Menikahi Teman Kelas

Menikahi Teman Kelas
Ch. 42: Ujian Semester


__ADS_3

Ujian semester hari pertama dimulai. Semua siswa duduk teratur sesuai nomor peserta masing-masing yang telah ditetapkan oleh para guru.


Angkasa duduk di belakang Myria. Benar-benar kebetulan absensi dua anak manusia itu berurutan, dengan Myria lebih dahulu namanya tercantum setelah itu baru Angkasa.


Lembaran soal ujian terbagi. Semua siswa menerima dan segera mengerjakan saat guru selesai memberi tahu durasi waktu pengerjaan.


Ujian Bahasa Indonesia, sepertinya tidak terlalu membingungkan apalagi menyulitkan bagi siswa karena materi tidak serumit Matematika atau Fisika yang perlu banyak rumus.


Sesuai omongan Angkasa kemarin malam, pemuda itu mengerjakan soal ujian dengan tenang. Matanya terus menerus fokus ke lembar soal, lalu mencoret-coret lembar jawaban. Dia ingin membuktikan bahwa semester ini, akan masuk juara.


Sementara itu, tidak berbeda dari Angkasa, Myria sama seriusnya. Gadis bermata bulat dengan alis panjang dan lentik itu selalu tenang dan tidak ingin buru-buru. Dia berusaha memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Baik ujian semester maupun hanya ulangan harian, tetap saja Myria berusaha maksimal.


"Waktu kalian sudah terlewat dua puluh menit." Guru pengawas memperingati. Dua mata beliau mengawasi dari ujung kanan ke ujung kiri, dari belakang ke depan dan sebaliknya sampai semua siswa tersapu.


Ketika pengawas ujian sekaku itu, para murid yang tidak belajar hanya bisa cemberut dan berulang kali mendesah berat. Bahkan, saking frustrasinya, ada yang telah pasrah untuk remidi.


"My, nomor tiga puluh, dong."

__ADS_1


Myria diam. Dia tidak berani memberi jawaban sekalipun sudah mengerjakan. Bukan bermaksud pelit, tetapi andai dirinya menolong teman dalam hal seperti itu, sama saja membuat seseorang enggan berusaha.


"My, Myria!" Siswa tadi kembali memanggil. Suaranya sengaja diperkuat sedikit agar Myria dengar.


Akan tetapi, Myria masih enggan membantu. Dia menunduk sembari pura-pura memeriksa jawaban-jawaban yang telah ditulis.


Tidak puas dengan sikap Myria, teman kelas tadi hendak berdiri dan menggoyang bangku yang diduduki Myria. Namun, belum sempat mengangkat bokong, Angkasa di sebelah sudah melempar pulpen.


Pemuda itu menoleh, Angkasa langsung memelototinya dan mengangkat tinju sebatas hidung. Tentu saja pemuda itu geram, tetapi dia sadar diri bahwa dirinya tidak lebih kuat daripada Angkasa.


Jam terus berputar hingga ujian terselesaikan. Semua siswa bersorak kala mendengar bel pulang.


Semua buku telah masuk ke tas. Myria berdiri dan meninggalkan tempat tanpa menyapa. Angkasa yang melihatnya hanya bisa mengembuskan napas pasrah.


"Fris, udah belum?" tanya Myria begitu sampai di tempat sahabatnya. Dia duduk di bangku sebelah yang telah kosong.


"Udah, ayok!"

__ADS_1


Tas telah ada di tangan. Badan sudah hendak berdiri, tetapi tiba-tiba Friska dan Myria dikagetkan dengan kemunculan Sakti.


Pemuda itu berdiri tepat di hadapan Myria dan Friska. Kemudian, dia mengadang dengan rentangan tangan.


"Gimana ujian lo hari ini, My?"


Bibir Myria menipis. Dia sebenarnya ingin segera pulang dan tidak perlu basa basi pada siapa pun. Namun, mengapa harus muncul sahabat Angkasa itu?


"Ngapain nanya-nanya? Kepo banget lo!" Selalu, Friska yang menjawab ketus. Perkara sahabatnya sudah jadi istri Angkasa atau belum, dia selalu terdepan untuk menyingkirkan cowok-cowok yang hendak mendekati Myria. Friska tidak rela sahabatnya disakiti apabila mengenal cinta.


Sakti mengabaikan Friska. Dia bergeser tepat di depan Myria sembari mengulas senyum semanis gula-gula.


Dengan bibir yang masih terangkat tinggi, Sakti bicara dan menyahut tangan Myria tanpa permisi.


Angkasa yang sejak tadi di pojokan dan jadi pemerhati tingkah sahabatnya dalam menggoda Myria, seketika langsung memelotot dan melangkah lebar. Hatinya memanas, detik berikutnya telah menyala kobaran api yang sulit dikendalikan. Dia datangi Sakti dan langsung menarik sahabatnya itu kuat-kuat.


"Nggak inget dosa lo pegang-pegang tangan cewek sembarangan?" Teriakan Angkasa menggema di kelas. Beberapa siswa yang masih tinggal langsung menoleh.

__ADS_1


"Nggak usah sok suci lo, Ka. Lagak lo ngomongin dosa tiap gue deketin Myria, padahal lo nggak beda jauh dari gue!"


Bugh!


__ADS_2