, tetapi tidak terbayang secara gamblang.

__ADS_1


Tidak ingin terjadi hal yang fatal, Risti menarik lengan Erika perlahan. Dia berbisik, “Rik, kayaknya ini bukan waktu yang tepat buat ngomong sama Kasa.”


Erika hanya melirik Risti sebentar, lalu kembali menatap Angkasa yang sudah mulai berjalan meninggalkan. Dia berdecak dan urung mengejar. “Apa, sih, istimewanya cewek miskin itu? Cantikan gue ke mana-mana.”


Langkah Angkasa diperlebar hanya untuk mengejar Myria. Dapat penolakan dari istrinya, tidak mengurungkan niat pemuda itu untuk tahu problematika yang dihadapi.


“My, tunggu gue.” Angkasa memblokir jalan. Masih dengan memakai kaus olahraga, pemuda itu meminta penjelasan. “Bilang sesuatu, My.”


Tatapan yang sejak tadi tak acuh, kini mulai tertuju pada orang di depan. Myria mendongak. “Aku mau pulang.” Ternyata, kata-kata yang sama terucap lagi.


“Gue anter.”


“Enggak!”


Tatapan Myria meruncing. Wajah cantiknya berubah sengit. Dia sedang menahan kecamuk rasa. Hati gadis itu terasa diaduk sekarang. Ingin marah, kesal, dan sedih tengah bercampur jadi satu seperti ingin meledak.


Myria mendorong Angkasa dengan sekuat tenaga hingga membuat suaminya mundur. Dia berteriak kencang, “Jauhin aku!” Setelah itu, dia berlari.


“My!” Friska yang sejak tadi menemani ikut kaget. Dia dan Angkasa ingin mengejar, tetapi berhenti sebentar. “Kasa!” Tangan mencengkeram, Friska menggeleng. “Biarin gue yang nenangin dia.”


“Tapi gue ....”

__ADS_1


“Gue tahu lo khawatir. Tapi kekhawatiran lo nggak tepat waktu kayak gini. Gue anter dia pulang, lo bisa susulin pakai motor di belakang.” Belum sempat dijawab, Friska sudah pergi. Dia tinggalkan Angkasa yang masih ada di area sekitar ruangan guru.


Tidak ingin membuang banyak waktu karena terus kepikiran, Angkasa bergegas mengambil tas dan seragamnya. Sembari berjalan, dia tak lupa berkirim pesan pada Friska agar menemani Myria dan menunggu hingga dirinya tiba di rumah.


“Kasa, anak-anak mau ngebakso di depan buat rayain kemenangan kita. Lo ikut, kan?” Satu pemuda yang satu tim dengan Angkasa menyambut. Memang benar, Sakti mengajak semua anggota dan teman kelasnya untuk makan bersama sebagai perayaan. Sudah menjadi kebiasaan Sakti menraktir orang lain kala dapat kemenangan baik tanding maupun balapan.


Angkasa tak menggubris. Dia segera mengemas seragam dan menggendong  tasnya lalu keluar.


“Woi, Ka! Ke mana lo?”


Teriakan itu bagaikan angin. Saat ini, hanya Myria, Myria, dan Myria yang ada di pikiran Angkasa. Tidak ada yang lain, karena yang lain tidak penting.


Melihat kepergian Angkasa, Sakti yang baru datang terus menaruh perhatian. Selepas foto bersama di lapangan tadi, pemuda itu mampir ke kamar mandi guna membersihkan diri. Dia mendekat pada teman-temannya. “Kenapa si Kasa?”


Pemuda tadi mengedikkan bahu. “Balik kali dia. Nggak ngomong apa-apa, nyelonong aja itu anak.”


...***...


Motor terparkir secara asal di depan teras. Pak penjaga yang membukakan gerbang sampai terheran melihat anak majikannya tidak menyapa dan terkesan buru-buru. Namun, itu bukan urusan beliau, sehingga tidak ada wewenang bertanya.


“My!” Teriakan Angkasa menggema di ruang tamu. Ternyata, tidak didapati siapa pun di ruangan itu kecuali keheningan.

__ADS_1


.


__ADS_2