Menikahi Teman Kelas

Menikahi Teman Kelas
Ch. 30: Menantang Angkasa


__ADS_3

Semua pemain berhenti. Sakti beserta teman-temannya segera mendatangi dan menolong.


“Lurusin kaki lo pelan-pelan.” Aba-aba diberikan Sakti. Kemudian, dia berteriak pada teman lain yang menonton untuk mencarikan kompres batu es. Tidak berselang lama, pesanannya datang.


“Lo nggak bisa main lagi. Istirahat aja dulu sampai mendingan. Urusan pulang, gampanglah ntar.”


“Tapi kita nggak punya pemain cadangan, Bro.” Anggota lain mengingatkan. Mereka saling pandang karena bingung.


“Terpaksa cuma kita berempat yang lanjut.”


Jawaban Sakti membuat teman lain tercengang. Anggota tadi berujar, “Mana bisa menang kalau gitu?”


“Udahlah nggak perlu menang. Yang penting selesai sampai akhir.” Keputusan diambil Sakti demikian karena memang tidak ada jalan lain. Mereka tidak menyediakan pemain cadangan karena beranggapan pertandingan yang terjadi bukan kompetisi sesungguhnya.


Mau tidak mau semua lanjut. Para siswa yang menonton sejak tadi ikut menyayangkan apa yang terjadi.


“Ka, lo nggak pengin gabung? Gantiin temen lo yang jatuh itu.” Friska berceletuk. Sejak tadi dia diam dan menikmati pertandingan, sekarang baru ada suaranya.


Angkasa bergeming. Tatapannya tetap lurus ke tengah lapangan. Dia sedang mode tuli dan enggan berinteraksi.


“Dih, ini cowok.” Friska menggerutu. Padahal, bukan pertama kali diabaikan seperti itu. Bukan hanya Friska seorang, berapa banyak siswa kena mental oleh perlakuan Angkasa. Terlalu cuek dan dingin, tetapi lucunya malah digandrungi para siswi.


“Lagian kamu juga ngapain ngajak ngomong dia, Fris. Kayak nggak hafal Kasa. Giliran dicuekin, sekarang sewot.” Myria menimpali dengan nada santai. Dia memperhatikan permainan, tetapi tahu apa tingkah sahabatnya.


“Nggak asyik kamu, My.” Bola mata Friska berputar, bibirnya manyun dalam hitungan senti andai mau mengukur.


Myria menghela napas. Tidak ada yang salah dari perkataannya barusan bukan? Fakta memang demikian jika suaminya tidak bisa didekati ketika di luar rumah.


Angkasa, Myria, dan Friska saling diam lagi, sementara siswa lain bersorak menyemangati hingga riuh suasana yang ada.


Tersisa tiga menit terakhir di babak ketiga untuk menambah poin, semua pemain serius dan saling berebut bola dengan gerakan tangkas. Ketika bola melambung ke udara, salah satu siswa SMA 2 hendak menangkap, tetapi nahasnya terlempar ke arah Myria dan Friska.


Pergerakan bola terlalu cepat sehingga menyulitkan Friska maupun Myria mengelak. Dua gadis itu hanya bisa refleks memejam karena takut.  Akan tetapi, kala mata terbuka, mereka melihat Angkasa sudah lebih dahulu menangkap.


“Bisa main nggak lo?” Angkasa berkata dengan nada tegas kala pemain itu mendatangi ingin mengambil bola.


“Kalem, Ka. Hal biasa lagi kalau nggak sengaja kelempar gini.” Tanggapan teman Galang begitu santai tanpa dosa. Bukan mengucap maaf seperti harapan Angkasa, melainkan dirinya minta dimaklumi.

__ADS_1


“Hal biasa kata lo?” Angkasa meradang. “Elo aja yang main nggak ati-ati. Hampir aja kena cewek, mata lo nggak lihat?”


Intonasi meninggi dari ucapan Angkasa memancing ego pemuda tadi. Dia tidak mau kalah dan melawan, “Main nggak ati-ati gimana? Namanya juga kecelakaan. Lo kali yang nggak tahu cara main sampek ngatain gue gini.”


Perdebatan akhirnya tidak terelakkan. Kericuhan dua orang itu tentu saja mengundang tim yang menunggu di tengah lapangan datang. Sakti dan Galang berlari kecil menghampiri.


“Kenapa, Ka?” Sakti mendorong pelan sahabatnya agar tercipta jarak. Begitu pula Galang yang menarik mundur teman timnya.


“Lang, bilang sama anggota lo buat belajar lagi. Udah tahu salah bukan minta maaf malah belagu.”


“Lo yang belagu ngatain gue nggak bisa main. Kalau lo emang jago, coba lawan gue sini!” Makin panas hati teman gilang itu, dia tidak peduli atas tatapan tajam yang didapat.


Sakti berusaha menengahi, tetapi Angkasa sudah terprovokasi. “Punya apa lo nantangin gue?” kata Angkasa sembari membuang bola. Dia melepas satu tali ranselnya dari bahu kiri dan siap beradu.


“Gue ada duit pegangan lima belas juta hasil balapan. Kalau lo menang, gue berani ngasih lo itu.”


Semua orang melotot mendengar pemuda itu bicara. Galang sebagai ketua tim hendak turun tangan untuk membantu Sakti melerai perdebatan.


Akan tetapi, jiwa muda yang mudah tersulut dan menyukai tantangan memang tak mudah dipadamkan. Angkasa menyeringai. Dia melempar tas ke belakang dan mengenai Friska sampai gadis itu berteriak kesal.


“Gue terima tantangan lo!” kata Angkasa penuh keyakinan. Uang memang bukan hal suit bagi Angkasa, tetapi pemuda itu ingin memberi pelajaran.


“Ya, udah, ayo kita main semua.” Sakti berkata lantang. Lagi pula, bertambahnya Angkasa di tim akan membuka peluang menang sore ini.


Tanpa berganti seragam, Angkasa nekad ke tengah lapangan. Teriakan histeris dari para siswi yang menonton makin tidak terkendali.


“Kak Kasa, ayo semangat!” Satu suara terdekat dari Myria terdengar. Friska menoleh dan bengong sendiri melihat ekspresi adik-adik kelasnya.


Masih dengan memeluk tas Angkasa, Friska bergumam setengah sadar. “Punya pelet apa si Kasa sampai banyak fans gini.”


Myria melirik sahabatnya. “Entah. Mungkin karena cakep.”


“Cakep juga percuma kalau dingin kayak bongkahan es gitu, My. Bisa-bisa beku yang jadi ceweknya.”


Myria meringis. Mimik wajahnya terkesan aneh. Dia sendiri bingung, mengapa mau dinikahi Angkasa, padahal suaminya seperti memiliki kepribadian ganda.


“Kasa, gue dukung lo!” Teriakan ganti berasal dari arah Erika berdiri. Cewek itu berjingkrak girang dan melambaikan tangan meski yang menoleh bukan orang yang disoraki.

__ADS_1


Friska mendengkus. Dia mundur beberapa langkah. “Belum lagi mantan pacarnya itu. Nggak kira-kira, deh, My, seribet apa kalau punya hubungan sama si Kasa.”


Helaan napas keluar dari bibir Myria. Dia menggeleng pelan. Sahabatnya justru sibuk mengomel, padahal tadi bilang ingin menonton basket.  “Jangan bahas Kasa terus. Dia baik, kok, sebenarnya. Meski kadang nyebelin.”


“Banyak nyebelinnya pasti, ya?”


Tawa kecil tersulam di bibir. Myria mengusap lengan Friska menenangkan. Dia ajak kembali sahabatnya untuk melihat pertandingan daripada menggerutu tiada akhir.


Skor permainan mulai berimbang. Awalnya Sakti dan tim tertinggal cukup jauh. Namun, memang kehadiran Angkasa berefek besar bagi tim mereka. Tangan memang sempat patah tulang dan butuh waktu berbulan-bulan untuk sembuh, tetapi nyatanya tidak mengurangi keahlian Angkasa bermain.


Semua gerakan masih begitu lihai dikuasai. Mulai dari dribbling, passing, hingga shooting dilakukan Angkasa dengan baik. Cuaca cerah sore hari makin membakar semangatnya.


Siswa yang menonton tidak berhenti bersorak. Setiap bola masuk ke ring, teriakan histeris terdengar sampai memekkan telinga.


“Kak Kasa, hebat!”


“Ayo, Kak, cetak poin yang banyak.”


“Kak Kasa, I love you!”


Berbagai teriakan menghiasi sepanjang permainan. Hari mendekati senja, tetapi para siswa seolah lupa untuk pulang. Pesona Angkasa terlalu memikat sehingga mampu menyihir banyak mata.


“Fris, mau pulang?”


“Eh?” Friska tersadar. Dia menoleh ke samping, lalu menunduk. “Mana bisa pulang, ini tas Kasa masih di tangan.”


Myria merapatkan bibir tak lagi bertanya.


“Titipin ke adik-adik kelas sebelah ini kali, ya, My?” Friska mengutarakan ide. Dia pikir, memang sudah waktunya Myria pulang karena perihal pekerjaan.


“Jangan, Fris. Ntar kalau ada yang ilang, kita kena masalah.”


“Terus gimana?”


“Ya, udah, tunggu aja. Bentar lagi juga kelar.”


Di tengah pembicaraan dua gadis itu, peluit terakhir berbunyi. Semua siswa berteriak girang dan menghambur ke tengah lapangan untuk merayakan kemenangan.  Tidak perlu ditanya, pemenangnya SMA sendiri atas kehadiran Angkasa.

__ADS_1


Angkasa mendekati teman Galang tadi sembari tersenyum miring. “Gue menang.”


.


__ADS_2