
Calista memeluk kedua Anak-anaknya secara bergantian, lalu menemani mereka bermain Lego, seraya menikmati cemilan hasil buatanya.
Suara deru mobil yang berhenti diperkarangan rumah, membuat Kenzi mengintip siapa tamu yang berkunjung kerumah mereka. melalui celah jendela.
"Hore... hore..., Om Micko datang." teriak Kenzie.
"Om Micko, pasti dia ingin mengajakku ke pantai." Kenzo berlari menuju pintu utama dengan penuh semangat, diikuti Kenzie dari belakang.
Ceklek!
"Selamat datang om Micko."
"Ya sayang, lihatlah apa yang Om bawakan untuk kalian berdua." Micko mengeluarkan bingkisan dari balik punggungnya.
"Terimakasih om Micko."
"Iya sayang."
"Micko, terimakasih karena kamu sudah peduli pada kedua Anak-anakku. tapi jangan terlalu dekat karena aku takut mereka akan membuat mu kecewa suatu saat begitu juga sebaliknya." ucap Calista penuh penolakan.
"Tidak Calista, karena aku ikhlas dan tulus menyayangi ke-dua Anak-anakmu." Micko tersenyum manis kearah Calista.
__ADS_1
***
"Micko, kenapa kamu begitu baik dan peduli terhadap ku. aku tidak ingin nama baikmu akan tercoreng karena dekat denganku wanita yang sudah memilki dua orang anak tanpa menikah." Calista menundukkan kepalanya dalam-dalam.
"Calista, aku sudah menganggap ke-dua Anak-anakmu seperti anakku sendiri. jadi tidak ada salahnya jika aku begitu peduli pada mereka berdua." Micko berusaha meyakinkan Calista tentang ketulusannya.
"Aku hanya tidak ingin kamu terlibat terlalu jauh dengan permasalahan hidupku, karena kita baru bertemu Micko. aku tidak ingin kamu terkena imbasnya." terang Calista yang tidak ingin menyebut nama Leo lagi.
"Calista, bukankah dari awal perkenalan kita dipesawat aku sudah mengatakan jika kita adalah seorang sahabat, sudah sepantasnya untuk saling tolong menolong. please jangan tolak dan karang aku untuk dekat denganmu dan Anak-anak lagi." Micko mengatupkan kedua tangannya keatas.
"Tapi Micko..!"
"Jangan diteruskan lagi Calista, meskipun kamu menolak aku akan tetap peduli padamu, aku yakin kamu pasti butuh bantuan dan dukungan dariku di negara ini, jadi jangan pernah anggap aku orang asing lagi."
Kata-kata Micko mampu menenangkan hati Calista, gadis cantik tubuh tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
"Baiklah Micko, terimakasih karena kamu sudah peduli padaku dan Anak-anak."
"Ya Calista, percayalah padaku jika semua pasti akan baik-baik saja."
"Om Micko, aku ingin ke pantai!"
__ADS_1
"Aku juga."
Ucap Kenzo dan Kenzie hampir berbarengan, membuyar obrolan kedua orang dewasa yang tengah tersenyum menatap mereka.
"Baiklah, sesuai janjiku kemaren, maka hari ini kita akan ke pantai untuk menikmati indahnya suasana pantai sambil bermain pasir."
"Wah asyik, aku sudah tidak sabar lagi." Ucap Kenzo dengan mata berbinar-binar karena selama ini Leo hampir tidak pernah mengajaknya ke pantai dengan berbagai alasan.
Sampai di pantai, kedua bocah-bocah itu berlarian dengan riang gembira. Micko berhasil mencuri perhatian kedua Anak-anaknya Calista dengan memposisikan dirinya seperti seorang ayah yang baik.
Mereka membangun sebuah istana pasir yang begitu indah, sesekali mereka tertawa lepas menikmati deru ombak yang gulung menggulung membasahi istana yang belum jadi sehingga kembali mereka pindah ketempat yang tidak terkena ombaknya, terpaan angin segar terasa begitu damai.
"Calista, apa kamu juga menyukai pantai?"
"Ya Micko, aku merasa tenang dan sejauh-jauhnya mata memandang aku melihat keindahan yang benar-benar nyata."
Calista bangkit, melangkahkan kakinya menuju pasir yang sudah dibasahi ombak, Micko tersenyum memperhatikan Calista, dia tahu pasti sudah banyak cobaan dan rintangan yang sudah dilalui gadis yang terlihat begitu tegar dalam menghadapi dan menyembunyikan permasalahan hidupnya.
Rambut Calista tergerai lepas, semakin menambah pesona kecantikan alami yang dimilikinya, tanpa sadar Micko menatapnya tanpa berkedip.
"Sangat cantik!"
__ADS_1