Menikahi Teman Kelas

Menikahi Teman Kelas
Ch. 46: Pengumuman Remidi


__ADS_3

Teriakan histeris para siswa di lapangan makin membuat suasana membara. Para pemain basket yang jadi perwakilan kelas masing-masing sesekali menoleh ke arah penonton. Lapangan berukuran 28x15 meter itu terasa sesak karena siswa saling berdesakan. Tak heran itu semua terjadi karena tidak ada lagi pelajaran atau aktivitas lain selain class meeting dan remidi bagi yang belum lulus ujian.


“My, udah lihat pengumuman remidi Fisika belum?” Friska menyenggol lengan Myria. Dua gadis itu baru ini ikut bergabung di lapangan karena kelas mereka akan bertanding.


“Belum ada tadi di papan pengumuman. Mau cek lagi?”


“Ayo!” Friska menarik pergelangan Myria. “Aku khawatir, jangan-jangan namaku masuk daftar remidi.”


“Emang kemarin nggak bisa jawab?”


Friska berhenti. Dia menoleh sepenuhnya pada Myria sembari menyengir dan garuk-garuk kepala meski tidak gatal. “Ada beberapa yang aku nggak bisa. Asal jawab aja, udah! Daripada kosong.”


Sepasang mata Myria membulat. Tidak ada pikiran bahwa Friska bisa seceroboh itu mengerjakan soal. “Kok, bisa? Kamu nggak belajar?”


Napas besar terembus dari mulut Friska. Wajah gadis itu sedikit frustrasi, “Aku nggak fokus. Susah banget ngapalin rumus. Mau nanya kamu, jauh banget lagi bangkunya. Kamu, mah, enak, malah deketan sama Kasa.”


Lidah Myria berdecak mendengar penilaian sahabatnya. Friska tidak tahu jika selama ujian Myria justru didiamkan Angkasa berhari-hari. “Apa bedanya? Kasa sikapnya kayak gitu, lagian nggak pernah contekan aku sama dia. Parahnya lagi, dia marah waktu ulangan kemarin.”


“Marah kenapa?”


“Marah gara-gara Sakti. Kamu inget waktu Sakti nyamperin kita? Nah, waktu itu-tu, Kasa ngambek terus cuek banget sama aku. Pusing tahu, tiap dia gitu.”

__ADS_1


“Emang sering, ya?” Lupakan Fisika sejenak, Friska kini lebih tertarik dengan curahan hati sahabatnya. Kaki terus melangkah menuju papan pengumuman di depan ruang guru, tetapi telinga gadis itu siap mendengar apa pun yang diceritakan Myria.


“Enggak juga, sih. Ada waktu tertentu aja kayak gitu. Tapi nggak lama biasanya. Baru kemarin itu doang, hampir seminggu dia kayak es batu.”


Friska menggaruk kepala lebih sering. Dia coba membayangkan berumah tangga di usia muda. Mungkin saja keadaannya tidak akan lebih baik dari yang dihadapi Myria. Dia sadar bahwa kesabarannya seperti selembar tisu dibagi dua. Sangat tipis.


Maka dari itu, tidak heran lagi jika Friska mudah meledak dan marah. Terbukti beberapa kali, saat sahabatnya diganggu, dia yang membalas.


“Mau ngibarin bendera putih kayaknya kalau itu aku yang ngalamin, My.” Tanpa sadar, Friska bergumam. Lamunannya menghasilkan tindakan di luar kendali. Myria di sampingnya tentu saja heran dan bertanya-tanya.


Alis Myria menaut. Dia lihat sahabatnya yang berhenti bergerak. “Hei, Fris!”


“Kamu ngehalu, ya?”


Lagi-lagi Friska tersenyum lebar dan membuat sahabatnya menghela napas. Jangan ditanya, Myria hafal tentang perilaku Friska yang konyol seperti itu.


“Udah, ah. Ayo, fokus. Berdoa juga, moga aja nggak remidi.”


Dua gadis itu berjalan beriringan. Sampai di depan papan pengumuman, sudah banyak siswa sesama kelas XII yang telah berkumpul di sana. Sang guru baru saja masuk kembali ke ruangan setelah menempel selembar kertas.


Myria dan Friska bergegas menerobos di antara banyaknya siswa.  Dua pasang mata mereka membaca beberapa nama kelas XII jurusan IPA yang masuk remidi.

__ADS_1


Jantung Friska berdetak. Dia mundur dengan menutup mulut. “My, aku gagal,” ucapnya sedih dengan wajah tertekuk.


Myria segera menarik diri dari kerumuman. Dia peluk Friska dan mengusap punggung dengan lembut. “Nggak, Fris. Kamu enggak gagal. Kamu masih ada kesempatan perbaiki lagi. Jadwalnya lusa, aku temenin kamu. Aku tunggu kamu di depan kelas nanti pas remidi, ya?”


Meski sedih, tetapi apa boleh buat. Friska harus menjalani remidi agar lulus ujian. Ibunya pasti marah besar andai tahu nilainya tidak memenuhi standar. Daripada itu terjadi, lebih baik Friska menjalani prosedur yang telah ditetapkan.


“Udah cukup belum sedihnya?” Myria bertanya setengah menggoda. Dia tahu Friska bukan gadis yang suka larut dalam kesedihan. “Kalau udah, mending kita ke kantin cari minum. Biar adem pikiran sama hatimu.”


Friska melepas peluk. Dia mengusap sisa air mata di pipi dan mengangguk.


Kantin ternyata tidak seramai biasanya meski semua siswa sedang bebas. Sudah bisa ditebak, ke mana para siswa itu pergi.


“Kayaknya kita balik ke lapangan aja, deh, My. Anak-anak udah main ini pasti.” Friska berkata dengan langgam tenang. Kesedihannya telah pudar, lantas kembali pada kenyataan yang dihadapi saat ini.


“Ayo, kalau gitu.” Tangan Myria mengulur salah satu, sementara tangan lainnya tengah menggenggam sebotol air mineral. Dia berjaga-jaga, mungkin saja di tengah asyiknya menonton nanti kehausan.


Tidak berbeda dari Myria, Friska juga membawa sebotol air mineral. Kemudian, dia menyambut uluran tangan sahabatnya.


Dua gadis itu selalu berjalan bergandengan. Hampir ke mana pun, selalu seperti itu. Baru melangkah dua kali, tiba tiba lengan Myria disenggol dari belakang dengan gerakan cukup kuat hingga membuatnya terhuyung.


“Aduh!”

__ADS_1


__ADS_2