Merindukan Jingga

Merindukan Jingga
57. Perhatian Alan


__ADS_3

Setelah sarapan di villa, Jingga membersihkan diri dan menghabiskan waktu dengan berendam air hangat di bathtub. Di liriknya Alan yang masih asyik dengan ponselnya di balkon, membuatnya mengurungkan niat untuk menyisir rambut setelah keluar dari kamar mandi, perempuan berambut panjang itu malah mendekati Alan dengan membawa sisir yang baru saja dia sambar dari meja rias.


"Mas Alan, apa kita akan pulang hari ini? " t) anya Jingga dengan menjatuhkan tubuhnya di samping suaminya. Membuat Alan menjulurkan lengannya memeluk perempuan yang rambutnya masih terurai.


"Besok, kita baru pulang! " jawab Alan dengan mengendus rambut wangi Jingga.


"Apaan, sich?" Jingga menyikut perut keras Alan, membuat Alan mengaduh lirih.


"Wangi Ngga, rambutmu! " Sahut Alan sambil terkekeh.



"Hari ini aku udah bolos kuliah, masak besok bolos lagi? " gerutu Jingga yang masih kepikiran tidak mengikuti kuliah.


"Nggak apa apa, kamu bolos sebulan di semester yang kemarin juga nilainya masih bagus! " jawab Alan dengan santainya. Lelaki itu kemudian menyesap kopi hangatnya.


"Tapi aku pengen nilai Cumloud, aku pinginnya orang tau meski sudah menikah tidak menutup kita untuk tetep maju!" ujar Jingga membuat Alan hanya tersenyum, seandainya saja Jingga belum menikah dia mungkin akan lebih aktif untuk segala pencapaiannya. Dia juga menyadari tuntutannya terhadap Jingga kadang membuat Jingga harus mengalahkan urusan kuliahnya.


"Kita akan menunggu Raka, dia akan membawa mobil untuk ditukar dengan motor kita. Aku tidak mau melihatmu kelelahan lagi." Kalimat Alan membuat Jingga menatap tajam suaminya kemudian menempelkan punggung tangannya di kening Alan.


"Nggak panas, kok? " ucap Jingga menggoda Alan dengan ekspresi penuh tanya.


"Dasar!!!! " alan mendekap tubuh kecil itu dan menghujaninya dengan ciuman gemas.


"Kamu itu kalo dibaikin orang ya..., ntar dikecewain ngambek kalo perlu nangis-nangis!"


"hehehhe...iya ya...! " Jingga menyandarkan diri di tubuh kekar suaminya, wajahnya menengadah menatap wajah ganteng yang ada di dekatnya.


"Kenapa? " tanya Alan saat melihat tatapan Jingga ke arahnya.


"Kamu mau lagi? " lanjut Alan saat tangan mungil itu meraba bulu halus di rahang tegas suaminya.


"Aku hanya tidak pernah rela jika bibir ini pernah mencium bibir perempuan lain! " Jingga menatap bibir tipis Alan dengan mengerucutkan bibirnya.


"Kau ini, sudah aku bilang, kan? Jangan memikirkan hal yang akan membuatmu sakit hati!" ujar Alan yang kemudian menggendong Jingga masuk ke dalam.


"Eh-eh, mau apa, Mas? " Jingga merasakan aura suaminya yang ingin menerkamnya kembali.

__ADS_1


"Menunjukkan padamu jika aku sudah jadi milikmu sepenuhnya! " ujar Alan dengan seringai licik saat meletakkan tubuh mungil itu di atas tempat tidur. Tatapan penuh damba dilayangkan pada Jingga yang menurutnya sudah dari tadi memancing kembali hasratnya.


"Tok... tok... tok...! Pak Alan ada Mas Raka yang datang. " suara penjaga villa dari luar kamar menghentikan Alan yang akan membuka kaosnya dan membenarkan kembali kaosnya.


"Shiiitt....! " umpatnya dengan berjalan membuka pintu membuat Jingga terkikik melihat kegeraman suaminya.


Masih dengan menyungging senyum di bibirnya, Jingga menyusul Alan yang akan menemui Raka. Seketika pula langkahnya terhenti, bahkan senyumnya menyurut saat melihat sosok perempuan yang datang bersama Raka. Maya, dia ternyata sudah berdiri di halaman tepatnya di samping Raka.


Berlahan Jingga memundurkan langkahnya untuk berniat kembali masuk ke dalam kamar, tapi surat bariton itu menghentikan langkahnya.


"Sayang...! " panggil Alan saat menoleh ke arah Jingga.


Panggilan sayang Alan untuk Jingga membuat kedua perempuan yang ada di sana saling melayangkan pandang penuh makna.


"Kemarilah...! " lanjut Alan.


Saat berada di samping Alan, Raka menyerahkan paper bag yang di pesan Alan untuk Jingga. Tatapan Jingga beralih pada Alan, seolah ingin menanyakan apa isi di dalamnya.


"Baju ganti untukmu! " jelas Alan, membuat Jingga kembali mengurai senyum manisnya.


Tapi di sana ada tatapan mata yang tidak suka, tentu saja Maya merasa tidak senang dengan perlakuan Alan terhadap Jingga. Rasa tidak percaya jika lelaki yang sudah di kaguminya sejak lama itu mengumbar perhatian terhadap istrinya, timbul rasa kecewa yang menelisik di hati gadis yang sudah menjatuhkan hatinya pada Bos gantengnya itu.


Seharusnya aku yang ada bersama Bang Alan, seharusnya aku mendapatkan perhatian itu, seharusnya aku pula yang saat ini di manjakan seperti itu.


Sudah lama aku mencintai Bang Alan. Sudah lama aku berjuang untuk mendapatkan perhatian Bang Alan. Tapi, kenapa justru dia orang yang tiba tiba hadir itu yang malah mengambil semuanya semuanya.


Apapun itu, aku sudah menjatuhkan hatiku pada Bang Alan, hingga aku sudah tidak tau lagi cara bagaimana mengambil kembali hati yang sudah aku tujukan untuk lelaki yang bagiku adalah segalanya.


Selama hidupku aku tidak pernah merasakan kecewa yang seperti ini. aku sangat kecewa saat melihat Bang Alan yang begitu care terhadap istrinya. Hatiku terasa sakit untuk kesekian kalinya.


"May, ayo kita ke lokasi proyek! " ujar Raka membuyarkan lamunan Maya. Meski tak ingin beranjak pergi, tapi dia sendiri yang sudah berjanji untuk mengikuti semua perintah Raka karena dia memaksakan untuk ikut bersama Raka.


Setelah mendapatkan kunci motor dari Alan, Raka pergi ke lokasi proyek bersama Maya. Sedangkan Alan mengajak Jingga kembali masuk ke dalam.


"Mas , kenapa juga harus bawa perempuan itu sih? " gerutu Jingga, saat menjatuhkan tubuhnya di sofa.


"Ayolah, Ngga! Bukankah dia tidak melakukan apapun? " jawab Alan berusaha membujuk Jingga yang sudah kelihatan bad mood banget.

__ADS_1


"Aku tidak suka, apa dia akan menginap juga di sini? "


"Mungkin, tapi aku juga tidak tahu. Tergantung Rakanya, dia kan juga datangnya bareng Raka! Kenapa kamu segitunya sama Maya, padahal dia juga biasa aja! "


"Apa Mas Alan tidak merasa jika dia itu cari perhatian Mas Alan? " geram Jingga melihat suaminya yang tidak peka dengan sekitarnya.


"Perasaan kamu saja! " Alan mengacak rambut Jingga sebelum berjalan menuju balkon untuk mengambil ponselnya yang sempat dia tinggal disana.


"Mas...!" Melihat Alan yang masih massa bodoh, membuat Jingga kembali mengejar Alan. Dia hanya tidak ingin melihat Maya, karena menurutnya Maya hanya akan merusak moodnya saja.


"Mas Alan... " panggilannya terhenti saat melihat Alan sedang berbicara dengan seseorang.


Berlahan Jingga mendekati Alan yang masih berbicara, sedangkan tangan Alan menarik Jingga untuk mendekat saat menyadari keberadaan Jingga di dekatnya. Masih merangkul bahu kecil istrinya ketika dia mengakhiri pembicaraannya di telpon.


"Mas...! "


"Sebentar lagi kita akan kembali ke kota! " Potong Alan saat mendengar rengekan Jingga.


"Terus, Mas Raka? "


"Biar dia yang akan di isini saja! "


"Dan perempuan itu? "


"Maya namanya, sayang! Dia akan pulang bersama kita. Kasihan kalo dia naik motor! " jelas Alan.


"Kalo begitu aku pulang sendiri saja. Aku nggak mau satu mobil dengannya."


"Please, deh! Jangan seperti anak kecil. "


"Terserah, Mas Alan. Itu sudah keputusanku, keputusan Mas Alan, pulang sama aku atau sama perempuan itu! " Alan hanya berdecih. Melihat Jingga yang susah dibilangin membuatnya sedikit kesal.


"Ya, kita akan pulang berdua! " Menurut Alan sikap Jingga sudah sangat berlebihan. Jadi mau tidak mau dia hanya mengiyakan kemauan Jingga meski dengan rasa kesal karena tidak mungkin dia akan membiarkan Jingga pulang sendiri.


Bersambung....


Makasih yang sudah memberi hadiahnya untuk merindukan Jingga... Yang punya aplikasi *** dan ******* bisa mampir di 'Rahasia Cinta Zoya' baru saja Rilis...

__ADS_1



__ADS_2