
Pagi hari yang cerah, Calista sudah menyiapkan sarapan pagi untuk ke-dua Anak-anaknya.
"Kenzo, Kenzie, bagunlah sayang." Calista menguncang pelan Kenzie dan Kenzo secara bergantian, lalu dia menyibak tirai jendela sehingga udara segar dan sinar matahari pagi langsung menerobos masuk kedalam.
"Pagi mommy."
"Pagi juga sayang, segeralah bersih-bersih karena mommy sudah menyiapkan sarapan kesukaan kalian berdua."
"Oke, mommy." Kedua bocah kembar itu segera bangkit dengan penuh semangat menuju kamar mandi untuk bersih-bersih.
"Kenzo, Apa kamu menyukai rumah ini?"
"Sangat mommy, terasa nyaman dan tenang." Jawab Kenzo yang selama ini diasuh Leo, bocah itu memperhatikan suasana rumah yang sangat rapi dan bersih, bahkan sudah dilengkapi perabotan disetiap sudut ruangannya.
***
Di tempat lain,
"Kenapa perasaanku tiba-tiba gelisah, dan terus teringat pada gadis bodoh itu."
Leo yang masih kepikiran tentang keberdaan Calista dan kedua Anak-anaknya, akhirnya pergi meninggalkan klub. mengabaikan acara perjamuan bisnisnya yang belum berakhir.
__ADS_1
"Kenapa Gisela juga tidak bisa dihubungi, Aku yakin pasti sudah terjadi sesuatu?"
Leo melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, dia mengunakan aplikasi pelacak pada ponsel Gisela yang masih terhubung. pin menunjukkan lokasi disebuah unit apartemen lama. Leo langsung menyerobot masuk kedalam.
"Aku yakin ini pasti tempat Calista menyembunyikan Anak-anakku, Calista, Kenzie, Kenzo dimana kalian?" suara Leo bergema disetiap sudut ruangan yang sudah berantakan.
Leo memeriksa setiap sudut kamar dengan penuh kemarahan, namun hasilnya diluar dugaannya saat matanya melihat sosok Gisela yang terikat tali dengan rambut yang sudah acak-acakan seperti habis dipukuli.
"Astaga,, Gisela."
Leo segera melepaskan ikatan ditangan dan mulut Gisela, nampak gadis itu sudah kelelahan dan lemas. bahkan untuk sekedar mengangkat kepalanya Gisela tidak mampu lagi.
"Mereka telah pergi Leo, setelah membuat ku menjadi seperti ini." jawab Gisela menagis menarik perhatian Leo, namun pria itu tidak terpengaruh sama sekali, Leo terlihat semakin marah.
"Percuma aku menyuruhmu, bahkan kamu hanya membuat Calista dan Anak-anakku semakin pergi jauh." Leo menarik kasar dagu Gisela dengan tatapan menyala membuat gadis itu semakin ketakutan, apalagi setelah dia melihat Vidio pertengkaran Gisela yang ternyata adalah gadis yang bernama Grace.
"Jurang ajar kamu, berani-beraninya menipuku selama ini, ternyata kamu bukanlah gadis kecilku."
"Ampunilah aku tuan." ucap Grace mundur ketakutan.
"Pengawal!!" teriak Leo.
__ADS_1
"Ya tuan Leo."
"Kalian bereskan perempuan penipu ini, setelah itu jebloskan dia kepenjara. aku tidak ingin mengotori tanganku." perintah Leo meninggalkan lokasi apartemen tanpa menghiraukan teriakan dan permohonan Gisela yang meminta pengampunan darinya.
Leo mengeluarkan ponselnya, meminta orang-orang kepercayaan untuk mencari dan melacak keberadaan Calista.
"Cepat kalian temukan Calista dan anak-anak ku, aku yakin dia belum terlalu jauh meninggalkan lokasi ini." perintah Leo. termasuk melacak melalui cctv apartemen namun hasilnya nihil karena Leo yakin semua ini pasti campur tangan dari Anak-anaknya yang jenius.
“Bagaimana, apa kalian sudah berhasil menemukan mereka?”
Mata elang yang memancarkan aura dingin, membuat suasana seketika hening. semua menunduk ketakutan tanpa ada yang berani untuk mengeluarkan suaranya.
“Mengejar satu wanita saja kalian tidak becus,”
Tendangan keras menghantam tubuh salah seorang bodyguard yang bertubuh dan mempunyai otot paling besar dibandingkan yang lain. Tidak puas melampiaskan kemarahannya, Leo menendang apapun yang ada dihadapannya.
"Dasar tidak becus, padahal aku sudah mempercayakan semuanya pada kalian."
"Maaf tuan, aku benar-benar tidak bisa menemukan termasuk data-data mereka yang sepertinya sudah dihilangkan."
"Ahhhh sial." umpat Leo penuh kemarahan.
__ADS_1