
Leo segera masuk kedalam, menanyakan pada pelayan tentang orang yang duduk di meja tersebut, namun mereka tidak mengetahui mengingat banyaknya pengunjung restoran pada saat yang bersamaan.
Leo mengusap wajah kasar, meyakinkan dirinya jika benar-benar telah melihat sosok Calista.
"Tidak mungkin jika aku berhalusinasi, atau terlalu banyak pikiran sehingga melihat itu adalah Calista." Leo kembali duduk di mejanya semula, namun dia sudah tidak berselera lagi untuk melanjutkan makanannya. Leo merasa kepalanya mendadak pusing memikirkan Calista dan kedua Anak-anaknya.
"Tuan, apa Anda sedang sakit?"
"Tidak!" jawab Leo yang memilih meninggalkan restoran menuju penginapan, sepanjang perjalanan Leo lebih memilih diam dan larut dalam pikirannya.
sampai dikamar Leo langsung merebahkan tubuhnya diranjang, dia ingin menenangkan pikirannya dan mengistirahatkan raganya yang lelah. Dia menghembuskan nafas kasar karena tidak bisa memejamkan matanya. hati dan pikirannya tidak mau untuk diajak kompromi, tersadar hampa, seakan separuh hatinya telah kosong.
"Calista, aku pasti akan menemukan mu kembali." bathin Leo.
Leo menyalakan cerutu dalam ruangan gelap, dia ingin menyendiri dan merenungi sifat kerasnya terhadap Calista maupun anaknya, sesekali Leo mengumpat untuk dirinya sendiri.
"Kamu laki-laki bejad Leo, kamu bukanlah ayah yang baik! Calista dan anak-anak mu pantas pergi dan meninggalkan dirimu sendiri." Leo perang batin dengan perasaan nya sendiri.
"Tidak!!!" Suara teriakan Leo bergema di sudut ruangan.
***
__ADS_1
Sampai dirumah, Calista disambut hangat oleh kedua Anak-anaknya yang berlarian penuh semangat.
"Mommy pulang!"
"Ini mommy bawakan makanan untuk kalian, pemberian dari om Micko."
"Wah kelihatannya lezat dan wangi."
"Aku makanan kesukaan ku, dulu Daddy sering membelikannya sepulang kerja." ucap Kenzo yang tiba-tiba murung teringat Leo.
"Sudahlah ayo sekarang makan, mumpung masih hangat."
Setelah bersih-bersih, Calista merebahkan tubuhnya diranjang namun dia terus merasa gelisah, meskipun sudah berusaha untuk memejamkan matanya namun Calista tidak bisa tertidur pulas seperti biasanya.
"Ada apa ini, kenapa aku gundah gulana seperti ada sesuatu, tapi apa?"
Menjelang subuh Calista baru bisa tertidur, pagi harinya, sebelum berangkat kerja Calista terlebih dahulu menyiapkan dua gelas susu hangat dan sarapan untuk ke-dua anaknya.
"Aku harus semangat bekerja, Kenzo dan Kenzie butuh biaya besar untuk pendidikan dan masa depan mereka kelak." bathin Calista.
Tidak lama deru mobil Micko sudah terdengar, Calista segera berpamitan pada pengasuh anaknya, dihalaman nampak Micko sudah menunggu seraya tersenyum manis sambil membukakan pintu mobil untuknya.
__ADS_1
"Selama pagi Calista!"
"Pagi juga dokter Micko."
"Oya apa kamu sudah sarapan?"
"Belum, karena aku ingin sarapan bareng kamu di salah satu kafe milikku."
"Bagaimana jika kita kembali kerumah, aku akan memasak sarapan untuk mu."
"Besok saja ya."
"Baiklah."
Mobil yang dikendarai Micko segera menunju kerumah sakit, semua pegawai rumah sakit sudah mengetahui jika hubungan Micko dan asistennya Calista sangat dekat. sehingga dimana ada Micko disitu ada Calista.
Banyak diantara mereka yang suka membicarakan Calista dibelakang, karena merasa iri melihat Calista yang begitu diistimewakan oleh Micko dibandingkan pegawainya yang lain. bahkan ada yang mengatakan jika Calista menjual tubuhnya pada Micko demi mendapatkan perhatian dan kasih sayang Micko.
Calista berusaha menutup telinganya dari gunjingan mereka, dan lebih memilih fokus pada pekerjaannya. Namun tidak dengan Micko dia langsung memberikan sanksi pada pegawainya yang ketahuan bergunjing dan membicarakan Calista, sehingga sejak kejadian itu posisi Calista menjadi disegani dan dihormati sebagai orang terdekat Micko, pemilik rumah sakit terkenal di negara ini.
***
__ADS_1