
Calista melepaskan pelukannya Leo dan segera turun, dia tidak ingin lebih lama lagi berduaan dengan Leo yang hanya akan menggoyahkan benteng pertahanan yang sudah dia juga selama ini.
"sepulang Leo, sekarang sudah larut malam."
Calista segera masuk kedalam rumah, menutup rapat pintu setelah memastikan mobil Leo pergi dari rumahnya, Calista masuk kekamar Anak-anaknya menyantap mereka bergantian. kecupan lembut dilayangkan pada ke-dua pipi Kenzo dan Kenzie, setelah itu Calista ikut berbaring tidur bersama mereka.
Makam semakin larut namun Calista tidak bisa memejamkan matanya barang sepicing pun, dia masih merenungi perjalanan hidup nya dimasa lalu dan bagaimana kedepanya begitu juga dengan Leo.
"Calista, aku menyukai semua yang ada pada dirimu. aku telah kecanduan aroma dan hangatnya tubuhmu, sehingga aku selalu ingin menciumimu lagi dan lagi." Leo tersenyum dengan fantasi liarnya seraya membayangkan Calista.
Leo meraba bibirnya sendiri, ciuman panasnya dan Calista barusan masih terasa manisnya. mereka saling bertukar nafas getaran aneh dan hentakan yang begitu menggila di dadanya, layaknya ABG baru pertama kali jatuh cinta.
Matahari pagi bersinar begitu cerah, menghangatkan seluruh penghuni bumi untuk menjalankan aktivitas mereka masing-masing, begitu juga dengan Leo, semangat dan gairah hidupnya kembali bangkit.
"Aku sangat ingin bertemu Calista, meskipun dua menolak kehadiranku."
__ADS_1
Leo membersihkan tubuhnya lalu berpakaian santai, namun tidak mengurangi kesan rapi dan jati dirinya sebagai pria terhormat. yang digilai banyak wanita cantik.
"Calista aku tidak akan pernah menyerah, semoga masih ada secuil harapan untukku bisa mendapatkan hati dan cintamu. kamu sudah menyita seluruh perhatianku, pagi, sore, malam bahkan setiap waktu hanya kamu yang aku pikirkan."
Leo melajukan mobilnya dengan perasaan berbunga-bunga menuju arah rumah Calista, terbayang wajah ayu dan lembut dari wanita yang sudah menjadi ibu dari anak-anaknya, bibir Leo bersenandung kecil menggambar suasana hatinya yang bahagia setiap akan bertemu anak-anak dan Calista. dia ingin berjuang sebelum Calista benar-benar menikah dengan Micko.
Senyum merekah dibibir Leo seketika memudar, dadanya begitu sesak karena sakit yang tidak mengeluarkan darah. begitu melihat di halaman rumah Calista sudah terparkir terlebih dahulu mobil Micko, dia telah kalah satu langkah dari dokter tampan tersebut. leo mengepalkan tangannya menahan gemuruh dihatinya apalagi saat melihat mereka bergandengan tangan menuju mobil, tawa Calista begitu lepas seolah-olah tanpa beban, sesuatu yang tidak pernah Calista tunjukkan dihadapanya.
Impian cinta Leo telah hancur, bagaimana pun Calista lebih memilih Micko dan memperlakukannya dengan begitu istimewa. Leo tidak sanggup menyaksikan kemesraan mereka, dia tidak rela Calista disentuh pria lain. tapi dia juga tidak berdaya menghentikan mereka yang saling melempar senyum. sesuatu yang terasa begitu menyiksa Leo.
Setelah memastikan mobil Micko pergi, barulah Leo memasuki pekarangan rumah Calista. nampak kedua Anak-anaknya tengah bermain ditemani pengasuh.
"Kenzo, Kenzie. Daddy datang." sapa Leo berusaha ceria dihadapan Anak-anak.
"Daddy!"
__ADS_1
"Daddy."
Kenzo dan Kenzie merentangkan kedua tangannya penuh semangat berlari kearah Leo.
"Daddy, ayo kita bermain bola." ajak Kenzo.
"Oke."
"Daddy sekarang aku sudah lebih mahir dalam menendang bola." ucap Kenzo memperlihatkan kemajuannya dalam menendang bola
"Anak Daddy jagoan, siapa yang sudah mengajarimu teknik ini?" tanya Leo.
"Om Micko, dia mengajari kami banyak hal."
Leo merasa telah kalah banyak, namun dia tidak akan pernah menyerah. bahkan dia akan merebut perhatian dan kasih sayang anaknya seperti dulu lagi sehingga tidak ada tempat untuk Micko dihati Anak-anaknya maupun Calista. Leo akan berusaha dan menjelma menjadi sosok seorang ayah yang hebat nantinya.
__ADS_1
***