Merindukan Jingga

Merindukan Jingga
21. Drama Percintaan


__ADS_3

Di dalam mobil mereka masih saja terdiam. Sesekali Alan melirik perempuan di sebelahnya dengan tatapan kesal. Banyak hal yang sudah ingin dia tanyakan, tapi masih saja dia tahan untuk memberi jeda pada Jingga dari kejadian yang sudah mengguncangnya secara emosional.


Beberapa kali Alan menghela nafas berat, hingga mobil Jeep itu membelok masuk ke halaman rumah yang terdapat beberapa pohon palm yang berjajar menyambut. Dibukanya pintu mobil dan mengiringi langkah Jingga yang langsung masuk ke dalam kamar.


Keduanya kini berada di dekat sofa yang ada di dekat jendela kamar.


"Duduklah! " titah Alan memerintahkan Jingga untuk duduk di sofa. Lelaki itu masih menahan kesal karena masih banyak pekerjaan kantor yang harus ditinggalkannya.


"Kenapa ponselmu tidak bisa di hubungi? " tanya Alan dengan tatapan mengintimidasi membuat Jingga menunduk dengan rasa bersalahnya.


"Batrainya low, Mas!" lirih Jingga suaranya seperti tercekat karena melihat tatapan tajam Alan. Baru kali ini dia melihat Alan semarah itu.


"Kalau tau ponsel mati, setidaknya kamu punya inisiatif untuk pulang lebih cepat! Bukannya malah sengaja terlambat! Dimana teman-temanmu itu? Kenapa mereka tidak bersamamu? " Suara Alan terdengar meninggi, Ada luapan emosi yang tersisip di dalamnya.


"Tidak Ada yang sengaja ingin pulang terlambat! Aku hanya terjebak di toilet! " bantah Jingga tak kalah emosi tatkala mendengar bentakan Alan. Hatinya seperti tercubit, saat suaminya melontarkan kalimat dengan nada yang meninggi.


"Kamu ini kebiasaan membantah! Dimana sopan santunmu, Jingga Andini?" Emosinya semakin menjadi saat mendengar Jingga yang masih membantahnya.


Tak ingin tangisnya pecah karena kemarahan Alan, jingga memilih diam. Perempuan yang mengerucutkan bibirnya dengan mata yang sudah berkaca-kaca itu menghentakkan kakinya untuk masuk ke dalam kamar mandi.


"Shiiiittt.... " umpat Alan dengan melayangkan kepalan tangannya di udara. Emosi, membuatnya tak bisa mengendalikan diri. Tidak seharusnya dia harus berbicara dengan Jingga sekasar itu dan bukan maksutnya menyalahkan Jingga, dia hanya tidak tahan melihat keadaan Jingga yang kacau di tambah lagi pekerjaan kantor yang belum terselesaikan.


Alan berjalanan menuju dapur, dia akan membuatkan coklat panas untuk Jingga. Menurutnya Jingga butuh sesuatu yang akan membuat rileks.


Sambil membawa coklat panas, Alan masuk ke dalam kamar. Pandangannya menyapu seluruh ruang kamar tapi istrinya masih berada di kamar mandi. Alan meletakkan segelas coklat panas di atas nakas, kemudian meninggalkan kamar tanpa sepengetahuan Jingga.


Jingga keluar kamar mandi, pandangannya mengedar tapi tak di temui sosok suaminya. Perempuan yang sudah mengenakan piyama itu keluar kamar untuk mencari Alan, tapi tetap saja tidak menemukan Alan.


Dengan rasa cemas, Jingga menaiki tangga mencari Alan di lantai dua, sekali lagi semua kosong tak ada siapapun yang di temuinya di sana.


"Kenapa Mas Alan meninggalkanku? Apa sefatal itu kesalahanku, hingga Mas Alan meninggalkanku?" Jingga bermonolog. Kali ini dia tak bisa menahan air matanya. Tangisnya pecah di balkon depan kamarnya yang dulu.


Hampir setengah jam dia menangis, di liriknya jam yang ada di dinding kamar, ternyata sudah pukul sepuluh malam tapi suaminya belum juga pulang, dan itu membuat hatinya semakin gelisah.


Matanya tidak lepas dari jalan yang ada di depan rumah, dia berharap Alan cepat pulang. Terlihat sebuah Honda Jazz berhenti tepat di jalan depan rumah, dan alan keluar dari dalamnya.


Kali ini Jingga mengerjapkan mata, menatap dengan seksama ketika seorang perempuan dengan rok pensil dan kemeja pas body keluar dari mobil dan mengejar Alan yang sudah masuk ke dalam halaman rumah.

__ADS_1


Air matanya meluncur begitu saja saat melihat Alan pulang diantar oleh seorang perempuan cantik. Ada rasa gondok yang ingin diledakkan seketika saat melihat suaminya begitu akrab dengan teman satu kantornya itu. Iya, Jingga ingat dia perempuan yang pernah datang ke rumah.


Dengan langkah tergesa Jingga menuruni tangga, bahkan dia tak sempat melihat Alan yang baru saja membuka pintu depan. Matanya terus saja berair meski sudah beberapa kali dia mengusapnya. Alan tercengang saat melihat Jingga yang berlarian menuju ke kamar dengan menangis.


"Apa dia masih marah karena aku sudah membentaknya?" gumam Alan dalam hati. dengan langkah panjang Alan menyusul Jingga ke dalam.


"Jingga...! " panggilnya saat melihat Jingga masuk ke dalam kamar mandi.


Tak ada respon dari Jingga, hanya terdengar suara percikan air dari shower. Alan memilih duduk di sofa dengan membuka map yang baru saja dia ambil dari kantor.


Sudah setengah jam dia menunggu Jingga, tapi belum ada tanda-tanda perempuan itu keluar dari kamar mandi.


"Bukankah dia tadi sudah mandi? " Alan bermonolog dengan pikirannya sendiri.


"Jingga...! " panggil Alan tak sabar menunggu Jingga keluar.


"Ngga ..Jingga, jawab! Atau aku dobrak pintunya! " teriak Alan dengan mengetuk pintu kamar mandi beberapa kali.


Tepat sepuluh menit dari peringatannya tapi Jingga tidak juga menjawab, terpaksa Alan mendobrak pintu kamar mandi.


"Jingga...! " pekik Alan saat melihat istrinya terduduk di bawah guyuran Air shower.


Alan membungkuk, mengangkat tubuh basah Jingga yang tadinya terduduk di lantai. Lelaki yang terlihat cemas itu mendudukan Jingga di toilet kamar mandi. Tangannya kini menyambar sebuah handuk yang menggantung untuk mengeringkan rambut basah istrinya, sedangkan Jingga kini masih terisak dengan tangisnya.


"Kamu kenapa? " tanya Alan malah membuat raungan tangis Jingga semakin terdengar menggema.


Alan melucuti piyama basah yang di pakai Jingga, " glek..." laki laki itu menelan salivanya saat melihat kulit putih mulus milik istrinya tereksplore jelas di depan mata. Tubuh kecil yang cukup berisi itu menimbulkan hasrat lelakinya yang sudah lama dia pendam. Tangan kekarnya meraih kemejanya yang masih menggantung di hanger, kemudian memakaikannya pada tubuh mulus istrinya.


"Sial.... " umpatnya dalam hati, saat pikiran liar mulai menguasai otaknya. Tapi Alan masih berusaha menekankan hasratnya yang terus menggila karena belum tau alasan kenapa Jingga melakukan drama konyol itu.


"Kamu kenapa? " tanya Alan dengan menggendong tubuh kecil itu dan meletakkannya di atas tempat tidur. Jingga masih menyembunyikan wajahnya dari tatapan suaminya, membuat Alan ikut berbaring memeluk tubuh kecil itu.


"Apa yang terjadi, Ngga? Katakan padaku! " ujarnya pelan, berusaha untuk lebih tenang.


Gadis itu hanya menggeleng dengan wajah berada di dada miring alan, meskipun tangan kecil itu tak ingin memeluk tubuh di depannya.


"Katakan, Ngga! Drama ini tidak akan berakhir jika kamu nggak mau bicara! " desak alan dengan menarik lengan Jingga untuk melingkar di pinggangnya. Tapi dengan gesit Jingga menarik tangannya, menolak apa yang diinginkan Alan.

__ADS_1


"Okey, .. tak apa jika tak ingin memelukku, tapi katakan dulu kenapa? "


"Kenapa meninggalkanku, pergi dengan wanita lain? Aku kan cuma terlambat pulang! " tanya jingga masih menyembunyikan wajahnya di dada Alan.


"Hae siapa yang pergi dengan perempuan lain?"


Alan terkaget dengan prasangka Jingga, Alan berusaha mencari raut wajah Jingga. Tapi, perempuan yang masih terisak itu malah melingkarkan tangannya dengan kuat di pinggang Alan.


"Aku melihatnya sendiri, Mas Alan turun dari mobil wanita seksi itu! " mendengar ucapan Jingga membuat Alan terkekeh.


"Hanya itu langsung buat kamu baper?


" Aku nggak baper! "


"Cemburu? "


"Nggak! "


"Coba sini liat wajahmu! " Alan mencoba meregangkan pelukan Jingga, tapi masih saja Jingga tak ingin menunjukkan wajahnya.


"Nggak mau! "


"Kenapa? "


"Pasti wajahku sudah bengkak! " lirih Jingga membuat Alan tergelak.


"Pasti tetep cantik! "


"Jangan merayu! " rayuan Alan dibalas Jingga dengan mencubit pinggang Alan, hingga membuat lelaki itu mengaduh.


"Kamu mens, ya? Kok baperan? " Jingga hanya menggeleng.


"Jangan-jangan kamu hamil? "


"Mana mungkin? Minggu lalu baru mens kok, terus kita nggak pernah melakukannya lagi! " jelas Jingga.


"Baiklah, kita akan melakukannya sekarang, ya!" Melihat Jingga terdiam Alan mulai mencium tengkuk leher istrinya, memberi hisapan-hisapan yang membekas di sana. "Sakit, Mas! Pelan-pelan! " rintihan Jingga terdengar diantara lenguhan dan desahan diantara malam pertama mereka. Hasrat yang sudah terbendung cukup lama membuat Alan semakin liar dan menggila untuk mengexplore tubuh molek istrinya, hingga membuat Jingga tergolek lemah saat mengakhiri pergumulan panas mereka.

__ADS_1


TBC


Yang punya vote, bisa donk di hadiahkan di merindukan Jingga... hehehehe jangan lupa tinggalkan jejak ya gengs


__ADS_2