
"Baiklah aku akan pergi, mungkin saat ini kamu masih marah dan sedih dengan kedatangan ku. tapi jangan pernah coba-coba untuk kabur lagi, ingat Calista, aku tidak akan pernah melepaskanmu dan Anak-anak." ucap Leo, dengan berat hati dia pergi berjalan menuju mobilnya.
Leo sudah berjanji pada dirinya akan berubah menjadi pria yang lebih baik lagi, terutama demi Anak-anaknya dan Calista. cukup sudah dia menderita sakitnya rasa kehilangan orang-orang yang dicintai selama ini.
Calista mengintip melalui celah gorden pintu kamarnya, setelah memastikan Leo pergi barulah gadis itu menangis tersedu-sedu karena rasa takut kehilangan Anak-anaknya, yang merupakan penyemangat hidup bagi Calista. sehingga dia tidak ingin Leo memisahkan mereka.
"Aku tidak akan membiarkan diri mu merebut Anak-anakku, Leo." gumam Calista lirih.
"Leo sudah mengetahui tempat keberdaan ku dan Anak-anak, malam ini kami harus pindah." Calista segera mengusap air matanya, lalu bergegas ke kamar Anak-anaknya.
"Kenzo, Kenzie cepat kemasi pakaian kalian. malam ini kita harus segera pindah dari sini sebelum Daddy kalian kembali datang untuk memisahkan kita." ucap Calista.
"Pindah kemana mommy, lagian sekarang sudah larut malam?"
__ADS_1
"Kalian ikuti saja perkataan mommy, karena disini sudah tidak aman lagi buat kita. cepatlah sebelum Leo kembali lagi ke sini." Calista mengulangi perkataannya karena panik.
"Baiklah mommy."
Calista menyambar ponselnya untuk menghubungi Micko, karena hanya pria itulah yang bisa membantunya malam-malam begini untuk pindah dan mencari tempat tinggal baru bagi mereka.
Tanpa banyak tanya, Micko segera meluncur ketempat Calista, meskipun berbagai pertanyaan berkecamuk di pikirannya saat ini. Namun dia yakin Calista pasti mempunyai alasan yang kuat ingin pindah mendadak saat malam hari, Micko juga menghubungi asistennya untuk segera mencarikan tempat tinggal yang layak untuk ditempati Calista dan Anak-anaknya.
Begitu sampai Micko segera membantu mengangkat barang-barang Calista kedalam mobilnya, lalu pergi menuju rumah yang sudah disediakan oleh asistennya.
"Calista, apa aku boleh tahu alasan utamamu pindah?" tanya Micko.
"Maaf Micko, untuk saat ini aku belum siap menceritakannya padamu. tapi aku janji akan memberitahumu jika suasana hatiku sudah membaik."
__ADS_1
"No problem, Calista." balas Micko tersenyum tulus.
Sepanjang perjalanan Calista lebih banyak diam, begitu juga dengan Micko. dia mengerti saat ini Calista pasti butuh waktu untuk memikirkan masalah nya sendiri, di kursi belakang nampak Kenzo dan Kenzie sudah terlelap pulas dengan mimpi indah mereka masing-masing.
Mobil terus melaju hingga memasuki pintu gerbang kawasan perumahan elit, Calista langsung kaget.
"Micko, apa kamu tidak salah membawa kami kesini. karena aku tidak akan mampu membayar sewanya nanti." tolak Calista yang hanya ingin rumah sederhana saja sesuai dengan kemampuannya untuk membayar kontrakan.
"Calista, kamu tidak perlu memikirkan masalah sewa. karena ini sudah menjadi tanggung jawab ku selaku sahabat sekaligus atasanmu." jawab Micko.
"Micko, aku tidak tahu harus berkata apa lagi selain ucapan terimakasih."
"Calista sudah larut malam istrahatlah, besok kamu tidak usah masuk kerja." Micko berdiri dari duduknya bersiap untuk segera pulang.
__ADS_1
"Baiklah." Calista mengantar Micko sampai keterasingan utama dengan perasaan haru sekaligus lega karena untuk saat ini dia bisa menghindar lagi dari kejaran Leo.