
Jingga membeliak dalam pelukan Alan saat tertidur, ketika mendengar ponsel Alan pberdering, tangannya menggapai, mencoba meraih ponsel yang tergeletak di nakas yang ada di dekatnya. Melihat tertera nama 'Eyang Galak' yang memanggil, Jingga menggoyang-goyangkan bahu Alan, agar suaminya cepat terbangun.
"Mas,...! " panggil Jingga, masih dengan menggoyangka bahu Alan.
"Hmmm.... " gumaman Alan terdengar sambil mengerjapkan kedua matanya.
"... "
"Wa'alaikum salam Eyang, sebentar Jingga panggilkan Mas Alan! " Jingga menjawab panggilan Eyang Putri sambil menunggu Alan membuka mata.
"Eyang, Mas! " bisik Jingga dengan menutup mikrofon dan kemudian Alan meraih ponselnya. Lelaki itu menegakkan tubuhnya dengan bersandar di kepala ranjang.
"Iya, Eyang! " jawab Alan sambil menarik tubuh Jingga hingga perempuan yang baru saja memakai kaos miliknya pun terjatuh di dada bidangnya.
".... "
"Oh ... nanti saja, Jingga lagi sibuk menghadapi ujian semester dan aku juga lagi banyak kerjaan." Alan menjawab tawaran bulan madu dengan satu tangannya menahan Jingga untuk tetep dalam pelukannya.
"... "
"Iya Eyang cantik, nanti di buatkan cicit yang banyak! Tapi jangan ganggu Alan kalo mau bikin cicitnya, ya! "
".... "
"Wa'alaikum salam! " Alan langsung menutup telpponnya. kemudian menatap Jingga yang masih berada di peluknya dengan seringai di sudut bibir, dia memang senang saat ini melihat istrinya yang hanya terdiam membeku.
Jingga hanya bisa pasrah, kekuatannya bahkan tak sebanding dengan lengan kekar yang masih melingkar di punggungnya.
"Mas, bolehkah aku ikut acara inagurasi sekaligus makrab?" Jingga berusaha mengambil kesempatan untuk merayu Alan agar mendapatkan ijin.
"Kapan? Di mana? " Raut wajah Alan mendadak berubah serius.
"Minggu depan, setelah ujian semester selesai, di Bukit Paralayang dekat pantai yang ada di wilayah selatan kota ini. " ujar Jingga dengan menatap memohon pada Alan.
"Nggak bisa, Ngga! " jawab Alan dengan memalingkan wajah dari istrinya. Dia tak ingin melihat manik mata memelas istrinya saat merengek.
"Ayolah, Mas! Cuma semalam saja! " rayu Jingga sambil mendongak dan mengelus-elus rahang tegas yang ditumbuh bulu halus itu.
"Pokoknya nggak!" tegas Alan yang sebenarnya tidak tega melihat wajah memelas di depannya.
"Masalahnya bukan satu malam atau dua malam, tapi medannya di sana beresiko!" jelas Alan penuh penekanan.
" Tapi... "
__ADS_1
"Pokoknya tidak! kali ini jangan mencoba membujuk, Ngga! Please, I am just worried about you...!" lanjut Alan saat masih melihat wajah yang mendongak ke arahnya penuh pengharapan.
"Percayalah, bukan maksudku mengekangmu! Tapi mengertilah dengan kekhawatiranku, aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padamu lagi. " bujuk Alan, jari-jari besar itu membingkai wajah mungil di depannya. Di tatap nya mata Jingga yang mulai meluluh, membuat lelaki itu mencium kening istrinya untuk menghangatkan hati Jingga yang pastinya sedikit kecewa.
Baiklah, Jingga mencoba legowo dengan keputusan suaminya. Perempuan itu menarik nafas dalam dan mencoba menyuguhkan senyum terbaiknya.
Mereka kemudian membersihkan diri dan melanjutkan makan malam sebelum Alan memutuskan pergi keruang kerja dan Jingga belajar menyiapkan ujian untuk beberapa mata kuliah besok.
###
"Ayolah, Ngga! " ucap Nelly masih mencoba membujuk Jingga saat mereka keluar dari ruang ujian di kala sore itu.
Ujian jam terakhir sudah dilaluinya dengan baik, Jingga berusaha belajar dengan seharusnya meskipun ternyata kuliah setelah menikah itu berat. Terlalu banyak godaan, untuk bisa optimal, itu versi Jingga.
"Tapi, nggak boleh sama Mas Alan. " jawab Jingga.
"Ah..., nggak asyik, Lo! cuma lo saja yang saat ini menjadi harapanku, Daniah nggak ikut karena mudik. Sementara, Tyara dia kan nggak ikut BEM. " bujuk Nelly saat mereka berjalan menuju kursi panjang yang terletak di depan fakultas untuk sekedar duduk di sana.
"Tapi serius, Mas Alan nggak bolehin! "
"Ya Sudah, Tapi aku harap masih bisa berubah keputusanmu, Ngga! " Nelly tak putus asa untuk membujuk Jingga.
"Kita lihat saja nanti. " balas Jingga yang kemudian duduk di kursi panjang berbahan besi itu.
Sore pun semakin menjelma, seseorang dengan gagahnya berjalan masuk ke dalam area kampus. Dengan masih memakai kaca mata hitamnya, kemeja slim fit yang tertata rapi di padu dengan celana bahan kain itu membuat Alan menjadi perhatian khusus bagi mahasiswi yang telah melihatnya.
Alan berjalan ke arah Jingga dengan melipat kemejanya sampai ke siku. Lelaki berperawakan proporsional bak model itu, tersenyum tipis saat melihat Jingga masih sibuk dengan lamunannya. Diam-diam dia menutup mata Jingga dari belakang, menyandarkan kepala istrinya di perut kerasnya.
"Siapa ini? Jangan kurang Ajar ya! " ketus Jingga berusaha melepas jari jari besar yang menutup matanya. Dia terdiam sejenak saat mencium aroma maskulin tubuh Alan.
"Mas Alan! " tebak Jingga membuat lelaki itu melepas jari-jarinya di mata istrinya.
"Kok tau? " tanya Alan.
"Taulah, Mana ada yang kurang ajar sama aku kecuali, Mas Alan. "
"Benarkah? Pasti karena kamu galak! " jawab Alan.
"Ayok kita pergi ke butik, carikan aku kemeja! " Ajak Alan masih berdiri di depan Jingga.
"Aku sekalian beli baju ya , Mas heheheh! " ujar Jingga.
"Duitmu itu lebih banyak dari punyaku, Ngga! Kenapa harus menunggu ditraktir? Pelit banget! Emang kamu nggak pernah pakai kartunya? Itu aku isi terus setiap bulan, lo! " jelas Alan sedikit heran kenapa istrinya seperti kesulitan membeli apa yang dia inginkan.
__ADS_1
"Nggak tau kalo isinya banyak, Aku selalu pakai ATM yang merakyat, transferan dari Ibu! "
"Ya Allah, Jingga! Kamu jangan malu maluin aku di depan Ibulah! " dengus Alan kesal dengan ketidak tahuannya terhadap financial Jingga. Selama ini dia hanya mentransfer setiap bulan tanpa mengecheck pengeluaran istrinya.
"Lah, aku sudah menolak! Tapi kata ibu, uangnya mau buat siapa kalo bukan buat anaknya. "
"Ya sudah, mulai sekarang pakai kartu dariku saja! "
"Ternyata aku wanita sukses ya! Masih muda duitnya banyak, tanpa kerja pula! " celetuk Jingga sambil menggidikan bahu.
"Dasar... " ucap Alan langsung menyentil jidat Jingga hingga membuat Jingga mengaduh.
"Sukses itu tidak ditakar dari materi, tapi sukses itu bagaimana usaha dan cita cita kamu terwujud! Karena tidak setiap orang berorientasi di matari, ngerti? " lanjut Alan memberi pengertian pada perempuan yang masih mengelus jidatnya karena sentilan jarinya.
"Ayo berangkat sekarang! " ujar Alan sambil menarik lengan kecil itu untuk beranjak.
Mereka akhirnya sampai juga di depan butik ternama. Alan mengapit panggil kecil istrinya saat masuk ke dalam butik.
"Pilihkan aku dua kemeja buat acara resmi, Ngga! ucap Alan kemudian duduk di sofa tamu dengan memainkan ponselnya.
Hampir sepuluh menit Jingga akhirnya membawa dua buah kemeja motif salur berwarna biru navy dan kemeja polos berwarna merah hati.
" Ini mau, Mas? " ujar Jingga dengan menunjukkan kedua kemeja tersebut.
"Apa saja, Ngga!" jawab Alan dengan menyerahkan kartu kreditnya pada Jingga.
"Adiknya nggak sekalian, Kak! Ada dress keluaran terbaru dari butik kami! " ucap pelayanan yang dari tadi mengikuti Jingga.
"Dia Istriku! " jelas Alan dengan wajah dan nada kesal.
"Biar Istriku yang memilih sendiri! " lanjut Alan.
"Berapa pinnya, Mas" tanya Jingga sebelum berbalik meninggalkan Alan.
" Ulang tahunmu. " jawab singkat Alan.
Mereka pun keluar dari butik, wajah Jingga yang sumringah sangat berbeda dengan Alan yang masih kesal di bilang Kakaknya Jingga.
Alan Membelah jalan raya dengan santai saat akan kembali ke rumah, tapi sebelum dia menyadari ada mobil yang mengikutinya sedari tadi. Lelaki berwajah bule itu akhirnya menambah kecepatan dan mengalihkan sementara tujuan pulangnya menuju sebuah rumah makan yang cukup ramai, saat mengetahui sebuah mobil sedan mengikutinya dari belakang.
Bersambung
Yuk, yang masih vote bisa di kasihkan ke merindukan Jingga. Jangan lupa tinggalkan jejak ya gengs.
__ADS_1