Merindukan Jingga

Merindukan Jingga
80. Eyang Anfal.


__ADS_3

Masih dengan mata terpejam tangannya meraba ponsel yang sedari tadi berdering. Baru beberapa jam saja memejamkan mata Alan harus terganggu dengan dering ponselnya yang sangat berisik.


"Iya... " jawabnya dengan malas.


"Mas Alan, Eyang putri saat ini sedang rawat di Health Hospital. " Mendengar kabar dari Santoso supir pribadi Eyang membuat Alan tersentak kaget.


"Baiklah aku akan segera ke sana! " Jantungnya berdegup seperti sedang bermarathon. Dia sangat cemas jika menyangkut kesehatan wanita sepuh itu.


Berlahan Alan menuruni tempat tidur, agar Jingga tidak terbangun, dia tidak ingin Jingga shock dan kepikiran dengan kabar yang barusan dia dapat.


Setelah, memakai celana jeans. Alan menyambar kunci mobil, sebelum meninggalkan jingga, dia menatap istrinya yang masih terpulas, kemudian dengan hati hati dia keluar dari kamar.


Rasa panik membuatnya melajukan mobil dengan kencang. Bagiamana keadaan Eyang? Itu yang selalu ada di pikirannya.


Marcy hitam itu membelok di parkiran. Suasana rumah sakit masih terlihat lenggang, lelaki yang sudah di penuhi rasa cemas itu lari tunggang langgang menuju ruang ICU di mana Eyang Putri di rawat.


Kondisi Eyang Putri yang semakin drop membuat Eyang Putri Segera di larikan ke rumah sakit yang lebih lengkap perawatannya. Nampak Santoso dan Om Rudy (Adik dari Almarhumah Mama Alan) sudah ada di depan ruangan. Alan memelankan larinya saat memasuki lorong yang mencemaskan itu.


"Bagaimana keadaan Eyang? " tanya Alan kepada Santoso dengan wajah panik yang tidak bisa di sembunyikan lagi.


"Ibu kritis, Al! " jawab Om Rudy. Lelaki itu terlihat sudah menahan rasa kantuk yang berat.


"Iya apa, kenapa? " cecar Alan masih dengan kepanikan yang sulit dikendalikan.


"Beberapa hari yang lalu Eyang Putri Sudah dirawat di rumah sakit karena gula darahnya sangat tinggi! Tadi malam beliau anfal, kondisi jantungnya semakin memburuk, membuat dokter menyarankan untuk langsung di bawa ke kota untuk mendapatkan perawatan yang lebih baik" jelas Santoso.


"Kenapa tidak ada yang mengabariku? " Suara Alan meninggi, dia begitu emosi saat tidak ada yang memberi tahu keadaan Eyang Putri kepadanya.


"Duduklah, dulu! Ibu yang meminta untuk merahasiakan ini darimu, beliau tidak ingin membuatmu kepikiran! " jelas Om Rudy dengan menarik tubuh Alan Agar duduk di kursi panjang berbahan stainles itu. Masih dengan upaya meredam emosi Alan, lelaki berumur lima puluhan tahun itu menepuk pelan pundak keponakannya.


"Ya Allah Eyang,.. Seharusnya Eyang tinggal bersama Alan! " gumam Alan yang menyesali tidak pernah bisa membujuk Eyang Putri untuk tinggal bersamanya.


###


Jingga meraba tempat di samping, mencari tempat teristimewa yang bisa meredam rasa mualnya tentu saja tempat itu hanya di miliki oleh Alan. Matanya terbuka, saat dia merasa tidak ada siapapun di sebelahnya.

__ADS_1


"Ya Allah aku kesiangan! Kenapa Mas Alan tidak membangunkanku solat subuh. " gerutu Jingga saat melihat sinar mentari yang sudah mengintip dari celah tirai kamarnya.


Masih dengan keadaan yang sama, dia berlari ke kamar mandi karena perutnya kembali terasa mual. Meskipun sudah sedikit berkurang rasa morning sicknya , tapi masih belum bisa hilang sepenuhnya.


"Kemana mas Alan, ya? " gumam Jingga dengan menatap wajahnya di depan kaca toilet.


Rasa penasaran membawa langkahnya ke belakang rumah karena biasanya Alan berolahraga setiap pagi di sana. Tapi kenyataannya, tidak ada siapapun saat dia sampai di sana.


Gegas, Jingga mengambil ponselnya, bermaksut menghubungi Alan. Sebelum menemukan no suaminya, matanya lebih dulu menangkap pesan whatshap dari Alan.


Sayang, aku pergi tanpa pamit. Pukul tiga pagi tadi, aku mendapat kabar Eyang di bawa ke rumah sakit Health Hospital. Kamu jangan khawatir, tetep di rumah saja.


My Hubby


"Astagfirullah...Eyang " lirih Jingga, biar bagaimana pun saat mendengar kabar buruk itu, Jingga tidak bisa membuang rasa cemasnya.


Dengan langkah terburu, Jingga membersihkan diri dan segera menyusul ke rumah sakit meski Alan memintanya untuk tetep tinggal saja.


Jingga meremas jari jemari tangannya, melampiaskan rasa cemasnya saat berada di bangku belakang taxi online yang membawanya.


Bau rumah sakit yang menguar begitu tajam menurutnya, harus membuatnya menahan rasa mual yang melanda saat ini.


Langkahnya semakin tergesa saat melihat sosok yang selama ini dianggapnya kuat itu bersandar lemah pada dinding rumah sakit dengan pandangan menerawang. Jingga bisa melihat kesedihan yang begitu dalam dari bahasa tubuh Alan.


"Mas Alan! " panggil Jingga mengagetkan lamunan suaminya.


"Sayang, kenapa kemari? " tanya Alan saat melihat Jingga di sebelahnya.


"Aku hanya ingin melihat keadaan Eyang. " jawab Jingga dengan menggenggam erat tangan suaminya.


"Eyang, sudah melewatkan masa kritisnya. Mungkin, sebentar lagi beliau akan di pindahkan ke ruangan VIP. " jelas Alan.


"Mas Alan sudah sarapan? " tanya Jingga


"Belum! "

__ADS_1


"Ayo Sarapan dulu di kantin! "


"Aku belum lapar, sayang."


"Aku yang sudah lapar karena belum sarapan! "


Dengan sedikit malas Alan beranjak mengikuti Jingga. Dia tidak ingin Jingga sampai melewatkan sarapannya.


Melihat tahu bacem, membuat Jingga merasa kebetulan sekali karena sudah hafal jika Alan sangat menyukai tahu bacem. Jingga yang sebenarnya juga malas sarapan akhirnya memesan nasi+ kari ayam dan tahu bacem untuk dua porsi.


"Bagaimana jika Mas Alan pulang istirahat saja. Biar aku yang menunggui Eyang! " tawar Jingga saat melihat wajah Alan yang terlihat kurang tidur.


"Jangan, sayang! Ini rumah sakit. Sebaiknya kamu yang di rumah. Kamu nggak boleh capek."


"Baiklah kita akan di sini berdua hingga nanti Om Rudy atau keluarga yang lain datang." Jika sudah berkehendak tidak ada yang bisa menolak keinginan Jingga.


###


Faizal berjalan menuju ruangan Wirya yang ada di lantai 9 hotel, yang sebenarnya miliknya Cokro. Banyak hal yang sudah dia siapkan sebelum menemui orang nomer satu di hotel itu.


"Selamat pagi, Tuan Wirya?" ucap faizal saat membuka ruangan mewah dengan ornamen yang tak kalah elegant.


Tuan Wirya pun beranjak dari kursi kebesaran yang ada di balik meja direktur untuk menyambut kedatangan tamu yang saat ini penting baginya.


Wirya membawa faizal duduk di sofa untuk merencakan sesuatu yang menurutnya bisa saling menguntungkan.


"Bagaimana, Zal? Apa Kita perlu bertindak seperti tujuh belas tahun yang lalu! " ujar Wirya memberi kode untuk merencakan suatu pelenyapan seperti yang pernah dia lakukan pada adiknya sendiri Cokro Raharjo.


Faizal terdiam sejenak. Ini memang sangat sulit, biar bagaimanapun Sasmitha pernah mengisi hatinya ketika mereka masih sama sama menjadi ajudan keluarga Hadinoto.


"Mungkin kita tidak punya pilihan lain, Sasmitha adalah wanita yang kuat dan cerdas. Dia tidak pernah main main dengan omongannya. "


Kesepakatan itu sudah terjadi meski dengan misi masing masing, Wirya masih dengan ambisi harta dan kekuasaan sedangkan Faizal hanya ingin membalas sakit hati anaknya Maya dengan Jingga.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2