
Teriakan suara Leo menggelegar, semua langsung berlarian menuju arah asal suara Leo dengan wajah ketakutan, mereka sudah dapat menduga jika sudah melakukan kesalahan besar.
"Mana Anak-anakku, kalian mengatakan jika mereka dikamar. buktinya kosong." tunjuk Leo kerah kasur, dimana terdapat guling yang ditutupi dengan selimut tebal seperti orang yang sedang tidur.
"Maafkan kami tuan."
"Cepat kalian cari dan temukan mereka, jika tidak kalian semua akan saya pecat!"
"Baik tuan."
Leo kembali menunju mobilnya dengan tergesa-gesa. dia yakin kedua anaknya tengah bersama Calista, namun rumah itu terlihat sepi tanpa penghuni.
Leo mengetuk pintu secara tidak sabaran lagi, bahkan terdengar sangat keras seakan ingin menobrak pintu tersebut. sambil berteriak memanggil Calista dan Anak-anaknya namun tidak terdengar sahutan dari dalam rumah, sehingga Leo semakin dibuat resah dan gelisah.
"Jangan-jangan perempuan itu sudah kabur?"
Leo mengeluarkan ponselnya untuk segera menghubungi no ponsel Calista, namun sudah no tersebut sudah tidak bisa dihubungi lagi.
"Sial!!"
Leo mencari tahu dengan menanyakan pada tetangga terdekat Calista, mereka mengatakan jika Calista sudah pindah dengan mengajak serta kedua Anak-anaknya, Leo menepuk jidatnya frustasi karena telah kalah satu langkah dari gadis itu.
__ADS_1
"Awas kamu Calista, mau kabur kemana lagi kamu. kali ini aku tidak akan membiarkanmu lepas begitu saja dariku." umpat Leo geram kembali pulang kerumahnya.
"Kak Leo, kamu kenapa?" tanya Gisela sok perhatian.
"Diam, jangan ganggu aku Gisela." ucap Leo berjalan menuju kamarnya, Leo semakin tidak mengerti dengan apa yang sudah menimpanya, namun hati kecilnya berkata jika ada yang tidak beres dengan semua ini.
Sedangkan dalam hatinya Gisela betlonjak kegirangan dan bahagia, tinggal satu langkah lagi baginya untuk mendapatkan Leo seutuhnya.
"Sekarang aku akan fitnah Calista, sehingga terlihat buruk dihadapan mami Sarah. dengan begitu dia pasti akan memilih ku untuk menjadi calon menantunya, menggantikan posisi Calista, ha...ha..."
Dalam kamarnya Leo menatap foto Kenzo dan Kenzie yang tersenyum bahagia kearahnya.
"Kenzo, Kenzie. kalian berdua dimana nak, maafkan Daddy yang terkadang terlalu keras terhadap kalian berdua. Daddy melakukannya karena sangat menyayangi kajian berdua." bathin Leo merasa hampa dan kesepian, rasa takut kehilangan membuatnya kembali resah dan gelisah.
"Untuk sementara kita akan tinggal di apartemen ini, mommy harap kalian bisa betah. meskipun sederhana dan tidak sebagus rumah milik Daddy kalian." ucap Calista.
"Tinggal dimapaun, kami akan betah asalkan bisa bersama-sama mami selamanya."
"Terimakasih Anak-anakku sayang." ucap Calista yang tanpa sadar meneteskan air matanya penuh haru.
"Galian berdua pasti capek karena membantu mommy beres-beres, minumlah dulu." Calista memberikan sebotol air mineral ketangan Kenzo dan Kenzie.
__ADS_1
"Ini apa mommy."
"Biskuit coklat, mommy sengaja membuat nya kemaren sebelum kita pindah. bagaimana rasanya."
"Sangat enak, apapun buatan mommy kami sangat menyukainya." jawab Kenzie kembali memasukkan potongan biskuit kedalam mulutnya yang masih penuh.
"Uhuck...uhuck..."
"Kenzie hati-hati makanya nak." Calista mengusap punggung anaknya, sedangkan Kenzo langsung membantu adiknya untuk minum.
"Makanya kalau makan itu satu-satu dan jangan rakus." ledek Kenzo.
"Aku takut jika biskuit coklatnya kakak habiskan." jawab Kenzie malu-malu.
"Jika habis, mommy kan bisa bikin lagi, jadi tidak perlu berebut seperti ini." ucap Calista tersenyum melihat tingkah konyol anaknya.
"Iya mommy, lain kali Kenzie tidak seperti ini lagi." menyesali kesalahannya.
"Semoga saja Daddy kalian tidak mengetahui tempat tinggal kita yang sekarang, mommy tidak dapat membayangkan kemarahannya."
"Mommy tidak perlu takut, karena kami akan selalu bersama mommy apapun terjadi."
__ADS_1
"Terimakasih sayang, kalian memang Anak-anak yang baik."