
"Calista, jangan bersedih dan malu akan masa lalumu, Oma tahu kamu adalah gadis baik-baik."
"Terimakasih Oma, karena telah peduli denganku."
"Tentu sayang, oya sudah berapa lama kamu mengenal cucuku." tanya Marlina yang makin penasaran, dia yakin Calista pasti seseorang yang istimewa bagi Micko.
"Kami bertemu secara kebetulan dipesawat, dia menolong anakku sewaktu sakit." Calista mengingat kembali awal pertemuannya dengan Micko.
"Sepertinya hubungan Micko dan Anak-anakmu cukup dekat ya?"
"Iya Oma, bahkan tuan Micko sering mengajak mereka pergi main bareng."
Micko yang baru selesai dari ruangan pasien, langsung mempercepat langkah kakinya menuju restoran yang terletak tidak jauh dari lokasi rumah sakitnya, setelah membaca pesan singkat dari Oma.
"Oma!"
"Micko, cucuku." Marlina langsung bangkit dan memeluk Micko dengan penuh kerinduan, mengingat sudah hampir tiga bulan mereka tidak bertemu.
"Bagaimana dengan kondisi Oma?"
"Oma masih seperti dulu, penyakit Oma tidak akan pernah sembuh jika belum melihat mu menikah dan bahagia." ucap Oma mengusap punggung Micko.
__ADS_1
Calista yang merasa tidak enak, karena berada diantara cucu dan nenek yang saling melepas rindu, segera pamit ingin kembali bekerja namun langkahnya ditahan Marlina.
"Calista, kamu mau kemana sayang?"
"Maaf Oma, aku harus kembali bekerja." ucap Calista merasa tidak enak, apalagi disana sudah ada Micko.
"Ayo kembali duduk, jangan malu-malu ataupun sungkan pada Oma dan Micko. mulai sekarang anggaplah kami berdua orang terdekat mu."
"Iya Oma."
"Micko, kamu sudah menemukan pendamping yang tepat." bisik Marlina ditelinga Micko.
"Apa maksud Oma?"
"Calista, sepertinya kamu dan Micko adalah pasangan yang serasi. bagaimana jika kalian berdua menikah saja." Marlina yang tidak bisa menahan diri lagi, langsung mengutarakan apa yang sedari tadi mengganjal di hatinya. Calista yang tengah menyeruput minumannya langsung terbatuk-batuk.
DEGH!!!
"Uhuck... uhuck...!"
"Calista, kamu nggak papa kan?" Micko yang panik segera mengusap punggung Calista.
__ADS_1
"Duh, romantisnya." goda Oma sambil tersenyum mengejek Micko yang tengah menatap malu kerahnya.
"Oma, hubungan ku dengan Calista tidak lebih sebagai seorang sahabat. jadi Oma jangan memancing pembicaraan dan menjodoh-jodohkan aku lagi seperti sebelumnya." jawab Micko.
Sedangkan Calista masih terlihat syok, bagaimana tidak dia dihari pertama pertemuannya dengan Marlina, wanita itu langsung menyukainya dan meminta untuk menikahi Micko.
"Calista, tolong jangan tolak permintaanku ini." pinta Marlina tanpa menghiraukan Micko yang mungkin saja tidak setuju dengan keputusan yang begitu tiba-tiba tersebut.
"Maaf Oma, beri aku waktu untuk menjawab permintaan Oma." Calista benar-benar dibuat dilema.
"Ya sayang, Oma tidak minta jawaban mu sekarang. besok Oma akan datang lagi untuk mengajakmu makan siang dan jalan-jalan bareng." ucap Marlina yang bersiap-siap untuk pergi.
Setelah kepergian Oma, Micko yang mesra tidak enak terhadap Calista, langsung meminta maaf karena tidak ingin perempuan itu menjauhinya.
"Calista, maaf atas sikap Oma. aku harap kamu tidak mengambil hati perkataannya barusan."
"Ya Micko, semua yang melihat kedekatan kita selama ini pasti akan berfikir dan sependapat. karena mereka tidak mengetahui hubungan kita yang sesungguhnya." jawab Calista yang tidak ingin bertemu pandang dengan Micko.
"Calista maaf jika aku lancang, tapi aku ingin tahu bagaimana perasaan mu padaku?"
"Kamu orang baik Micko, aku merasa tenang dan sangat bersyukur memiliki seorang sahabat seperti mu."
__ADS_1
"Ya aku juga merasakan hal yang sama dengan mu." Jawab Micko sambil tersenyum getir, sambil berjalan menuju ruang kerja mereka masing-masing.
***