
Setelah membersihkan diri, Alan keluar dari kamar dengan setelan kemeja lengkap dengan celana bahan untuk bersiap pergi ke kantor. Kepalanya masih sedikit pening dan badannya pun terasa sedikit meriang karena pengaruh alkohol semalam.
Dilihatnya Jingga sedang mengaduk jusnya dan sesekali menyesapnya di meja makan. Jingga masih terlihat marah, jika sudah terlihat diam dan terkesan acuh itu adalah marah versi mengerikan untuk Jingga.
"Sayang aku minta maaf! " Entah berapa kali lelaki itu mengucapkan kata maaf padanya, tapi tidak membuat Jingga bergeming. Masih menikmati jus apple yang dibuatkan Bi Murthi, Jingga masih membiarkan Alan merengek meminta maaf.
Jingga masih terdiam, meski akhirnya dia mengeluarkan kata kata sinis yang sudah mengantri di otaknya.
"Ngapain minta maaf sama aku? Mas Alan salahnya sama siapa? Terus apa semua bisa selesai hanya dengan meminta maaf. Enak sekali, sedikit sedikit minta maaf." Jingga masih ogah melihat tampang Alan. Sebenarnya hati dan tubuhnya sedang tidak bersahabat, setiap kali memarahi Alan perutnya terasa mual. Tapi hatinya serasa ingin mengumpatinya terus menerus.
Alan mendudukan bobotnya di kursi, kemudian menatap menu yang ada. Sup daging sapi plus taoge, dari situ dia tau Jingga masih peduli dengannya. Tadi pagi, dia sempat melihat Jingga meminta Bi Murthi membuatkan sup, padahal pagi ini dia hanya sarapan dengan biskuit dan jus.
Sejenak Alan menghentikan perdebatan kecil di pagi hari ini dengan memilih menyelesaikan sarapan terlebih dahulu.
Sesekali diliriknya Jingga yang masih enggan menatapnya. Bisa terlihat jelas guratan ketegasan di wajah ayu istrinya. Ah, perempuan di depannya itu memang unik, meskipun kata kata pedas sering meluncur akhir akhir ini dari bibir mungil yang selalu mengundang hasrat untuk menciumnya, tapi tetap saja Jingga masih menjadi sosok yang tidak tegaan.
Ah... pagi ini pikirannya terlalu berkelana saat menatap wajah istrinya.
"Kenapa melihatku seperti itu? " tanya Jingga kemudian memasukkan biskuit ke dalam mulutnya.
"Kamu itu keterlaluan, Mas! Sudah tahu itu salah, sudah tahu itu tidak benar, dan sudah tahu itu haram, masih juga di lakukan! Kayak nggak punya prinsip saja, di hasut dikit saja lupa kebenaran. "
"Iya sayang, Dave sudah mencuci otaku!" Mendengar pembelaan Alan membuat Jingga kembali geram.
"Kamu itu katanya pintar? " Sesaat kemudian, Jingga terdiam menahan emosi. Entah kenapa dia begitu kesal dengan suaminya itu. Alan pun ikut terdiam, melanjutkan sarapannya. Karena Di liriknya jam Rolex yang melingkar di pergelangan tangannya itu menunjukkan pukul delapan.
__ADS_1
"Aneh saja... yang gila dimasukin ke rumah sakit jiwa supaya sembuh. Loh, yang waras kok malah ingin jadi gila dengan minum alkohol. " Sindiran Jingga begitu menohok.
"Tapi minum alkohol kan, gilanya bukan sama kayak orang stress! " bela Alan, dia mulai kesal. Secara tidak langsung dikatai bodoh oleh Jingga. Tapi berdebat dengan Jingga kali ini hanya akan memperburuk keadaan, jadi dia memilih diam saja, membiarkan Jingga meluapkan semua emosinya.
"Sama saja, Mas. Nyatanya banyak orang yang ngebunuh, memperkosa karena mabok kan? Kamu juga nggak tahukan, pas mabok kamu sudah syirik ucapan atau nggak? "
"Ih, amit amit... " Alan merasa dirinya maboknya juga tak separah yang di bayangkan Jingga. Dia merasa masih sadar, hanya saja kepalanya sedikit berputar putar dengan perut yang terasa mual.
"Makanya itu, ada salah satu ustad yang bilang mabok itu ketuanya dosa besar. Padahal sebenarnya dosa tanpa ampun syirik, kan? Orang mabok itu nggak sadar apa yang dilakukan dan diucapkannya. " Rasanya masih ingin melakukan pembelaan saat istrinya mendadak menjadi ustazah kayak gini. Tapi, dia yakin itu hanya akan menambah jumlah deretan kosa kata yang akan keluar dari mulut Jingga.
"Ntahlah, terbuat dari apa perempuan itu? Hingga, begitu terampilnya mengolah ribuan kosa kata yang keluar dari mulutnya! " gumam Alan dalam hati sambil menampilkan senyum yang sedikit dipaksakan.
"Maaf ya, sayang! " ingin diraihnya tangan mungil Jingga. Tapi istrinya dengan sigap menarik tangannya agar tidak bersentuhan.
"Jangan menyentuhku! Tubuhmu masih terpengaruh alkohol, Mas. " Senjata yang paling ampuh kini dikeluarkan Jingga untuk membuat Alan jera. Lelaki itu hanya bisa menelan salivanya dengan kasar dan terpaksa mengikuti apa yang di katakan istrinya.
"Sayang, aku berangkat dulu! Jaga diri baik baik ya. Aku usahakan cepat pulang! "
"Hmmmm." Jingga hanya menjawab Alan dengan deheman. Tidak ada ciuman tidak ada pelukan. Alan benar benar merasa ketiban sial.
Alan melangkah keluar dengan membawa tabung gambar yang sudah di siapkan sedari tadi. Rasanya dia tidak tahan ingin memaki Dave. Sahabatnya itu sudah membuat kesialannya berlipat ganda.
###
Sasmitha masih mengurung diri di dalam salah satu kamar keluarga Cokro Hadinoto. Ingatannya kembali me-replay kembali kisah masa lalu.
__ADS_1
"Maaf kan aku, Mbak Rengganis! " lirihnya dengan menatap foto perempuan mungil yang mana guratan kecantikan wajahnya di turunkan pada Jingga Andini.
Flashback
"Menikahlah dengan Mas Cokro! " ucapnya dengan nada lemah setelah Jingga terlahir. Sasmitha hanya menangis mendengar permintaan Rengganis. Bagaimanapun, tidak ada perempuan yang mau di madu, tapi Rengganis malah meminta ajudannya itu menggantikan posisinya.
Sedangkan Cokro hanya menggenggam tangan pucat Rengganis dengan kuat kala itu. Dia seperti ingin menahan dengan sekuat tenaga, agar Rengganis bisa bertahan. Bisa terlihat oleh Sasmitha betapa terpuruknya Cokro saat kehilangan Rengganis.
Sasmitha adalah saksi betapa cintanya Cokro pada perempuan yang masih keturunan Ningrat itu. Mengetahui seberapa besar cintanya Cokro pada Rengganis, menggantikannya menjadi istri Cokro adalah hal terberat dalam hidupnya.
"Nitip Jingga, Sas! " kalimat terakhir Rengganis membuat semuanya menangis terlebih Cokro, saat itu dia terlihat paling histeris saat kehilangan Rengganis. Sejak saat itu Sasmitha berjanji akan menjaga Jingga seperti putri kandungnya sendiri.
Flash on
Sasmitha menangis tergugu, saat mengingat kisah masa lalunya. Meski ada rasa sakit saat menjalani pernikahannya, karena Cokro tidak bisa melupakan Rengganis. Tapi kehadiran Jingga membuat hidupnya lebih berarti, ada banyak rasa bahagia, rasa sayang yang dia rasakan saat bersama Jingga.
Wajah Jingga yang mirip Rengganis membuat Mas Cokro semakin memupuk perasaannya terhadap Rengganis. Tapi, Sasmitha sendiri telah dibuat Cokro jatuh hati padanya, kebaikan dan kelembutan Cokro membuat wanita yang berkasta di bawahnya itu pun memberikan semua perasaan cinta dan kesetiaannya hingga saat ini.
"Aku akan menjaga Jingga semampuku, Mas Cokro, Mbak Rengganis." tangisnya pecah, ada kerinduan pada mendiang lelaki yang menjadi suaminya selama tahun. Dua tahun... tapi dia sudah menyerahkan semua kerinduan dan kesetiaan untuk selamanya pada Cokro Raharjo.
Sudah bertahun tahun wanita paruh baya itu tidak menangis, kini tangisnya terdengar histeris meluapkan semua sesak di hatinya. Apalagi membayangkan reaksi Jingga mendengar semua kebenaran itu.
Baru kali ini Sasmitha terlihat begitu rapuh, setelah bertahun-tahun dia berpura pura kuat. Bagaimana, jika Jingga tidak lagi menyayanginya setelah dia tahu jika dia bukanlah ibu kandungnya. Jingga segalanya baginya, bahkan dia satu satunya yang bisa membuatnya masih bertahan sampai saat ini.
Bersambung....
__ADS_1
Hae Readers aqoooouuuhhhh tercinta, jangan takut ceritanya menggantung.... Sebagai rasa tanggung jawab Author, belum ada karya author yang putus di tengah jalan dan insyallah Merindukan Jingga tidak akan menggantung. Sakit tau... jika digantung 😃😃😃😄😍😍😍😍