
Calista mempercepat langkah kakinya, dia baru saja keluar dari rumah besar Leo. Calista memaksakan diri untuk segera pulang kerumah karena mendengar bibi Ani yang tiba-tiba sakit. sedangkan Leo belum pulang dari kantor nya. udara dingin yang disertai gerimis tidak menyurutkan langkah kakinya. sesekali pandangan Calista menoleh ke arah belakang yang kosong.
"Kenapa aku merasa diikuti?"
Calista meraba tengkuknya yang tiba-tiba meremang, lalu kembali mempercepat langkah kakinya, seraya menyesali keputusannya yang mengambil jalan pintas yang sepi agar segera sampai dirumah.
Seorang pria bertubuh tegap terus mengendap-endap mengikuti nya, seakan suasana sepi mendukung aksi nya.
"Puck!" Calista kaget saat seseorang menepuk pundaknya.
"Aaaww!"
"Calista!
"Nick, untuk apa kamu kembali muncul dihadapan ki." ucap Calista begitu melihat Nick dengan aroma alkohol yang menyengat keluar dari mulutnya.
"Calista sayang, ayolah ikut dengan ku. kita akan memulai semuanya dari awal."
"Tidak Nick, tolong jangan pernah ganggu hidup ku lagi. hubungan kita sudah lama berakhir."
Sekuat tenaganya Calista mendorong tubuh Nick agar menjauh, lalu berlari meninggalkan pria itu namun tenaganya kalah banyak. Nick berhasil menangkap tubuh nya.
Bugh!!
__ADS_1
Nick membekap mulut Calista yang mencoba berteriak, dengan sebuah sapu tangan yang sudah diberi obat bius sebelumnya. seketika Calista kehilangan kesadaran terkulai lemas tidak berdaya.
"Kali ini, kamu tidak akan lepas dariku Calista." Nick langsung memopong tubuhnya menuju mobil. segera meninggalkan lokasi dengan kecepatan tinggi.
"Kita akan hidup bersama selamanya disini, sayangku." bisik Nick merebahkan tubuh Calista diranjang empuk di sebuah Villa mewah miliknya.
"Kamu tidak pernah berubah Calista, tetap cantik dan menggairahkan." bisik Nick namun seketika ekspresi nya berubah ketika teringat Leo.
"Tidak akan aku biarkan seorangpun memiliki mu, termasuk pria itu." Nick mengepalkan tangannya.
Calista perlahan mulai menggerakkan satu persatu anggota tubuhnya, perlahan kesadarannya mulai berkumpul, Calista membulatkan matanya begitu menyadari jika dua terbaring disebuah ranjang berukuran king' size. dengan kedua kaki dan tangan yang sudah terikat.
"Aku dimana?"
Calista mengerjap membuka matanya, melihat tempat di sekelilingnya yang aneh, wajahnya berubah pucat dan ketakutan begitu melihat disana ada Nick yang tengah tersenyum kearah nya.
"Aku dimana, tolong lepaskan dan izinkan aku pulang. bibiku sedang sakit dan sangat membutuhkan aku." pinta Calista menghiba, begitu menyadari jika dia sudah diculik dan dibawa ketempat yang jauh.
"Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan untuk bisa lolos dari pria gila ini." Calista berusaha bersikap tenang sambil mencari jalan keluar untuk bisa kabur.
"Aku juga membutuhkan dirimu sayang, ditempat ini kita akan hidup bersama." bisik Nick dengan tatapan penuh gairah. Calista mundur menjaga jarak dari Nick yang terus mendekat hingga ikut naik keatas ranjang.
Calista menggelengkan kepalanya, menagis dan memohon agar Nick tidak melakukan sesuatu yang buruk terhadap nya. Calista terus berdua dalam hati agar Nick melepaskan diri nya untuk pergi sejauh mungkin.
__ADS_1
Diperusahaan nya, Leo mulai resah dan gelisah karena alat pelacak yang sebelumnya dipasang diponsel Calista tiba-tiba tidak berfungsi, seperti sengaja dirusak oleh seseorang.
"Kenapa aku kepikiran Calista?"
Leo menghubungi ponsel Calista, namun panggilan ke-lima tidak ada jawaban. tanpa pikir panjang lagi leo segera pulang untuk memastikan kekhawatiran nya.
Begitu sampai dirumah, Leo tidak menemukan keberadaan Calista.
"Kenzo, Kenzie. mana mommy kalian?"
"Mommy sudah pulang kerumahnya dad, karena bibi Ani sedang sakit." jawab Kenzie.
"Kenzie, coba hubungi bibi Ani, tanyakan apakah Calista sudah sampai dirumah?"
"Baiklah, dad."
Seketika Kenzie menghubungi ponsel bibi Ani, tidak lama bocah itu menghampiri sang Daddy dengan wajah murung.
"Kenapa Kenzie?"
"Mommy belum sampai dirumah, padahal dia pergi sore dan sekarang sudah malam. aku takut mommy kenapa-napa dad." ucap Kenzie berusaha menahan air matanya.
"Kita akan cari mommy bersama-sama, kamu jangan takut." bujuk Leo menatap iba sang anak.
__ADS_1
"Daddy, sudah saatnya kami memanfaatkan kemampuan kamu dalam melacak." ucap Kenzo sambil mengeluarkan laptopnya.
"Ya, Daddy yakin akan kemampuan yang kalian miliki." ucap Leo tersenyum bangga.