
Setelah menghabiskan sarapannya, tubuh Kenzo yang belum pulih sempurna tiba-tiba kembali dourp. sehingga membuat Calista dan Kenzie langsung kelimpungan panik.
"Mommy, bagaimana ini?" tanya Kenzie.
"Entahlah nak, mommy juga bingung."
"Sepertinya, kita harus meminta bantuan om Micko kembali." Ucay Kenzie.
"Jangan sayang!"
"Terus kita harus bagaimana mommy, hanya dia yang bisa membantu kita." ucap Kenzie meyakinkan.
Mau tidak mau, Calista kembali kekamar nya untuk mencari kartu nama. yang pernah diberikan oleh Micko, demi kesembuhan Kenzo Calista berusaha menahan ego dan gengsinya untuk kembali bertemu dengan Micko, perlahan tangannya mulai memencet nomor telepon Micko, tidak butuh waktu lama panggilan mereka telah terhubung, terdengar suara berat Micko dari seberang sana.
"Hallo ini siapa, ada yang bisa saya bantu."
"Micko ini aku, Calista."'
"Calista, are you oke."
"Ya, tapi tidak dengan putraku. dia kembali sakit."
"Baiklah aku akan kesana, tolong berikan alamat rumahmu padaku." ucap Micko.
"Aku akan mengirimkan lokasinya segera, Micko sekali lagi terimakasih."
"Jangan sungkan Calista, aku bahkan senang bisa membantu wanita secantik mu." Micko sengaja ingin mengancing Calista.
Setelah menutup panggilannya, Micko segera menyiapkan alat-alat medis dan memasukannya kedalam mobil untuk dibawa segera menuju rumah Calista.
Begitu sampai diperkarangan rumah sederhana, Calista langsung menyambut kedatangan Micko dengan wajah cemas.
__ADS_1
"Dokter Micko, untuk anda cepat datang. sedari tadi panas badan Kenzo tidak turun-turun."
"Baiklah, aku akan segera memeriksanya."
Micko bergegas masuk mengikuti langkah Calista dari belakang, memasuki kamar Kenzo, nampak bocah itu terbaring lemas.
"Hallo Om Micko." Kenzo memaksakan untuk menyapa dan tersenyum.
"Hallo juga jagoan, kamu harus jadi anak yang kuat dan pintar, om akan memeriksa mu terlebih dahulu." bujuk Micko mengeluarkan alat-alat medianya.
"Om, aku takut disuntik."
"Ini tidak akan sakit nak, jika kamu takut melihat jarum ini, pejamkan saja matamu." ucap Micko.
"Baiklah, cepat lakukan sebelum aku berubah pikiran dan membatalkannya." ucap Kenzo.
Micko segera menyuntik lengan Kenzo, dengan teknik tersendiri, sehingga bocah itu tidak menyadari jika dia sudah disuntik.
"Aku tidak merasakan apa-apa, apakah om sudah menyuntik ku?" tanya Kenzo dengan ekspresi bingung, sehingga membuat semua tertawa.
"Sudah, makanya jangan takut sebelum kamu mencobanya."
"Micko terimakasih, sekarang Kenzo terlihat sudah jauh lebih segar kembali." Calista sudah bisa bernafas lega melihat kondisi anaknya yang sudah stabil.
"Untuk sementara waktu, Kenzo harus lebih banyak beristirahat sampai kondisimu benar-benar pulih sempurna, om janji akan membawa kalian berjalan-jalan menikmati suasana pantai yang indah." bujuk Micko.
"Benarkah Om." balas Kenzo berbinar-binar bahagia, karena dia yang sangat menyukai suasana pantai, Micko langsung menganggukkan kepalanya. sedangkan Calista hanya bisa pasrah kemana perjalanan hidup akan membawanya, dari semula dia berharap tidak akan bertemu dengan Micko lagi, namun kenyataan berkata lain, takdir telah mempertemukan mereka lagi.
Semakin hari kesehatan Kenzo sudah semakin membaik, namun bocah itu terlihat lebih manja dan selalu menuntut ingin pergi ke pantai dengan mengajak serta Dokter Micko, meskipun sejauh ini Calista masih mencari-cari alasan untuk tidak menghubungi pria itu, karena Calista tidak ingin bertemu dengan Micko lagi.
"Anak-anak kalian mau makan apa, biar mommy masakin."
__ADS_1
"Kami sedang tidak ingin makan!" menjawab kompak.
"Terus apa mau kalian?"
"Kami ingin dipeluk mommy dan ditemani bermain Lego."
"Oke, jika itu yang kalian inginkan."
Calista memeluk kedua Anak-anaknya secara bergantian, lalu menemani mereka bermain Lego, seraya menikmati cemilan hasil buatanya.
Suara deru mobil yang berhenti diperkarangan rumah, membuat Kenzi mengintip siapa tamu yang berkunjung kerumah mereka. melalui celah jendela.
"Hore... hore..., Om Micko datang." teriak Kenzie.
"Om Micko, pasti dia ingin mengajakku ke pantai." Kenzo berlari menuju pintu utama dengan penuh semangat, diikuti Kenzie dari belakang.
Ceklek!
"Selamat datang om Micko."
"Ya sayang, lihatlah apa yang Om bawakan untuk kalian berdua." Micko mengeluarkan bingkisan dari balik punggungnya.
"Terimakasih om Micko."
"Iya sayang."
"Micko, terimakasih karena kamu sudah peduli pada kedua Anak-anakku. tapi jangan terlalu dekat karena aku takut mereka akan membuat mu kecewa suatu saat begitu juga sebaliknya." ucap Calista penuh penolakan.
"Tidak Calista, karena aku ikhlas dan tulus menyayangi ke-dua Anak-anakmu." Micko tersenyum manis kearah Calista.
***
__ADS_1