
Leo kembali menarik Jason kedalam pelukannya, ciuman penuh nafsu berhasil dia berikan meskipun bibir mengeluarkan darah akibat gigitan Calista yang terus berusaha ingin lepas darinya.
"Tuan tolong kendalikan dirimu, aku Jason bukan Calista."
Leo tidak memperdulikan, dia membuka pakaiannya sehingga membuat Jason semakin panik, sehingga jalan satu-satunya dia mendorong kasar tubuh Leo menuju kamar mandi lalu menguncinya dari luar.
"Syukurlah, keperjakaanku selamat malam ini. mudah-mudahan besoknya aku tidak dipecat." ucap Jason seraya mengembuskan nafas kasar penuh kelegaan.
Pagi ini, Jason terlihat masih takut-takut menghampiri Leo yang terlihat sudah kembali bugar, CEO tampan itu tengah menikmati sarapannya.
"Slamat pagi tuan."
"Mmmh..." jawab Leo cuek dan kembali melanjutkan sarapannya tanpa menoleh kearah Jason yang masih menjaga jarak.
"Soal kejadian semalam, anggap saja itu tidak ada dan tidak pernah terjadi." ucap Leo dingin, dia menyadari kekilafanya semalam.
__ADS_1
"Iya tuan, saya juga minta maaf karena telah mengunci anda dalam kamar mandi." jawab Jason memberanikan dirinya yakin jika Leo adalah pria normal dan kejadian semalam hanya karena pengaruh alkohol saja.
"Ya aku mengerti."
"Tuan siang ini kita akan kembali ke tanah air." ucap Jason mengingat jadwal Leo.
"Untuk sementara waktu aku akan tetap di negara ini, kamu duluan saja kembali dan handel urusan perusahaan sampai aku pulang." pesan Leo.
"Baiklah tuan."
Setelah kepergian Jason, Leo menatap keluar jendela kaca perasaanya terasa hampa ditengah-tengah kesukaannya sebagai pengusaha kuda yang kaya dan terkenal. Leo melipat kedua tangannya di dada, dengan tatapan kosong yang menyiratkan kesedihan yang mendalam yang penuh kegelisahan.
"Semoga aku tidak dipertemukan kembali dengan Leo, sekarang hari-hariku terasa jauh lebih indah." gumam Calista tersenyum bahagia dengan kehidupannya yang sekarang.
"Calista, apa kamu sudah makan siang? jangan terlalu larut dalam pekerjaan karena tidak akan ada habisnya, kamu juga butuh istirahat." ucap Micko menghampiri Calista.
__ADS_1
"Iya Micko, karena keasyikan aku jadi lupa jika sudah masuk waktu istrahat." Calista merapikan meja kerjanya.
Micko tersenyum memperhatikan Calista dalam diam, dia mengagumi sosok lembut dan kuat Calista yang merupakan seorang single parent yang gigih berjuang demi Anak-anaknya.
"Apa kamu sudah siap?"
"Apa maksudmu Micko."
"Aku ingin mengajakmu makan siang disebuah restoran ditepi pantai, aku yakin kamu pasti suka." ajak Micko yang langsung menarik sebelah tangan Calista tanpa mendengar jawaban wanita itu.
Begitu sampai di restoran yang dimaksud, Micko langsung memesan dua porsi besar makanan seafood untuk mereka berdua. disaat yang bersamaan Leo juga tengah menikmati es kelapa muda segar untuk melepaskan dahaganya, tidak jauh dari posisi Calista dan Micko duduk.
Udara pantai yang berhembus sejuk, ditambah lagi dengan suasana pantai yang indah. seakan mampu meredakan kegundahan hati Leo, dua kembali merasa tenang dan nyaman.
"Andaikan Calista dan ke-dua anak-anakku ada bersama ku saat ini, aku pasti akan menjadi orang yang paling bahagia di dunia ini." bathin Leo menerawang.
__ADS_1
Berhubung jam makan siang, restoran mewah ini cukup banyak didatangi pengunjung. begitu juga dengan Calista dan Micko yang tengah menikmati makanan mereka sambil sesekali mengedarkan pandangan kearah lautan lepas. tiba-tiba ekspresi wajah Calista berubah pucat, bahkan senyum yang semula mengembang sirna seketika. saat dua bola matanya menangkap sosok tinggi tegap, yang merupakan laki-laki yang tidak ingin Calista temui lagi seumur hidupnya.
"Leo?"