
Sedangkan Leo melonggos kesal, dia berfikir jika Calista sudah mempengaruhi pikiran ibu dan anak-anaknya. Leo melangkah meninggalkan ruangan kamar tanpa berbicara apa-apa lagi. dibalik semua itu, Leo merasa harinya selalu berbunga-bunga jika berdekatan dengan Calista, bahkan senyum masih terukir dibibir Leo saat teringat permintaan mami yang menyuruhnya segera menikahi Calista, namun rasa gengsi yang tinggi membuat Leo masih bertahan dengan sikap dingin dan cueknya.
Saat Calista hendak pulang, leo tiba-tiba mencegat langkah nya.
"Calista, tunggu!"
"Ada apa lagi, Leo?"
"Ternyata kamu begitu berambisi untuk menikah dengan ku, sehingga memanfaatkan orang-orang terdekatku. seperti mami dan Anak-anak yang masih polos." ucap Leo uang membuat Calista merasa tersinggung.
"Tuan, selain mesum anda juga ternyata memiliki rasa percaya diri yang begitu besar." ucap Calista.
"Seandainya kamu berterus-terang, meminta secara langsung untuk aku nikahi mungkin aku akan dengan senang hati menyanggupi nya, tapi kamu terlalu naif bersembunyi dibalik perasaanmu yang menginginkan aku." ucap Leo sambil mengukir senyum miring diwajah tampan nya.
__ADS_1
"Jangan mimpi!" Calista mengayunkan langkahnya, namun kembali dihalangi Leo.
"Jawab dengan jujur, kamu sering-sering datang kerumah ini bukan karena Anak-anak, melainkan ingin dekat dengan ku bukan?"
"Sudahlah Leo, aku malas berdebat dengan mu."
Calista langsung melangkah pergil meninggalkan Leo, yang masih terlena membayangkan berjalan di atas red carped sambil membimbing sebelah tangan Calista menuju pelaminan.
"Oh, ****!"
"Kemana gadis itu, kenapa dia begitu cepat menghilang nya?" mengedarkan pandangannya ke sekeliling halaman luas rumahnya.
Calista mempercepat langkah kakinya, dia masih kesal dengan tuduhan Leo barusan.
__ADS_1
"Aww!...sakiiit banget!"
Calista memegangi kakinya yang kesandung batu besar dihadapanya, karena berjalan terlalu buru-buru dan tidak konsentrasi. Leo yang mendengar suara Calista mempercepat langkah menuju asal suara.
Calista kembali berusaha untuk memaksakan kakinya berjalan, namun tidak bisa dia kembali oleng, sepasang tangan kekar milik Leo langsung menangkap tubuh Calista dari arah belakang, lalu menarik kedalam pelukannya.
"Leo!"
Kedua pasang mata mereka bertemu, tatapan mata Leo yang melembut membuat Calista terpana. deru nafas Leo yang memburu menyapu kulit wajah Calista, sepasang tangan kokoh masih melingkar seakan ingin melindungi Calista setiap saat, sehingga hati Calista menjadi sejuk dan nyaman. dengan muka merah merona Calista membenamkan wajahnya didada kekar milik Alex, sehingga dia dengan leluasa bisa mendengar detak jantung pria tersebut. mulut kedua nya terkunci rapat, menikmati suasana romantis diantara mereka berdua.
"Lain kali, hati-hati dalam berjalan. lagian aku siap mengantarkan mu kapanpun kamu inginkan." ucap Leo menuntun langkah Calista pelan-pelan menuju mobil Rollies Royke miliknya.
Sepanjang perjalanan pulang, Calista lebih banyak diam. memperhatikan kerah luar kaca mobil. sedangkan Leo juga bingung harus memulai perkataannya, sehingga diapun larut dalam pikirannya membayangkan ketika Calista jatuh kedalam pelukannya, rasanya begitu indah dan mendebarkan, begitu juga sebaliknya yang dirasakan oleh Calista. namun rasa gengsi dan ego masing-masing terlalu tinggi untuk diruntuhkan.
__ADS_1
Sesekali Leo melirik kesamping, memperhatikan wajah cantik Calista. yang selalu membuatnya merindu dan bergairah setiap saat. bahkan dia sangat menginginkan agar Calista selalu disisinya, namun rasa marah dan kesal nya pada Calista sesekali muncul, dimana dia masih berfikir jika Calista adalah seorang ibu yang egois karena meninggalkan Kenzo dalam keadaan sakit dan tidak berdaya diumur nya yang masih sangat bayi.