
Di kamar bawah, setelah sadarkan diri, Jingga Masih menangis. Dia merasa bersalah dengan ibunya, bagaimana pun dia tau jika keputusannya sudah mengecewakan ibunya. Sosok yang sudah membesarkannya dengan limpahan kasih sayang.
"Shuuutt, shut... jangan menangis, ya! " Alan mencoba menenangkan Jingga yang menangis tergugu. Diusapnya berkali kali air mata yang menetes tanpa henti dari kedua mata yang sudah bengkak. Hidungnya pun sudah memerah dan pipinya pun masih lembab.
"Sayang, kasihan bayi kita. Dia bisa merasakan kesedihanmu! " Alan masih mencoba menghentikan tangisan Jingga, bisa terlihat bahunya masih terguncang karena isakan tangis yang sulit dihentikannya.
Jingga menelusupkan wajahnya di dada bidang Alan, bisa di rasakan detak jantung lelaki itu begitu jelas. Bagaimana bisa dia meninggalkan suaminya. Bukan sekedar perasaan cinta yang menjadi pertimbangannya. Tapi sebuah aturan dari kepercayaan yang dianutnya menjadi patokan Jingga memutuskan hal tersebut.
"Kita akan menjelaskan semuanya lagi kepada Ibu! " Alan masih mencari titik dimana bisa menenangkan istrinya.
"Aku sudah menyakiti beliau, Mas! Aku mengerti ibu terlalu menyayangiku, sungguh aku sulit memilih diantara kalian.
" Iya aku mengerti posisimu! Kita akan mencari jalan keluar lainnya, tapi kamu makan dulu ya! " pinta Alan dia tidak ingin kondisi Jingga semakin drop. Masih menenggelamkan istrinya dalam pelukannya di atas tempat tidur.
"Tok... tok... tok...! " suara ketukan pintu yang sebenarnya sudah terbuka membuat Alan menoleh.
"Mas Alan, makan malamnya sudah siap! " ujar Bi Murthi. Sebelum mengertuk pintu kamar yang sudah terbuka, wanita paruh baya itu sempat maju mundur dan berfikir beberapa kali. Takut mengganggu kedua majikannya yang sedang dilanda masalah.
"Iya Bi, secepatnya kita akan makan!" Pernyataan Alan membuat Bi Murthi meninggalkan mereka. Dia memilih pergi ke rumah belakang agar tidak mengganggu kedua majikannya.
"Sayang, apa perlu aku membawa makanannya ke kamar? " bujuk Alan.
"Tidak usah, Mas. Aku akan makan. " Jingga kemudian beringsut bangun. wajahnya pun sudah membengkak. Entah, sudah berapa jam dia sudah menangis? dia sendiri tidak menyadarinya.
Alan menarik salah satu kursi makan untuk Jingga. Perempuan yang sedang hamil muda itu menu di atas meja, tapi tidak ada yang membuatnya berselera, bahkan bisa dikatakan sedikit membuatnya mual.
"Mas, rujak sama empek empeku mana? " tanyanya mengingat makanan yang sudah diborongnya dari tadi siang.
__ADS_1
"Masih ada, tapi sebagian aku meminta Bi Murthi untuk membagikan ke orang orang. Sekarang makan nasi dulu ya! "
"Aku ingin nasi goreng dan telur ceplok buatanmu, Mas!" pinta Jingga membuat Alan sedikit gusar. Membuat telur ceplok saja hampir gosong, bagaimana masak nasi goreng? Rasanya dia tidak sanggup lagi seperti ini.
"Kalau nggak mau ya sudah! "
"Iya aku akan mencobanya, Sayang! " Mau nggak mau Alan mulai meracik bumbu, di halusin dengan blender, dia tidak mau Jingga terlalu banyak mengonsumsi yang instans instan.
Melihat Alan yang begitu repot di dapur Jingga pun berjalan mendekat, menunggui Alan dari dekat. Bisa terlihat raut wajah menegang Alan, dahi yang sudah menampakkan butiran keringat dan bisa dipastikan dapur yang kotor dan sangat kacau.
"Sayang, tunggulah di meja saja! Sebentar lagi matang! " ujarnya tak ingin Jingga terkena cipratan minyak panas.
"Aku mencintaimu, Mas!" Jingga kembali memeluk Alan, kali ini matanya berkaca kaca mengingat masalah soal memilih. Alan hanya mencium puncak kepala istrinya dengan singkat. Dia takut jika sedikit saja lengah maka nasi gorengnya akan menjadi gosong.
Mendengar keributan di dapur, wanita paruh baya itu berjalan tunggang langgang menuju dapur.
"Loh, Mas Alan... Kenapa tidak bilang kalau mau nasi goreng? " Bi Murti merasa nggak enak karena Alan memasak nasi goreng sendiri.
"Iya Bi, Alan junior dan mamanya lagi ngerjain papanya! " sela Alan setelah mematikan kompor. Bisa terlihat keringat yang mengucur dari tubuh lelaki itu, setelah kegiatan memasak.
"Wahhh.... selamat ya Mbak Jingga dan Mas Alan, Semoga sehat semua ya! " Bisa terlihat rona bahagia terpancar dari wajah Bi Murti.
"Oh ya, maaf tadi saya sempet mendengar keributan di ruang utama. Saya yakin Bu Sasmitha hanya terbawa perasaan sayangnya dengan mbak Jingga, Beliau tidak akan meninggalkan Mbak Jingga! Tapi mungkin, beliau memang butuh waktu. " jelas Bi Murti yang juga melihat Jingga yang sempat pingsan dan menangis hingga berjam jam.
"Dengerin itu sayang...! Kamu jangan berlebihan. Kita pasti akan menjelaskan pada Ibu, tapi bukan sekarang. " bujuk Alan dengan menghujani pipi Jingga dengan Ciuman, malah membuat wanita paruh baya tersipu melihatnya.
"Kalau begitu saya permisi! " ucap Bi Murthi meninggalkan mereka berdua.
__ADS_1
Jingga membawa nasi goreng dan telur ceplok yang belum bisa dipastikan rasanya. Sementara Alan membuntut dari belakang dengan membuka satu persatu kancing kemejanya.
"Ya ampun gerah banget! " Keluhnya yang kemudian menaruh kemejanya di sandaran kursi. Jika saja tidak menunggui Jingga makan terlebih dahulu, dia pasti sudah melompat ke kolam renang.
###
Di sebuah rumah yang sudah lama ditinggalkannya, Sasmitha masih termenung memikirkan kejadian kemarin bersama Jingga. Tentu saja dia sangat kecewa karena putri kesayangannya lebih memilih percaya pada suaminya ketimbang dirinya.
Diantara jajaran benda klasik yang masih tertata rapi menghuni puluhan tahun di rumah peninggalan Eyang Hadi itu, tiba tiba Sasmitha merindukan Cokro, suami yang sudah meninggalkannya sejak lama.
"Seandainya kamu masih ada, Mas. Pasti ada yang melindungi Jingga, buah cinta kita. " gumamnya dengan mata berkaca kaca.
"Den Ayu, ada yang mencari! " tutur Mbok Minah, orang yang dipercaya menjaga rumah sejarah milik keluarga Hadinoto. Mungkin, kalau bahasa keraton bisa dibilang dengan istilah abdi dalem.
"Persilahkan masuk, Mbok! " titah Sasmitha yang memang sudah mengundang Faizal. Orang kepercayaan dari jaman kejayaan Cokro Raharjo hingga saat ini.
Bisa terdengar suara ketukan sepatu pantofel yang semakin mendekat ke arahnya. Lelaki itu sudah hafal betul seluk beluk rumah besar itu dan di mana dia akan menemui tuannya.
"Selamat pagi, Nyonya!" sapa faizal saat melihat keberadaan Sasmitha. Lelaki yang selalu tampil rapi dari jaman dahulu hingga sekarang kini berada di depan Sasmitha.
"Bagaimana, Zal? Kapan aku bisa bertemu Mas Wirya? " Sasmitha memang ingin membicarakan semua Aset atas nama Jingga. Dari apa yang sudah di ceritakan Faizal membuat Sasmitha tidak ingin mengambil resiko. Bagaimanapun Jingga harus memiliki haknya dari peninggalan keluarga Hadinoto. Dia tidak ingin jika suatu saat Alan meninggalkan Jingga, hidup putrinya tidak punya masa depan lagi.
"Aku sudah beberapa kali menghubungi Tuan Wira. Tapi, beliau belum memberi kepastian Nyonya. " ucap lelaki paruh baya yang masih punya perawakan tegap itu.
"Tolong usahakan secepatnya. Aku tidak ingin mengambil resiko dengan selalu mengulur waktu. " titah Sasmitha yang kemudian diangguki oleh orang kepercayaannya itu.
"Oh ya, bagaiman kondisi putrimu? Apa masih bisa di rawat di rumah dengan psikolog? Atau terpaksa harus direhab di rumah sakit jiwa? " Mendengar pertanyaan Sasmitha membuat Faizal menghela nafas lemah. Ada sorot kebencian yang berkobar di sana.
__ADS_1
Bersambung....
Yang suka cerita Duran sawit(duda keren sarang duit) atau yang suka cerita yang berasa nano nano yuk, mampir di Rahasia Cinta Zoya. Bagaimana kesederhanaan, sikap rendah , dan ketulusan akan menemukan cinta yang sebenarnya. #Romantisme Hans Satrya Jagad dengan Zoya Kamila#