Merindukan Jingga

Merindukan Jingga
50. Kepergian Jingga


__ADS_3

Tangisnya tak bisa dibendung lagi. Entah apa yang dilakukan suaminya hingga mereka dinobatkan sebagai pasangan yang manis. kalimat itu terngiang di telinga Jingga membuat desiran jantungnya terasa semakin menyakitkan.


Jingga terus berlari kecil, berusaha secepatnya untuk meninggalkan resort. Hatinya terasa hancur, saat melihat apa yang baru saja dia saksikan. Jingga terus saja berusaha secepatnya menjauh dari resort, bahkan dia membuka heel yang sudah membuatnya kesulitan untuk berlari.


Rasa kecewa, sedih dan rasa yang menyakitkan membuatnya tak peduli lagi dengan jalan gelap yang dia tempuh, bahkan dia tak mampu lagi berfikir kemana dia akan pergi. Dia terus saja berlari menembus jalanan yang cukup sepi dengan air mata yang terus saja mengalir, dia merasakan dadanya kini semakin terasa sesak.


Melihat kepergian Jingga, lelaki berperawakan gagah itu pun langsung mengejarnya tanpa berfikir dua kali. Haris, yang sedari tadi memperhatikan Jingga kini mencemaskan keadaan Jingga yang secepat kilat menghilang dari pandangannya.


Haris berlari menuju parkir, lelaki itu segera melajukan mobilnya menembus gelapnya malam berharap bisa menemukan Jingga secepatnya. Dia berusaha melenyapkan kecemasannya, tapi kenyataan malah berbalik. Bahkan, pikiran buruk sempat hinggap beberapa kali di otaknya.


Mata elang itu menangkap bayangan yang dicarinya, dahinya kembali mengernyit untuk memastikan dan sorot lampu mobilnya diarahkan pada perempuan yang berjalan tergesa dengan menjinjing heelnya.


beberapa kali dia membunyikan klakson dari belakang tapi tak digubris oleh Jingga, perempuan yang di carinya itu malah mempercepat langkah hingga membuatnya memutuskan untuk menghadang Jingga.


"Ayo, aku akan mengantarmu! " ucap Haris setelah menghampiri Jingga, membuat Jingga juga mengikuti lelaki berperawakan tinggi besar itu.


Haris kembali melajukan mobilnya setelah Jingga duduk di sebelahnya. Diliriknya sesekali perempuan yang kini terlihat acak acakan itu masih sesenggukan berusaha menahan isakannya.


"Pergi seperti itu bisa membahayakan dirimu! " Suara bariton itu memecahkan kesunyian diantara mereka, tapi tidak ada jawaban dari Jingga. Meskipun mendengarnya, tapi Jingga masih enggan menjawabnya, pandangannya menoleh menatap ke luar jendela seolah menyembunyikan segala kesedihannya.


Mereka terdiam cukup lama, di sepanjang perjalanan mereka hanya bermain dengan pikiran masing masing. Haris menghentikan mobilnya saat sampai di kota.


"Kenapa berhenti? " tanya Jingga yang merasa heran, karena ini belumlah sampai di rumah.


"Mau ice cream? " tanya lelaki yang saat ini berdiri di luar jendela mobil.


"Tidak, aku tidak menginginkannya! " jawab Jingga.


"Kamu suka coklat apa vanila?" Haris kembali menanyakan selera Jingga.


"Dua dunya." jawab Jingga dengan asal asalan karena tidak mengerti apa maksut dari pertanyaan lelaki yang belum begitu dia kenal.

__ADS_1


Jingga masih termenung, merasakan perasaannya yang kini sudah luluh lantak.


"Makan ini dulu! Agar perasaanmu jauh lebih enak. " Lelaki yang menyodorkan ice cream itu menyadarkannya dari lamunan.


Jingga menerima pemberinya, bahkan dia mulai menikmati rasa coklat dan vanila yang menjadi pilihan ice creamnya.


"Tidak seharusnya kamu pergi seperti itu! " ucap Haris disela sela menikmati ice cream.


"Jangan membahasnya! " balas Jingga tanpa melihat lelaki yang sedari tadi memperhatikannya.


"Berarti jangan menangis lagi! Ada baiknya meminta penjelasan dulu! " Haris memberikan Jingga saran agar Jingga tidak hanya sekedar salah faham.


"Jika perlu sesuatu kamu bisa menghubungiku! " ujar Haris dengan menyerahkan kartu nama yang di sambut oleh Jingga.


"Terima kasih. Tapi, aku ingin segera sampai rumah! " pinta Jingga membuat lelaki itu kembali masuk ke dalam dan melajukan mobilnya.


"Apa kau sangat mencintai Alan? " selidik Haris dengan melirik raut wajah perempuan disampingnya.


###


Masih di area resort Alan kebingungan mencari keberadaan Jingga. bahkan dia sempet menanyakan pada beberapa orang kemana istrinya menghilang. Terakhir dia mendapat jawaban dari security jika perempuan yang dia maksud sudah keluar dari resort dengan berlari.


"Shittt.... " geramnya seolah merutuki dirinya sendiri.


Gegas dia menghampiri mobilnya, dan segera meninggalkan resort untuk menemukan jejak Jingga. Rasa cemasnya kini membuatnya beberapa kali merutuki apa yang sudah terjadi.


Sudah melewati beberapa meter dia menyisir jalanan di luar resort tapi kenyataan dia tidak menemukan jejak Jingga sama sekali. Beberapa kali dia menghubungi Jingga, tapi tidak terhubung sama sekali membuat dia semakin dirundung rasa cemas yang semakin menjadi. Jantungnya berdetak lebih cepat, karena belum menemukan Jingga membuat ketegangan yang semakin menggila.


Dia menghentikan mobilnya di pinggir jalan ketika dia sudah melewati jalan gelap yang cukup lenggang. Dia mencoba melacak Jingga dengan GPS sama persis seperti yang pernah dia lakukan. Ternyata, Jingga diposisi berjalan menuju kota, membuatnya buru buru melajukan kembali mobilnya. Dia yakin jika Jingga langsung ke rumah dan itu membuatnya langsung menuju ke arah jalan pulang.


Mobilnya melaju dengan kecepatan tinggi, hanya beberapa menit mobil saja sedan Camry itu sudah berbelok ke halaman rumah minimalis modern. Dia tidak langsung turun, lelaki yang masih dilanda kecemasan itu yakin jika Jingga belum sampai rumah.

__ADS_1


Alan kembali meraup wajahnya dengan kasar, mencoba kembali melihat GPS. Tapi belum sempat dia membuka ponselnya, sudah tampak dari spion sebuah mobil pajero sport berhenti di jalan tepat di depan gerbang rumahnya.


Dia sedikit bernafas lega saat melihat Jingga keluar dari mobil. Setidaknya istrinya kembali dengan selamat. Tapi, siapa yang mengantarnya? Ada rasa penasaran yang terselip tapi itu tidaklah penting saat ini. Dia hanya ingin melihat Jingga baik baik saja.


Alan membuka pintu mobilnya dan berdiri di body mobil sedan itu dengan menunggu Jingga yang sudah mendekat ke arahnya. Tatapan mata perak itu tertuju pada perempuan yang memalingkan pandang darinya.


"Jingga!" panggil Alan saat Jingga melewatinya, dia kemudian mengejar Jingga yang akan membuka pintu utama dan masuk ke dalam rumah.


"Ngga, dengarkan aku! " Alan masih mengejar Jingga. dia tau Jingga sangat marah dengannya, apalagi bisa terlihat jelas wajah bengkak perempuan yang biasa tersenyum manja ke padanya.


"Ngga... please dengarkan aku! " Alan mencekal lengan Jingga, saat perempuan itu akan menaiki tangga.


"Lepaskan! Apa lagi yang mau kamu jelaskan, Mas? " ujar Jingga dengan meronta berusaha melepaskan genggaman Alan di pergelangan tangannya.


"Tidak seharusnya kamu seperti itu, seharusnya kamu mengerti posisiku, dia rekan kerjaku, dan terkena musibah apa aku harus membiarkannya tenggelam di kolam renang? lantas dimana tanggung jawabku? " Alan masih mencoba menjelaskan apa yang terjadi jika posisinya yang cukup sulit.


"Iya, kamu hanya punya tanggung jawab terhadap rekan kerja bukan dengan istrimu! Jingga mengibaskan tangan Alan yang genggamannya dia rasakan sudah melemah. Jingga dengan cepat berlari ke atas menuju kamarnya membuat Alan kembali mengejarnya.


Air mata Jingga kembali menetes, membasahi wajah yang sudah bengkak itu, rasanya penjelasan Alan semakin membuatnya merasa sakit.


"Jingga, bukan seperti itu! " Alan kembali mendengus kesal saat Jingga tidak memahami penjelasannya.


"Apa? " teriak Jingga.


"Bukankah aku sudah sering memperingatkanmu untuk menjauhinya! Atau mengeluarkannya sekalian. " tegas Jingga membuat Alan meraup wajah dan membuang nafasnya kasar secara bersamaan.


"Kamu tidak pernah mengerti, tidak semudah itu perusahaan mengeluarkan karyawan tanpa alasan yang kuat. Sedangkan Maya punya kinerja yang bagus, bahkan dia sangat kooperatif membuat sistem perusahaan berjalan dengan mudah."


"Terserah kamu, Mas. Bertahankan saja dia terus... aku sudah tidak peduli. Tapi lepaskan aku! Biarkan aku masuk ke dalam kamar! " Jingga berusaha menjadi tegar meski hatinya merasa hancur saat mendengar pembelaan dari alan untuk Maya. Menurutnya, Alan seolah enggan untuk melepaskan rekan kerjanya itu. Bahkan dia berusaha mati matian untuk terus membelanya.


Jingga menutup pintu kamarnya dengan keras dan berlari untuk menjatuhkan tubuhnya di tempat tidur. Tangisnya semakin tergugu saat mendengar semua yang diucapkan suaminya.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2