
"Nick, kamu mau apa?"
Calista semakin ketakutan dan gugup setelah melihat Nick sudah telanjang dada, menyeringai seperti seekor singa lapar menatap tubuh Calista yang hanya memakai dress pakaian tidur tipisnya.
"Menurutmu, apa yang akan dilakukan oleh seorang pria yang jatuh cinta dan merindukan perempuan nya, yang sudah terpisahkan oleh waktu yang cukup lama." bisik Nick.
"Nick, tolong kendalikan dirimu. jangan lakukan apapun padaku, jika tidak aku akan semakin membenci mu seumur hidup ku." ucap Calista penuh penekanan.
"Sayang, aku tidak mempunyai pilihan lain. hanya ini jalan yang bisa menyatukan kita kembali ha...ha..." aroma bau alkohol yang menyengat dari mulut Nick membuat Calista ingin muntah, namun pergerakannya sudah dikunci oleh Nick.
Calista hanya bisa menagis sambil berusaha untuk melepaskan diri, dia tidak dapat membayangkan jika akan ternoda oleh pria yang sudah membuatnya jatuh kedalam lobang yang terlalu dalam.
"Aku mohon Nick, tolong lepaskan aku hick...hick..."
"Tidak sayang, aku tidak ingin kehilanganmu lagi."
"Tapi tidak dengan cara seperti ini Nick, tunjukan rasa cinta mu dengan perubahan sikapmu. jangan buat aku semakin membenci mu." Calista masih berusaha agar Nick bisa menyadari perbuatannya.
__ADS_1
Calista berhasil lepas, namun karena kondisi kakinya yang belum pulih sempurna. membuatnya kembali jatuh saat tersandung meja riasnya. Nick tidak menyia-nyiakan kesempatan, dia langsung menarik dan membekap tubuh Calista, lalu menghempaskan nya diatas ranjang.
Dengan sisa-sisa tenaganya, Calista berusaha memukul-mukulnya punggung Nick, memalingkan wajahnya kekiri dan kekanan untuk menghindari ciuman Nick yang ingin menikmati bibir Calista.
"Tuhan, tolong kirimkan seseorang untuk menyelamatkan aku....hick...hick..." doa Calista diantara Isak tangisannya, dia sangat menyesal karena bersikeras untuk tetap pulang kerumahnya, padahal ke-dua Anak-anaknya dan mami Sarah sudah berusaha keras untuk membujuk Calista untuk menginap dirumahnya untuk beberapa hari ini sampai dia benar-benar pulih.
"Brak!"
Tiba-tiba pintu kamar di dobrak dari luar, Leo muncul dengan kemarahan masuk kedalam kamar, menarik kasar tubuh Nick hingga terhempas ke lantai, Leo langsung menghajar pria itu secara membabi-buta. Pria tampan itu sangat marah begitu melihat Calista yang hampir dilecehkan.
Pukulan dan tendangan keras bertubi-tubi menghantam tubuh Nick, seakan ingin mematahkan semua tulang-tulang nya. sedangkan Calista yang masih syok terus menagis sesunggukkan menutupi tubuhnya dengan selimut.
"Stop! Leo, kamu bisa membunuhnya. sebaiknya kita serahkan saja pada pihak berwajib." ucap Calista melihat Nick yang sudah sekarat.
Leo mengeluarkan ponselnya, tidak begitu lama para pengawal nya langsung datang.
"Cepat kalian urus laki-laki brengsek ini dirumah sakit, setelah itu serahkan ke pihak berwajib." perintah Leo.
__ADS_1
"Baik tuan."
Leo mendekati Calista yang masih menagis sesunggukkan, merapikan rambut Calista yang sudah berantakan dengan tatapan iba. lalu memasangkan sweater ketubuh gadis itu.
"Aku takut Leo!"
"Jangan takut lagi, aku pastikan setelah ini pria brengsek itu tidak akan berani lagi mendekati mu." ucap Leo, yang tidak rela melihat Calista mengeluarkan air mata karena terluka dan bersedih. sehingga Leo dengan penuh kelembutan berusaha menenangkan perempuan pilihan hatinya.
"Minumlah!" menyodorkan segelas air putih.
"Terimakasih."
Calista menghabiskan segelas air putih tersebut, dia merasa sedikit lebih tenang kembali.
"Leo, bagaimana kamu tahu jika aku tengah dalam bahaya?"
"Anak-anak. Mereka tidak bisa tidur malam ini. sehingga memaksaku untuk menjemput mu datang kesini. bersyukur aku datang tepat waktu, sehingga bajingan itu tidak berhasil melecehkan mu." ucap Leo dengan tatapan menghangat, karena dia tidak akan pernah sudi jika Calista disentuh pria lain, selain dirinya sendiri.
__ADS_1