
Marlina tersenyum puas, dia ikut membantu para pelayan menata menu hidangan makan malam untuk menyambut kedatangan Calista.
"Sekarang adalah waktu yang tepat, bagi Micko melamar Calista." gumam Marlina.
Tidak lama mobil yang dikendarai Micko sudah sampai di teras utama, Marlina dengan antusias langsung menuju pintu masuk, senyumannya semakin merekah begitu melihat Calista dan Micko berjalan kearahnya.
"Selamat datang di rumah Oma, calon cucu mantuku yang cantik." Marlina merentangkan kedua tangannya memeluk hangat Calista, yang masih terkejut dengan ucapan Oma barusan, namun dia masih berusaha bersikap baik dan tersenyum, Calista tidak ingin menyakiti ataupun menyinggung perasaan Oma yang begitu berharap lebih pada hubungan mereka.
"Oma apa kabar?" sapa Calista berbasa-basi.
"Alhamdulillah Oma sehat sayang, ayo masuk." Marlina mengiring langkah kaki Calista dan Micko menuju meja makan.
"Kalian berdua pasti belum makan malam, Oma sudah masakin menu kesukaan Micko, Oma yakin jika Calista pasti juga bakal menyukai masakan Oma."
"Tentu Oma."
Canda dan tawa sesekali menyelingi obrolan hangat mereka, seraya menikmati makan malam.
"Calista, apa kamu sudah mengambil keputusan tentang tawaran Oma kemaren?"
__ADS_1
"Tawaran yang mana Oma?"
"Tawaran untuk menjadi istri Micko." balas Marlina dengan tatapan serius.
DEGH!!!
"Maaf Oma, tapi saya merasa tidak pantas untuk bersanding dengan Micko, dia orang baik dan terhormat. Micko berhak mendapatkan perempuan yang jauh lebih baik dari pada saya." Calista menundukkan wajahnya dia tidak mau bersitatap dengan Marlina maupun Micko.
"Calista, bagi Oma dan Micko kamulah yang terbaik. dia calon ayah yang tepat untuk ke-dua Anak-anakmu, bahkan hubungan mereka juga sangat dekat, bagaimanapun juga kefua anakmu butuh sosok dan kasih sayang seorang ayah." Marlina kembali menunjuk Calista.
Calista benar-benar dibuat dilema, disisi lain dia tidak mempunyai perasaan apapun terhadap Micko selain persahabatan, dia juga merasa tidak pantas untuk mendampingi Micko.
Marlina begitu perhatian pada Calista, dia sering mengunjungi rumah sakit milik cucunya demi bisa bertemu gadis itu. bahkan dia sangat ingin bertemu dengan ke-dua Anak-anak Calista.
"Calista, kapan kamu mengajak Oma untuk bertemu kedua Anak-anakmu?" ucap Marlina.
"Terserah Oma, karena pintu rumahku selalu terbuka untuk Oma."
"Benarkah, jika begitu besok malam Oma dan Micko berkunjung kerumah mu ya."
__ADS_1
"Boleh Oma."
Setelah keluar dari ruangan kerja Calista, Oma Marlina langsung menuju ruangan Micko.
"Micko, nanti siang kamu temani Oma ke toko perhiasan ya! dan kali ini Oma tidak ingin mendengar kata penolakan." Marlina terlihat berbinar-binar mengingat impiannya yang ingin melihat Micko segera menikah akan segera terwujud.
"Untuk apa Oma pergi ke toko perhiasan? maaf Oma hari ini aku benar-benar sibuk."
"Micko, Oma ingin mencari cincin berlian untuk Calista, besok malam kita akan berkunjung ke rumahnya, dimana nantinya kamu akan melamar Calista dihadapan Oma dan ke-dua Anak-anaknya." jawab Marlina antusias.
"Tapi Oma, aku tahu jika ke-dua Anak-anaknya mau menerima diriku sebagai Daddy mereka."
"Micko tidak ada salahnya jika kita berusaha dulu, toh hubunganmu dengan mereka cukup dekat selama ini, Oma yakin Calista dan anak-anak menyukai mu namun tidak berterus terang." Marlina begitu gigih dan keras kepala untuk mewujudkan apapun keinginan nya.
"Baiklah Oma."
Micko menghembuskan nafas berat, dia tidak kuasa menolak permintaan Oma yang begitu besar yang bahkan rela melakukan apapun demi mewujudkan keinginannya. agar Micko bisa move on sepenuhnya dari masa lalu kelam.
***
__ADS_1