Menjadi Babbysitter Untuk Anakku

Menjadi Babbysitter Untuk Anakku
Mabuk perjalanan


__ADS_3

Calista membimbing ke-dua anaknya memasuki bandara dengan detak jantung berpacu kencang dan gemetaran, sesekali dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling. setiap melihat orang-orang berpakaian hitam membuatnya ketakutan karena berfikir jika mereka adalah para bodyguard suruhan Leo.


"Syukurlah."


Calista menarik nafas lega, begitu melihat mereka hanyalah para penumpang biasa sama seperti dirinya. Calista sudah membulatkan tekadnya untuk mengurus dan membesarkan anak-anaknya seorang diri.


Ketika pesawat mulai mengudara, Kenzo yang belum terbiasa berpergian jauh langsung muntah-muntah, kondisi tubuhnya berubah panas dengan wajah yang sudah pucat. itulah salah satu alasan, kenapa sekama ini Leo lebih memilih mengurung Kenzo dirumah saja. karena kondisi tubuhnya yang sangat lemah dan berbeda dari anak-anak lain yang seusia denganya.


"Kenzo, kamu kenapa sayang."


Calista yang panik bingung harus berbuat apa, dia kembali mengolesi tubuh Kenzo dengan minyak kayu putih yang selalu dia bawa kemanapun.


Seorang seorang pria tampan yang duduk bersebelahan dengan mereka, terus memperhatikan ibu dua anak tersebut. profesinya sebagai dokter membuatnya ingin menolong.


"Apa yang terjadi dengan anak ini?" tanya pria tersebut.


"Aku tidak tahu? tiba-tiba dia pucat dan muntah-muntah." jawab Calista.


"Bolehkah aku memeriksa nya?"


"Silahkan!"


Pria tersebut langsung memeriksa kondisi Kenzo, kemudian memberikan obat yang ada di tasnya.


"Anak ini mabuk perjalanan, apa ini pertama kalinya dua menaiki pesawat atau perjalanan jauh?"


"Iya."


"Ini obat minum, berikan padanya." ucap pria tersebut sambil tersenyum ramah memperhatikan

__ADS_1


ekspresi wajah Calista yang ragu-ragu.


"Jangan takut, aku adalah seorang dokter anak. berdasarkan hasil pemeriksaanku anakmu memiki penyakit bawaan lahir, meskipun terlihat sudah sembuh."


"Benar sekali, dok."


Setelah mendengar penjelasan pria itu, Calista tersenyum lega laku memberikan obat tersebut pada Kenzo. tidak begitu lama Kenzo terlihat jauh lebih tenang dan tidak muntah lagi.


"Terimakasih, karena sudah membantu mengobati anakku." balas Calista.


"Tidak masalah, hal ini sudah menjadi bagian dari profesi ku. aku tidak menyangka jika bocah-bocah tampan ini adalah anakmu, semula aku berfikir jika kamu adalah seorang pengasuh mereka."


"Anda bisa saja, Dok."


"Perkenalkan nama saja Micko, blasteran Indonesia-jerman." dokter tampan itu mengulurkan tangannya kerah Calista dengan senyum persahabatan.


"Calista!"


"Hay tampan, siapa nama kalian." sapa Micko dengan senyum mengembang.


"Namaku, Kenzie!"


"Aku Kenzo!" jawab Kenzo meskipun masih lemah.


"Senang bertemu dengan kalian."


Selama perjalanan jauh, mereka terlibat obrolan seru. selain berfrofesi sebagai seorang dokter anak, Micko memiliki berbagai ladang usaha di bidang kafe dan restoran. Micko juga menceritakan tujuan utamanya datang ke Indonesia, untuk mengobati salah seorang anak pejabat yang mengundang khusus kedatangannya.


"Calista, kalau boleh tahu apa tujuanmu datang ke Negera lain? dan mana suamimu?" tanya Micko setelah mereka terlibat obrolan panjang.

__ADS_1


"Aku ingin menghindar seseorang."


"Apakah suamimu?"


"Aku belum menikah." Calista memalingkan wajah, hatinya berdenyut perih setiap ditanya tentang ayah dari Anak-anaknya. namun dia juga tidak ingin berbohong pada Micko, karena Calista berharap tidak akan pernah bertemu dengan pria ini lagi.


Micko mengerutkan keningnya bingung sambil menatap Kenzie dan Kenzo, namun dia juga tidak ingin ikut campur lebih jauh lagi.


"Kenapa, apa kamu kaget dengan penuturan ku?" tanya Calista yang siap dengan apapun penilaian orang lain terhadapnya yang sudah memilki anak tanpa pernikahan.


"Apapun alasannya, aku yakin kamu adalah perempuan yang baik-baik. ini kartu namaku, semoga juta kembali dipertemukan." ucap Micko sambil tersenyum manis menatap dua bola mata Calista, yang menurutnya memiki magnet tersendiri.


Calista menerima kartu nama tersebut sambil tersenyum miring, sesungguhnya dia tidak ingin dekat dan didekati pria manapun lagi, hatinya terlalu rapuh dan belum siap untuk kembali disakiti setelah Nick maupun Leo.


"Mommy, dimana kita akan tinggal nantinya?" tanya Kenzo.


"Kita akan kembali tinggal, di rumah yang dulu mommy tempati bersama Kenzie." jawab Calista tersenyum hangat mengiring Anak-anaknya menaiki taxi menuju tempat tinggal lamanya selama menyendiri, rumah itu merupakan milik Ange sahabatnya tapi dia tidak pernah mempermasalahkan Calista untuk menempatinya sampai kapanpun.


Pagi hari yang cerah, Calista sudah menyiapkan sarapan pagi untuk ke-dua Anak-anaknya.


"Kenzo, Kenzie, bagunlah sayang." Calista menguncang pelan Kenzie dan Kenzo secara bergantian, lalu dia menyibak tirai jendela sehingga udara segar dan sinar matahari pagi langsung menerobos kedalam.


"Pagi mommy."


"Pagi juga sayang, segeralah bersih-bersih karena mommy sudah menyiapkan sarapan kesukaan kalian berdua."


"Oke, mommy." Kedua bocah kembar itu segera bangkit dengan penuh semangat menuju kamar mandi untuk bersih-bersih.


"Kenzo, Apa kamu menyukai rumah ini?"

__ADS_1


"Sangat mommy, terasa sangat nyaman dan tenang." Jawab Kenzo yang selama ini diasuh Leo, bocah itu memperhatikan suasana rumah yang sangat rapi dan bersih, bahkan sudah dilengkapi perabotan disetiap ruangannya.


***


__ADS_2