
"Sekarang terbukti, jika kamulah yang menginginkan aku." ucap Leo kembali tersenyum nakal.
Calista segera bangkit begitu tersadar jika posisi tubuh mereka yang begitu intim, bahkan dia bisa merasakan jika junior Leo yang semakin membesar dan menegang. tubuh Leo kembali beraksi dan begitu sensitif setiap bersama Calista, yang belum pernah Leo rasakan dengan perempuan manapun. rasa yang begitu sulit diartikan dan tidak mampu untuk dilukiskan, begitu nikmat dan indah.
Tanpa mereka berdua sadari, semua aksi konyol Calista dan Leo barusan terlihat jelas oleh Gisela yang sengaja mengintip secara diam-diam. gadis itu mengepalkan tangannya emosi dan rasa iri hati terhadap Calista yang semakin besar.
"Sebentar lagi aku akan merebut semua apa yang sudah kamu peroleh Calista, saat waktunya tiba kamu akan aku buat angkat kaki dari rumah ini." tersenyum sinis.
"Kenzo, kita harus mengerjai Tante genit itu." ucap Kenzie saat melihat Gisela yang tengah mengintip kemesraan ke-dua orang tuanya.
"Aku setuju."
Kenzie dan Kenzo tersenyum licik, mereka kembali kedalam kamar untuk mengambil sesuatu. tidak lama mereka kembali menaruh perlahan-lahan benda tersebut dibelakang Gisela.
__ADS_1
"Aaagghh....!"
"Leo toloooong aku!" teriak Gisela ketakutan sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Gisela!"
Leo dan Calista sama-sama kaget, mereka berdua langsung bangkit berlari menuju arah suara teriakan Gisela barusan, nampak gadis itu masih berteriak-teriak sambil menagis lalu menunjuk benda dihadapannya. tubuh Gisela gemetaran meringkuk di sudut ruangan. wajahnya begitu pucat sambil terbata-bata bibirnya berusaha menjelaskan pada Leo.
"Tidak mungkin Gisela, mustahil ada tikus dirumahku." terang Leo berusaha menenangkan Gisela yang masih syok.
"Kak Leo, aku takuut."
Gisela langsung menghambur kedalam pelukan Leo, menagis sesunggukkan didada bidang milik pria itu. melihat hal itu Calista mengalihkan pandangannya kearah lain, ada rasa sesak di dadanya saat melihat Leo membalas perlukan Gisela, meskipun dia hanya membantu untuk menenangkan.
__ADS_1
Sedangkan Kenzo dan Kenzie mengepalkan tangan mungil mereka geram, merasa Gisela hanya ingin memanfaatkan keadaan. kedua bocah itu ingin marah namun mereka berdua masih berusaha untuk menahan diri dan melihat sejauh mana usaha Gisela.
"Tenanglah Gisela, itu bukan tikus melainkan robot yang menyerupai tikus. dia bisa bergerak bebas karena memiliki remote control." bujuk Leo, yang sangat yakin jika semua ini terjadi pasti ulah jahil ke-dua Anak-anaknya yang kurang menyukai kehadiran Gisela. meskipun sudah tenang dan yakin jika itu hanya mainan, namun pelukan Gisela pada tubuh Leo belum juga merenggang. bahkan senyuman sudah tersungging di bibirnya karena mendapat perhatian dari Leo, terutama melihat tampang jutek Calista.
"Ini baru permulaan Calista, setelah ini aku akan buat kamu kehilangan segalanya." Gisela menatap Calista dengan senyuman mengejek, menunjukkan jika dirinya akan muncul sebagai pemenang dihati Leo. sedangkan Calista berusaha untuk bersikap biasa-biasa saja, menyembunyikan gemuruh dihatinya yang semakin muak dan yakin jika Gisela adalah Grace, karena semakin kesini semakin menunjukkan jati diri perempuan itu yang sesungguhnya.
"Tante, minumlah air putih ini. sebagai permintaan maaf ku karena sudah membuatmu ketakutan." ucap Kenzo menyodorkan segelas air putih, Gisela menatap Leo dengan ragu, namun saat Leo menganggukkan kepalanya Gisela akirnya menerimanya laku meminum tanpa rasa curiga lagi, tapi baru sampai mulutnya dia kembali memuntahkan.
"Air apa ini rasanya asin, pedas dan bercampur aduk." mengusap bibirnya.
"Uups..., aku lupa Tante, jika itu cairan pencuci perut." jawab Kenzo dengan wajah sok rasa bersalahnya. membuat Gisela segera bangkit menuju westafel dan memuntahkan nya.
Leo menatap tajam kearah ke-dua Anak-anaknya, dia sangat yakin jika Kenzie dan Kenzo sengaja melakukannya atas perintah Calista.
__ADS_1