
"Kemana kamu akan membawaku Leo?" Calista menatap jalanan yang berbeda, dan bukan jalan menuju rumahnya.
"Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat."
"Aku ingin langsung pulang dan bertemu dengan Anak-anak, mereka pasti sudah menungguku." tolak Calista.
"Didepan ada kafe yang menawarkan keindahan serta menu makanan dan minuman yang memanjakan lidahmu, bagaimana jika kesana sebentar." tawar Leo dengan menambah laju kecepatan mobilnya lagi-lagi Calista kalah dan mengikuti kemauan Leo.
Suasana kafe terasa sangat romantis diiring alunan musik yang mencanangkan, bahkan banyak diantara pengunjung yang turun ke lantai dansa.
Leo mengajak Calista menikmati minuman disalah satu ruangan khusus, sesekali pandangan mereka bertemu dengan tatapan mata yang sulit untuk diartikan.
"Calista, setiap berada di dekatmu, aku merasa menemukan ketenangan dan kenyamanan. apalagi setelah aku tahu jika kamu adalah gadis kecil yang selama ini aku cari-cari." Leo menarik jemari Calista meremas dengan penuh kehangatan dan rasa kagum ingin memiliki seutuhnya.
__ADS_1
"Leo, jaga sikapmu karena sebentar lagi aku akan menjadi milik orang lain." Calista menarik tangannya dalam genggaman Leo.
"Aku tidak boleh tergoda bujuk rayu Leo, tahan dirimu Calista agar tidak terbuai dengan permainan Leo." bathin Calista.
"Calista kamu sangat cantik, bahkan aku tidak mampu melupakan malam panjang yang pernah kita lalui dulu." ucap Leo dengan tatapan mendamba.
"Tuan Leo, jangan ungkit masa lalu. karena aku tidak akan pernah mengkhianati tunanganku dan menghancurkan masa depan ku sekarang."
"Aku tahu Calista, tidak mungkin juga aku memaksakan kehendak. aku hanya menyampaikan apa yang tengah aku rasakan padamu." Leo berterus-terang tentang perasaan yang tidak bisa di pendamnya lagi.
"Baiklah."
Saat Calista bangkit dari duduknya, Leo tiba-tiba merangkul pinggang Calista. lalu menariknya kedalam pangkuannya. kecupan lembut dan penuh kemesraan kembali mendarat di bibir Calista yang terhanyut dengan permainan Leo. sebisa mungkin dia berusaha untuk tetap waras dengan mendorong tubuh Leo dan segera bangkit.
__ADS_1
"Cepat antarkan aku pulang."
"Oke." Leo mengikuti langkah Calista yang begitu cepat menuju mobilnya.
Calista mengepalkan tangannya geram, dia selalu kalah dihadapan Leo yang begitu pintar mencari celah dan memanfaatkan situasi, jauh berbeda dengan Micko yang sangat menghargai nya, bahkan mereka belum pernah berciuman ataupun berpelukan. paling cuma pegangan tangan sehingga Calista semakin dihantui rasa bersalah pada tunangannya Micko.
"Calista maafkan aku yang tidak bisa menahan diri, aku terlalu mencintaimu." ucap Leo ketika mereka sudah berada dalam mobil.
"Leo, kamu tahu sendiri jika aku dan Micko akan segera menikah. tapi kamu malah memperlakukan aku seperti ini."
"Ya, seharusnya aku menyadari jika kamu selangkah lagi akan menjadi milik orang lain. tapi hati ini seakan tidak rela jika kamu dan Anak-anak dimiliki orang lain, meskipun dia adalah laki-laki baik yang mencintai mu dan Anak-anak dengan tulus." ucap Leo seraya mengusap frustasi wajahnya, Leo merasa dadanya sesak membayangkan Calista memakai pakaian pengantin namun bukan dengan dirinya.
"Calista, apakah aku tidak mempunyai kesempatan lagi untuk memperjuangkan dirimu?"
__ADS_1
"Semua sudah terlambat Leo, aku tidak akan mungkin menyakiti hati Micko dan Oma Marlina yang sudah begitu baik padaku dan Anak-anak." Calista benar-benar dilema, saat dihadapkan pada pilihan yang benar-benar sulit. karena Leo dan Micko memiliki tempat masing-masing dihatinya.
Sepanjang perjalanan pulang Leo dan Calista memilih diam larut dalam pikiran masing-masing, sebelum turun Leo menarik Calista kepelukanya, rasanya dia tidak ingin menjelaskan dan kehilangan Calista lagi.