
"Kopi ini sangat pahit, apa kamu tidak pandai meraciknya?"
"Saya sudah melakukan yang terbaik tuan, dimana-mana yang namanya kopi hitam selalu pahit. maaf jika hasilnya tidak sesuai dengan seleramu." jawab Calista gugup bercampur kesal, karena dia sudah bisa membaca niat Leo yang ingin mengerjainya kembali.
"Aku tidak mau tahu, pokoknya kamu buatkan aku kopi yang jauh lebih enak dari ini. dan tentunya tidak pahit." perintah Leo.
Calista mendengus kesal, kembali membawa gelas kopi menuju pantry. tidak peduli tatapan karyawan lain yang berbisik-bisik saat melihatnya.
"Aku yakin karyawan baru itu kena marah bos, karena kopi comberan buatanya ha...ha...." sindir Mona salah satu staf yang sudah lama menyukai Leo.
"Iya, dia pikir mudah mendapatkan hati tuan Leo." jawab temannya yang lain. sedangkan Calista tidak ambil pusing saat mendengar ucapan mereka.
Dengan wajah manyun, Calista kembali mengaduk kopi buatanya yang ke-dua, ketiga. namun masih saja ditolak oleh Leo.
"Sepertinya aku harus melawan mu, kali ini Leo."
__ADS_1
Calista yang masih kesal dikerjai Leo berkali-kali, mengganti gula dengan garam. dia sudah bertekad untuk membalas perbuatan Leo yang menurutnya sudah keterlaluan dan semena-mena menindas dirinya selaku bawahan.
"Tuan ini kopinya, kali ini kopi buatanku tidak akan mengecewakanmu lagi." meletakan kopi yang ke tiga di hadapan Leo.
Leo tersenyum sinis, dan mulai menyeruput namun baru satu teguk dia langsung menyembur kan keluar.
"Kopi apa-apaan ini, asiin banget!"
"Rasain kamu Leo, sapa suruh kamu mengerjaiku berkali-kali." Calista tertawa lepas dalam hatinya.
"Calista, kamu sengaja kan memberi garam kedalam kopi ini!" tanya Leo dengan tatapan tajam.
"Berani-beraninya kamu, awas saja jika kamu kembali mengulangi nya. aku tidak segan-segan memecat mu. meskipun ada mami yang akan membelamu nantinya." ancam Leo.
"Kamu lupa ya, bukan mami Sarah saja yang akan berpihak padaku, tapi ada ke-dua Anak-anakku dan juga papimu juga Leo." balas Calista tersenyum penuh kemenangan saat melihat Leo yang tidak berkutik saat mendengar nama Anak-anaknya, karena Leo tidak pernah bisa menolak keinginan kedua anaknya tersebut.
__ADS_1
"Sudah aku duga, kamu terlalu licik Calista, memanfaatkan orang-orang terdekatku untuk mencapai tujuan mu."
"Terserah penilaian mu, Leo. aku tidak peduli." jawab Calista berjalan meninggalkan ruangan Leo.
"Tunggu!"
"Apa lagi tuan Leo yang terhormat!"
"Tolong bersihkan kembali kaca didepan ruangan ku, yang kamu pakai untuk dandan barusan, kamu sengaja memperbaiki penampilan mu untuk menggodaku kan?" Leo menaikkan sebelah alisnya keatas, wajah Calista langsung merona karena malu, dia tidak menyangka jika aksi konyolnya barusan terlihat jelas dari dalam ruangan kerja Leo.
Leo tersenyum puas karena berhasil mengerjai dan membuat Calista kesal hari ini, sesungguhnya dia sangat menyukai kopi buatan Calista. yang menurutnya mempunyai cita rasa tersendiri. hanya saja ada kebahagiaan tersendiri setiap melihat wajah marah dan kesal gadis itu.
"Terlihat imut dan sangat mengemaskan, jika dia sedang marah...ha...ha..." Leo tertawa sendiri membayangkan wajah Calista.
Calista masuk kedalam ruangan kerjanya, menghempaskan tubuhnya disandaran kursi. perlahan dia memejamkan mata untuk menguasai kembali emosinya yang masih memuncak. setelah itu dia kembali melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda lama, karena harus bolak-balik membuat kopi.
__ADS_1
"Arya, maafkan aku yang belum siap mengerjakan tugas ku sendiri." ucap Calista ketika Arya masuk keruangan nya.
"Tidak masalah, aku akan membantumu mengerjakannya." ucap Arya tersenyum tulus, berusaha menahan debaran aneh dijantungnya setiap berdekatan dengan Calista.