
Keringat dingin membasahi tubuhnya, tangan Calista bergetar, tanpa sadar gelas yang dipegang nya tiba-tiba jatuh.
"Calista, kamu ngak papa kan?" ucap Micko kawathir melihat perubahan Calista.
"Ya aku baik-baik saja, kamu lanjutkan saja makanya." Calista kembali menguasai keadaan.
"Seandainya aku mempunyai ilmu menghilang kan diri, atau pintu ajaib. pasti aku akan langsung masuk kesana. sampai aku mempunyai kekuatan lebih untuk melawan kamu dengan tangan ku sendiri, Leo." bathin Calista geram.
Calista mempertajam penglihatan nya, sosok yang dilihatnya seperti Leo itu benar-benar nyata.
"Ini pasti hanya mimpiku, ya aku sangat yakin ini benar-benar cuma mimpi." Calista memejamkan matanya. sambil bergumam sendiri dan membuka matanya kembali, namun dia masih mendapati hal yang sama. untuk memastikannya Calista lalu mencubit keras lengan nya sendiri.
"Aduuuuuh sakiiit...." Calista spontan meraba lengan nya yang terasa perih.
"Ini benar-benar nyata, laki-laki bajingan itu ada dihadapan ku saat ini.
"Calista, coba kamu perhatikan Pria itu, namanya adalah Leo. dia merupakan seorang pria hebat dan juga pemilik perusahaan King' terbesar di negara ini. dengan kegigihan dan kerja kerasnya." ucap Micko yang mengetahui profil seputar kehidupan Leo, tapi tidak dengan kehidupan pribadinya.
"Ya, dia bukan saja hebat, tapi mampu menabur benihnya dirahimku yang menghasilkan Anak-anak kembarnya untuk ku. Leo....aku tidak akan mengizinkan kamu bertemu dan mengambil anak-anak ku lagi." bathin Calista dengan ke-dua tangan mengepal marah.
__ADS_1
"Calista, apa kamu sakit?" .
"Ya, Micko aku harus segera pergi dari sini. tiba-tiba aku sangat mengkhawatirkan Anak-anakku."
"Baiklah, aku akan mengantarkan kamu pulang." tawar Micko segera menghentikan makanya.
"Tidak usah, kamu lanjutkan saja makanya aku bisa pulang sendiri." ucap Calista lalu bergegas meninggalkan Micko yang bingung dan penasaran dengan perubahan sikap aneh Calista.
"Calista, tunggu!"
Calista terus berlari seraya menyembunyikan wajahnya agar tidak terlihat oleh Leo, namun sial hal itu justru memancing semua orang termasuk Leo.
DEGH!!!
Tanpa pikir panjang lagi, Leo segera bangkit dan berlari menuju mobilnya, dengan jarak yang tidak terlalu dekat Leo terus mengikuti mobil yang membawa Calista hingga berhenti disebuah hunian yang sederhana dan terlihat sangat nyaman untuk ditempati.
Calista yang tidak sadar diikuti langsung masuk kedalam rumah, Kenzo dan Kenzie menyambut hangat kepulangan mommy mereka dengan menghambur kepelukanya, namun senyum kedua anak itu segera memudar begitu melihat sosok sang Daddy yang sudah berdiri di belakang Calista.
"Daddy!"
__ADS_1
"Daddy!"
Calista membalikan tubuhnya, seketika pandangan mereka bertemu seiring dengan tubuh Calista yang membeku seakan dihimpit benda ribuan ton. Calista benar-benar tidak menyangka jika akan ketahuan secepat ini, sekarang Leo benar-benar nyata berdiri dihadapannya begitu juga dengan Leo, dia terlihat bahagia karena telah menemukan belahan hatinya yang hilang.
"Leo, pergi kamu dari sini. aku tidak akan mengizinkan dirimu untuk mengambil Anak-anakku kembali."
"Aku tidak akan pergi Calista, sebelum berhasil membawa pulang Anak-anakku. aku mengaku salah dan tolong maafkan aku."
"Tidak! kami tidak akan memaafkan Daddy."
"Kenzo, Kenzie. Kenapa kalian begitu tega pada Daddy. selama ini Daddy cukup menderita kehilangan kalian. Daddy janji akan berubah menjadi Daddy yang baik untuk kalian berdua." ucap Leo merentangkan kedua tangannya pada Kenzo dan Kenzie.
Ke-dua bocah itu menjadi luluh, bagaimanapun Leo adalah ayah kandung mereka berdua.
"Daddy, kami juga minta maaf." Kenzo dan Kenzie berlari kepelukan Leo, tanpa mampu Calista cegah.
"Calista, bisakah kita bicara berdua saja?" pinta Leo, meskipun dia melihat api kemarahan dari pancaran mata Calista yang belum juga mereda.
"Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi Leo, tolong pergi dari sini." Calista mendorong kasar tubuh Leo, laku mengunci rapat pintu masuk.
__ADS_1
"Anak-anak cepat masuk kekamar kalian." perintah Calista, Kenzie dan Kenzo langsung mematuhi perkataan sang mommy dengan ketakutan, mengingat mereka belum pernah melihat ibunya yang begitu marah.
***