Menjadi Babbysitter Untuk Anakku

Menjadi Babbysitter Untuk Anakku
Takut Kehilangan


__ADS_3

Ditempat lain, Leo tengah memerintahkan orang-orang suruhannya untuk menyelidiki keberadaan Calista dan Anak-anaknya.


"Apa kalian yakin bisa menemukan Calista dan Anak-anakku?"


"Kami sangat yakin tuan, karena selama ini kami belum pernah gagal dalam menjalankan tugas." ucap kepala geng mereka dengan penuh percaya diri.


"Oke, aku akan membayar mahal kerja keras kalian jika berhasil." ucap Leo dengan mimik wajah serius, Leo rela membayar berapapun asalkan tujuannya tercapai.


"Baiklah, tapi beri kami waktu."


"Tentu." Merekapun berjabat tangan tanda sepakat.


Saat pulang kerja, Micko kembali menawarkan dirinya untuk mengantarkan Calista pulang. sesekali pria tampan itu melirik Calista yang duduk disebelahnya, gadis itu terlihat murung dan irit bicara.


"Calista, apa kamu sedang sakit atau terpikir permintaan Oma tadi siang?"


"Tidak Micko, aku hanya mengkhawatirkan ke-dua Anak-anakku."


"Menangnya ada apa dengan Kenzie dan Kenzo, bukankah mereka baik-baik saja dirumah bersama pengasuh?" tanya Micko penasaran.


"Kamu ingat kenapa aku tiba-tiba minta pindah rumah pada malam itu?" kali ini Calista akan berterus-terang tentang siapa ayah dari Anak-anaknya.

__ADS_1


"Ya, dan sampai saat ini aku masih penasaran dengan alasan mu." jawab Micko sambil tetap fokus mengemudi mobilnya.


"Kamu juga pasti ingat tentang pengusaha besar yang bernama Leonardo, dia adalah ayah dari Kenzo dan Kenzie."


"Apa? jadi itulah alasan mu yang tiba-tiba kabur dari restoran, begitu melihat keberadaan Leo?" Micko sempat kaget dan tidak menyangka jika Leo adalah ayah dari ke-dua anak Calista.


"Aku takut Micko, mereka akan merebut Anak-anakku dan membawa mereka pergi jauh." Calista mengusap air mata yang menetes membasahi pipinya.


"Calista percayalah semua akan baik-baik saja, aku akan selalu bersamamu. aku juga akan membantumu untuk mempertahankan hak asuh Kenzie dan Kenzo agar jatuh sepenuhnya padamu." Micko memegangi jemari Calista untuk meyakinkanya.


"Terimakasih Micko, kamu selalu ada untuku." Calista tersenyum hangat membalas tatapan Micko yang dalam menimbulkan getaran-getaran aneh yang sulit diartikan. Suara deringan berasal dari ponsel Micko membuyarkan segalanya.


"Panggilan masuk dari Oma." Micko memperhatikan layar ponselnya.


"Aku yakin Oma sengaja menghubungiku karena mengetahui jika saat ini aku sedang bersamamu." Micko kembali menyimpan ponselnya kedalam saku celana.


"Aku nggak papa Micko, angkat saja sapa tahu ini penting." ucap Calista karena ponsel Micko kembali berdering.


"Baiklah." Micko menggeser layar biru sehingga panggilan Oma langsung terhubung.


"Hallo Oma!"

__ADS_1


"Dasar anak nakal, berani-beraninya kamu mengabaikan panggilanku." umpat Oma geram.


"Maaf...maaf Oma, Micko tidak bermaksud seperti itu."


"Pasti kamu sedang bersama Calista ya kan, ayo ngaku jangan bohongi Oma?" todong Melani.


"Memangnya kenapa jika aku bersama Calista." jawab Micko seraya melirik Calista disampingnya.


"Oma ingin kamu membawa Calista pulang kerumah besar kita, Oma ingin makan malam bareng kalian berdua." ucap Oma.


"Tapi Oma."


"Oma tidak ingin mendengar penolakan darimu lagi Micko, kalau tidak lebih baik Oma kembali ke Amerika tinggal menyendiri di sana, dari pada makan hati dengan sikap mu." ancam Oma.


"Ba... baiklah kita akan ke sana sekarang, Oma jangan ngambek lagi ya." bujuk Micko yang seketika panik.


"Ada apa Micko?" tanya Calista setelah panggilan Micko dan Oma berakhir.


"Oma mengancam ku jika tidak mengajakmu kerumah kami sekarang."


"Memangnya ada apa Micko, Oma memintaku datang kerumah kalian?"

__ADS_1


"Dia ingin mengajakmu makan malam, Calista tolong aku kali ini ya, please jangan buat Oma ku kecewa." pinta Micko penuh pengharapan.


"Baiklah, kita ke rumahmu." jawab Calista karena tidak enak menolak permintaan Micko yang sudah begitu baik padanya selama ini.


__ADS_2