
"Kamu terlalu percaya diri, tapi tidak masalah bagiku. karena aku menyukainya." bisik Leo yang tidak ingin berdiam diri saja, dengan menatap gadis yang tengah menikmati makanannya. dengan gerakan lebih lembut Leo mengecup bibir Calista, sehingga suapan gadis itu terhenti, mereka larut dengan perasaan masing-masing hingga sebuah suara menyadarkan keduanya.
Ceklek!!
"Maaf saya tidak bermaksud mengaggu anda tuan." ucap Jason tertunduk, karena masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. sedangkan Calista langsung memalingkan wajahnya yang sudah merah merona saking malunya.
Leo terlihat kesal melirik kearah Jason dengan tatapan membunuhnya, lalu melangkah pergi meninggalkan ruangan Calista begitu saja. sampai di ruangannya Leo menuju westafel mencuci wajahnya dengan air, dibibirnya masih melekat bekas lipstik milik Calista.
Leo meraba bibirnya, bayangan ciuman panas mereka barusan masih terasa. rasanya sangat sayang jika bekas lipstik itu harus segera dihapus, tapi rasa gengsi yang begitu tinggi dan tidak ingin terlihat oleh karyawan lainya, Leo mengusap bekas tersebut dengan tissue sampai semuanya kembali bersih.
Jam enam belas lewat tiga puluh menit, Calista keluar dari gedung perusahaan bersama karyawan kantor lainya. dia berjalan cepat menuju sebuah toko kue, Calista ingin membeli beberapa kue-kue kesukaan Kenzo dan Kenzie, dia tersenyum membayangkan wajah ceria ke-dua Anak-anaknya saat menyambut kedatangannya dirumah.
Sambil menenteng dua buah bungkusan kue, Calista berjalan menuju halte busway seperti biasanya, meskipun Sarah sudah menawarkan mobil dan sopir pribadi untuk nya, namun Calista menolaknya secara halus. dia tidak ingin terlalu jauh lagi merepotkan wanita yang sudah sangat baik padanya selama ini.
"Mommy bawa apa?" tanya Kenzo begitu melihat Calista membawa dua buah bungkusan berjalan kearahnya.
__ADS_1
"Tadi mommy menyempatkan diri untuk membeli kue-kue kesukaan kalian, makanlah." Calista memberikan pada masing-masing anaknya.
"Terimakasih mommy."
"Iya sayang."
***
Pagi hari yang cerah, Calista dengan penuh semangat ingin memulai pekerjaannya. namun terhenti begitu telepon diatas mejanya berdering nyaring.
"Calista, tuan Leo meminta mu untuk membuatkannya kopi hitam." ucap Jason melalui sambungan interkom.
"Ini perintah tuan Leo, dia ingin mulai dari sekarang kamu yang membuatkannya kopi. karena OG yang biasanya sudah dipindah tugas ke gedung lain." terang Jason.
"Baiklah."
__ADS_1
Meskipun agak keberatan, Calista melangkah menuju pantry.
"Tahan dirimu Calista, pria itu sengaja ingin selalu mengerjaimu. agar kamu lelah dan menyerah, lalu pergi dari kehidupannya dan Anak-anak mu." Calista berusaha menguatkan dirinya.
Setelah selesai membuat kopi hitam kesukaan Leo, Calista membawa dengan hati-hati kopi yang masih panas tersebut dengan aroma kopi yang begitu nikmat. menuju ruangan Leo yang jauh lebih mewah dan indah dibandingkan dengan ruangan lainya.
Disisi kanan dan kirinya dilapisi dinding kaca, Calista menoleh sesaat sambil tersenyum, dia menatap pantulan kaca untuk memperbaiki penampilannya, lalu memasang wajah jelek seandainya dihadapannya saat ini ada Leo. pria yang paling menyebalkan dalam hidup nya.
"Dasar cewek genit." gumam Leo yang ingin tertawa lepas, memperhatikan tingkah konyol Calista, melalui pantulan kaca dari luar, yang terlihat jelas dari dalam ruangan kerja nya, namun tidak terlihat jika dari luar ruangan.
Tok!tok!tok!
"Masuk!"
Setelah terdengar perintah masuk dari Leo, Calista mendorong pintu dengan perlahan. nampak ruangan bersih, luas, terlihat elegan dan sangat mewah.
__ADS_1
"Tuan Leo, ini kopi anda." ucap Calista, meletakan kopi diatas meja kerja, sambil tersenyum manis kearah Leo.
Leo menghentikan sejenak pekerjaan nya, melirik kopi hitam buatan Calista. lalu mulai menyeruput kopi yang masih mengeluarkan asap itu secara perlahan-lahan. tidak lama Leo kembali meletakannya diatas meja sambil mengerutkan keningnya terlihat tidak suka, sehingga senyuman di bibir Calista seketika memudar setelah melihat ekspresi yang ditujukan Leo.