
"Aku ingin pergi ke dapur membuat kan makanan, namun malah kesasar kesini dan kamu sengaja memanfaatkan kesempatan." ucap Calista memalingkan wajahnya, karena tidak ingin bersitatap dengan Leo.
"Tatap aku jika sedang berbicara."
"Aku tidak mau, lepaskan aku, Leo."
"Tidak akan."
Calista dan Leo terus saling dorong, sehingga keduanya langsung jatuh di atas sofa empuk. mata Leo membulat ketika wajahnya ditimpa dari atas oleh dua gundukan gunung kembar milik Calista. begitu juga sebaliknya, tubuh Calista jatuh tepat di bagian sensitif Leo yang sudah menegang.
"Ssssttt... posisi yang benar-benar mengairahkan, apa kamu sengaja?" goda Leo, sedangkan wajah Calista sudah seperti kepiting rebus, berusaha untuk bangkit, namun Leo sengaja menahan pinggangnya.
"Leo, jangan memutar balikkan fakta. kamu yang menarik tubuhku hingga kita jatuh dengan posisi seperti ini."
"Jangan banyak bergerak, nanti kamu menyesal jika membangunkan singaku."
"Bukankah dia sudah bangun?" sindir Calista, tersenyum sinis.
"Kamu berani-beraninya memancing ku, kamu harus bertanggungjawab, Calista."
"Tidak akan."
__ADS_1
Calista mulai cemas, melihat tatapan penuh gairah dari Leo. tanpa pikir panjang lagi sekuat tenaganya Calista melepaskan diri, lalu berlari ketempat Anak-anak bermain. meninggalkan Leo yang mengusap kasar wajahnya, kesal karena sesuatu yang sudah mendesak dibagian inti tubuhnya tidak bisa tersalurkan.
"Mommy!"
"Mommy! kenapa mommy berlari?" tanya Kenzie menatap penasaran kerah sang ibu yang terlihat pucat dengan deru nafas yang masih ngos-ngosan seolah-olah habis melihat setan.
"Mommy ngak kenapa-napa sayang, cuma tidak sabaran saja ingin bermain bersama kalian berdua." jawab Calista ikut bergabung diantara Kenzo dan Kenzie, sedangkan Sarah mengulum senyumnya, dia menduga pasti sudah terjadi sesuatu antara Calista dan Leo barusan.
Leo yang tidak bisa konsentrasi lagi karena Calista barusan, pergi menuju kamar mandi menuntaskan sesuatu yang sudah memuncak. Setelah selesai dan kembali mandi dan berpakaian rapi, Leo memperhatikan keseruan Calista dan anak-anak yang tengah bermain di taman melalui balkon kamarnya.
Senyum lepas Calista, rambut panjangnya yang tergerai di bawa angin membuat Leo terpesona. mereka berlarian di taman sambil bermain bola basket. sesekali Leo ikut tersenyum tertawa suasana indah, tanpa sadar langkah kakinya terayun menuju taman.
Leo duduk dihadapan Kenzie, salah satu putra kembarnya itu belum bisa bergerak bebas pasca kecelakaan yang menimpa nya. sesekali Leo memperhatikan wajah cantik Calista, dengan penampilannya yang sederhana tapi terlihat berkelas. Leher jenjangnya yang putih bersih membuat Leo sesekali menarik Saliva nya.
"Mommy, sepertinya Daddy terus memperhatikan mommy," bisik Kenzo memberitahukan pada sang mommy. Calista jadi serba salah, semakin lama dia menjadi tidak nyaman.
"Tuan, kenapa anda terus memperhatikan ku?" tanya Calista, membuat Leo kaget dan tersadar dari fantasi liarnya.
"Jangan terlalu percaya diri, aku hanya memperhatikan anakku, Kenzo. bukan dirimu." jawab Leo berusaha bersikap sewajarnya.
"Sayang sekali, aku tidak percaya pada kata-kata mu." Calista kembali melanjutkan bermain bersama Kenzo, namun dia merasa tidak nyaman karena sepasang mata terus mengawasi pergerakannya.
__ADS_1
"Apa Daddy boleh bergabung, bersama kalian?" Leo mengambil bola yang barusan di lempar Kenzo.
"Boleh banget, dad."
Leo tersenyum melirik Calista yang terlihat tidak menyukai kehadirannya, namun tetap memaksakan diri bermain demi Kenzo dan Kenzie.
Leo sengaja terus memepet tubuh Calista, begitu juga saat gadis itu melemparkan bola. Hal ini membuat Calista kembali kehilangan keseimbangan dan jatuh di lantai. Wajahnya memerah menahan marah menatap Leo seakan tidak bersalah.
"Daddy, cepat tolong bantuin mommy, dia pasti kesakitan." teriak Kenzo melihat Calista yang terus memegangi kaki dan pinggang nya sambil meringis menahan air matanya agar tidak tumpah dihadapan Leo dan kedua anaknya, Calista tidak ingin terlihat lemah dan cengeng.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Leo mengulurkan tangan terbesit rasa bersalah dihatinya.
"Ini semua gara-gara kamu, jangan sentuh aku." Calista mengibas tangannya, lalu berusaha untuk berdiri dengan susah payah, namun sebelah kaki kirinya sangat sakit saat dipaksa untuk melangkah.
Leo tidak menghiraukan penolakan Calista, tangannya mulai memijid kaki Calista yang memerah seperti keseleo.
"Aduuuh sakiiit."
"Sebaiknya kamu istrahat di kamar Anak-anak, aku akan membantu mengobati kakimu." ucap Leo saat melihat Calista yang masih kesakitan, namun masih bersikeras tidak ingin dibantu.
"Mommy, untuk menghadapi laki-laki seperti Daddy, dibutuhkan kesabaran ekstra," bisik Kenzo.
__ADS_1