
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Leo mengulurkan tangan terbesit rasa bersalah dihatinya.
"Ini semua gara-gara kamu, jangan sentuh aku." Calista mengibas tangannya, lalu berusaha untuk berdiri dengan susah payah, namun sebelah kaki kirinya sangat sakit saat dipaksa untuk melangkah.
Leo tidak menghiraukan penolakan Calista, tangannya mulai memijid kaki Calista yang memerah seperti keseleo.
"Aduuuh sakiiit."
"Sebaiknya kamu istrahat di kamar Anak-anak, aku akan membantu mengobati kakimu." ucap Leo saat melihat Calista yang masih kesakitan, namun masih bersikeras tidak ingin dibantu.
"Mommy, untuk menghadapi laki-laki seperti Daddy, dibutuhkan kesabaran ekstra," bisik Kenzo.
"Aaaauuww!"
Refleks Calista berteriak saat Leo langsung menggendong tubuh nya ala bridal style menuju kamar anak-anak mereka dilantai dua.
"Awas kamu Leo, jika membuatku jatuh lagi!" umpat Calista bercampur rasa khawatir, karena dalam beberapa jam dia sudah dua kali dibuat jatuh oleh Leo.
"Jujurlah jika kamu menginginkan hal ini!" Leo tersenyum nakal.
__ADS_1
"Turunkan aku, dasar laki-laki yang suka cari kesempatan. Siapa juga yang sudi di gendong oleh pria mesum sepertimu."
"Aku tahu semua ini akal-akalanmu, Calista."
Perkataan Leo membuat Calista semakin geram, dia berusaha melepaskan diri dari gendongan Leo. yang mulai menapaki satu persatu anak tangga.
"Turunkan aku disini!"
"Diamlah, jika kamu tidak ingin kita sama-sama jatuh dari ketinggian tangga ini!" ucap Leo saat pergerakannya oleng. Calista melirik kebawah, dia bergidik ngeri membayangkan jika kembali jatuh, tubuhnya pasti akan lebih cidera lagi. Sehingga mau tidak mau diapun mengalungkan kedua tangannya dileher Leo, pria tampan itu langsung tersenyum begitu melihat Calista yang mulai bisa dijinakkan kayaknya seekor kelinci lucu dan imut.
Pikiran Leo mulai menerawang, membayangkan jika mereka berdua tengah memasuki kamar pengantin, yang sudah didekorasi seindah dan seromantis mungkin. Pijakan kakinya terasa menyentuh kelopak bunga mawar merah yang disekelilingnya terdapat beberapa lilin-lilin kecil sebagai penerangan.
Rasanya Leo tidak pernah puas, menatap wajah cantik seperti bidadari dihadapannya. Mata, hidung dan lekuk bibir mungilnya yang begitu menggoda. Seumur hidupnya baru kali ini Leo mersakan beruntung mendapatkan seorang perempuan, sangat imut seperti kelinci kecil yang lucu. Tangan Leo terus menelusuri wajah cantik tersebut, seakan tersihir. Calista hanya bisa memejamkan mata menikmati usapan lembut diwajahnya, debaran jantungnya terus berpacu seiring dengan tubuhnya yang memanas menahan gejolak. Bibir mereka kembali saling ******* penuh gairah.
"Sangat cantik, aku tidak akan pernah melepaskanmu." bathin Leo, pasangan ini terhanyut begitu jauh, sehingga tidak menyadari sepasang kaki mungil Kenzo berjalan menuju kamar.
Ceklek!
" Mommy!"
__ADS_1
"Daddy, apa yang kalian lakukan?"
Calista langsung tersadar, spontan dia mendorong kasar tubuh Leo.
"Kenzo, semua ini tidak seperti yang kamu lihat nak." jawab Calista serba salah.
"Iya, barusan mommymu ingin mengajak Daddy mengikuti sebuah permainan. Mau tidak mau terpaksa Daddy menyanggupi nya, jika tidak dia tidak akan memaafkan Daddy atas insiden barusan." jawab Leo yang langsung mendapatkan plototan tajam mata Calista.
"Wah pasti permainannya seru, apa aku boleh ikutan?"
"Tidak!!!" refleks Leo dan Calista menjawab bersamaan, sehingga Kenzo jadi tersenyum bahagia.
"Aku suka melihat mommy dan Daddy menjadi kompak begini!"
"Mana adikmu, Kenzie?" ucap Calista mengalihkan pertanyaan.
"Sedang bersama Oma dan Opa." jawab Kenzo duduk diantara kedua orang tuanya.
"Bagaimana dengan kaki dan pinggang mommy, apa masih sakit?"
__ADS_1
"Tidak, ini cuma hal kecil yang tidak perlu dikhawatirkan." jawab Calista.