
"Sial, kenapa desiran ini selalu muncul setiap aku menatap kedua mata Calista yang indah."
Leo menghisap sebatang rokok, menyendiri duduk diatasnya balkon teras kamarnya. berusaha menyingkirkan perasaan aneh yang seringkali muncul, antara benci, sayang dan cinta semua membaur menjadi satu, hingga Leo sendiri bingung mengartikan apa yang dia rasakan.
Begitu juga sebaliknya, dalam kamar Calista tidak bisa memejamkan matanya barang sepicing pun. wajah tampan Leo seakan menari-nari dalam pikirannya.
"Ya Tuhan, perasaan macam apa ini. kenapa tubuh ku begitu mudah beraksi setiap mendapatkan sentuhan dari Leo." bathin Calista yang masih merasakan kebas di bibirnya bekas ciuman panas Leo barusan, yang membuat tubuhnya seketika panas dingin.
Pagi harinya, semenjak tinggal bersama keluarga Leo. Calista membiasakan dirinya untuk bagun pagi-pagi sekali, membantu menyiapkan sarapan untuk ke-dua Anak-anaknya sebelum berangkat ke sekolah.
"Pagi Calista sayang!" sapa Sarah tersenyum senang saat melihat Calista membuat susu rasa Vanilla kesukaan Kenzo dan Kenzie.
"Pagi juga mi."
"Calista, kamu mau ngak bantu mami membuat sarapan kesukaan Leo?" ucap Sarah sengaja memancing reaksi Calista.
__ADS_1
"Bo..boleh mi." jawab Calista gugup, sebenarnya dia tidak ingin memasak sarapan untuk Leo, karena tidak ingin Pria itu akan semakin ke geeran. tapi Calista juga tidak bisa menolak permintaan Sarah yang begitu baik padanya.
Calista mulai memotong sayuran, membuat sup ayam kesukaan Leo. dengan resep handalan dari Sarah, sehingga makanan sederhana tersebut terlihat berkelas.
"Calista, kamu memang pintar memasak. bahkan rasanya tidak diragukan lagi." puji Sarah mencicipi sedikit sup yang sudah terhidang tapi diatas meja makan.
Tidak lama, meja makan sudah berkumpul di kembar dengan seragam sekolahnya. dan Leo dengan stelan pakaian kantor yang terlihat elegan ditubuh nya yang atletis. saat akan duduk Leo sempat melirik ke arah Calista, pandangan mata mereka bertemu, namun segera dia alihkan pada menu makanan yang tersaji takut terpesona lebih jauh lagi.
Menu makanan yang tersaji begitu menggoda, sehingga Leo langsung menyendok kedalam piring makanya. dia yakin jika itu adalah hasil masakan dari maminya, Sarah. sehingga tidak perlu diragukan lagi.
"Syukurlah, ternyata Calista sangat mudah menirukan resep mami." puji Sarah tersenyum bahagia.
"Jadi ini bukan masakan mami?" tanya Leo merasa malu karena sudah menghabiskan dua porsi.
"Tentu saja bukan, tapi mami senang karena Calista sudah bisa menggantikan posisi mami, jika seandainya mami sudah tidak ada lagi." ucap Sarah dengan tatapan nanar.
__ADS_1
"Oma tidak boleh berbicara seperti itu, kami semua sangat menyayangi Oma dan belum siap untuk kehilangan Oma." ucap Kenzo.
"Iya, Oma juga sangat menyayangi kalian semua."
"Apa hari ini kalian bareng Daddy ke sekolah?"
"Ya, tapi mommy juga harus ikut."
"Jangan sayang, hari ini kalian berangkatnya bareng Daddy saja, nanti pulangnya biar mommy yang jemput." bujuk Calista.
"Calista, kamu pasti bisa dirumah saja. bagaimana jika kamu bekerja saja diperusahaan Leo?" tawar Sarah, yang membuat Calista terlonjak kaget begitu juga dengan Leo.
"Jangan mi, karena perusahaan ku sedang tidak membutuhkan karyawan baru." tolak Leo.
"Leo benar mi, lagian aku sudah dapat kerjaan baru kok." jawab Calista.
__ADS_1
"Leo, itu perusahaan mami dan papi. jadi kami berhak menempatkan Calista untuk bekerja di sana untuk menjabat posisi apapun." ucap Sarah tegas, sehingga Leo tidak bisa menolak lagi keputusan mami nya.