
"Alhamdulillah, Oma sangat bersyukur sekali jika kamu dan Anak-anak bersedia menerima Micko." Marlina tersenyum bahagia lalu memberi kode pada Micko untuk segera memasangkan cincin ke jemari manis tangan Calista.
"Calista, izinkan aku memasang cincin ini di jemari manis tangan mu." ucap Micko.
"Silahkan Micko." Calista menjulurkan sebelah tangannya kehadapan Micko.
"Sekarang kamu sudah sah menjadi calon istrinya Micko, semoga kalian segera menikah. sehingga bisa memberikan kasih sayang orang tua yang lengkap untuk Kenzie dan Kenzo, termasuk memberikan Oma banyak cicit setelah nya." pinta Oma.
"Mulai sekarang jangan panggil om lagi ya, tapi Daddy." ucap Micko pada anak-anak Calista.
"Iya Daddy."
Perasaan penuh kehangatan menjalar didada Micko ketika mendengar Anak-anak memangilnya dengan sebutan Daddy, dia berharap kedepannya kehidupannya akan menjadi penuh warna. begitu juga dengan Oma sudah lama dia tidak merasakan kebahagiaan seindah malam ini. Calista juga telah menemukan kehidupannya yang baru bersama Micko, dengan mengubur semua kenangan pahitnya bersama Leo.
Setelah resmi bertunangan, Micko menjadi lebih perhatian dan tidak malu-malu lagi menunjukkan kemesraan mereka pada semua orang, terutama di tempat kerja. diam-diam Calista mulai mengagumi pribadi Micko.
__ADS_1
"Micko, terimakasih karena kamu sudah bersedia menerimaku apa adanya."
"Sebagai calon suami, sudah sepantasnya aku membantumu dan Anak-anak. mulai sekarang kamu harus bahagia dan jaga kesehatan, karena aku tidak ingin calon istriku sakit sebelum pernikahan kita." Micko mengelus lembut pipi Calista sehingga membuatnya terharu, dan berfikir kenapa bukan Micko saja yang menjadi ayah kandung Kenzo dan Kenzie.
Ditempat lain, Leo tengah larut dalam lamunan. dia merasa hampa dan kesepian ditengah keramaian. ada sesuatu yang hilang di relung hati terdalamnya sehingga membuatnya semakin larut dalam kesedihan, pria tampan yang biasanya selalu enerjik dan penuh ambisi dalam setiap langkah ataupun pekerjaannya, Namun sekarang berubah Leo tidak memiliki semangat lagi.
"Tuan apa anda sakit?" tanya kepala pelayan merasa aneh melihat sikap leo akir-akir ini, bahkan dia malas-malasan dalam setiap kegiatan.
"Tidak, aku hanya ingin segera menemukan Calista dan Anak-anakku dan membawa mereka kembali pulang kerumah." jawab Leo dengan tatapan dalam kearah foto kedua Anak-anaknya.
Leo menepikan mobilnya di daerah pantai, postur tubuhnya yang tinggi tegap, dengan wajah yang rupawan membuat para pengunjung wanita terpesona. mereka terlihat berlomba-lomba berusaha menarik perhatian Leo yang cuek dan dingin. namun tidak begitu lama senyum tiba-tiba mengembang di bibirnya, ketika ke-dua bola mata tajam Leo melihat sosok wanita yang tengah dicari dan dirindukannya selama ini berjalan keluar dari toko kue.
"Akhirnya aku menemukanmu Calista!"
Leo terus mengikuti langkah kaki Calista dengan jarak tidak terlalu dekat, perempuan cantik itu menenteng dua kotak kue pesanan Anak-anaknya yang menunggu dirumah.
__ADS_1
"Aku tidak boleh kehilangan jejak Calista."
Leo mempercepat langkah kakinya, mengejar Calista menarik kuat tangannya. Calista terlonjak kaget begitu tangannya ditarik, bahkan dua langsung syok begitu mengetahui jika itu adalah perbuatan Leo.
"Calista, kali ini aku tidak akan pernah melepaskanmu lagi." ucap Leo penuh penekanan bahkan lehernya terlihat mengeras.
"Lepaskan aku, Leo. jika tidak aku akan berteriak-teriak begal sehingga orang-orang disini pasti akan menghajar mu." ancam Calista.
"Lakukan saja karena aku tidak takut, karena aku yakin mereka tidak akan mempercayai mu." Leo tersenyum sinis.
"Apalagi yang kamu inginkan Leo, cukup sudah kamu menyakitiku dan Anak-anak."
"Please Calista, jangan siksa aku seperti ini. bukankah aku sudah berusaha dan meminta maaf pada kalian." ucap Leo tulus.
***
__ADS_1