Merindukan Jingga

Merindukan Jingga
64. Merasa Sakit


__ADS_3

Jingga terus tertegun menatap rintik gerimis yang begitu betah mengguyur di sudut kota. Keberadaannya saat ini mungkin di luar prediksi siapapun, bahkan dia sendiri tidak percaya jika dia sudah berada jauh dari kehidupannya yang dulu.


Disandarkan punggung lelahnya di dinding sebuah ruko di mana dia sedang menunggu hujan mereda untuk kembali ke rumah kontrakannya.


Flash Back


Sambil memegangi sebuah karcis dengan tujuan kota Jogjakarta, Jingga termenung dengan pandangan menerawang. Banyak pertimbangan yang harus dia pikirkan selain rasa kecewa dan marah pada Alan.


Terlihat, kedua matanya menitikan butiran bening yang langsung segara di hapusnya. Masih terasa sesak saat mengingat kejadian suaminya bercumbu dengan perempuan lain. Bayangan itu masih terlihat jelas di ingatannya. Rasanya sungguh mengaduk seluruh rasa yang pernah ada, rasa yang sulit untuk dinamainya selain kecewa.


"Mbak, kenapa menangis? " tanya seorang perempuan berusia empat puluh tahunan, yang kemudian mengambil duduk di sebelahnya. Jingga secepatnya mengusap kedua matanya yang memang sudah lembab, meski begitu tetap saja wanita patuh baya itu melihat jika sejak tadi dia menangis.


"Tidak, Bu!" jawab Jingga sedikit malu karena terlihat jelas sekali jika hidupnya sedang bermasalah.


"Kalau masih ragu ragu sebaiknya jangan pergi! Kadang kita punya firasat sebagai petunjuk! " ujar wanita berjilbab itu dengan tersenyum ke arah Jingga, dia bisa melihat kebimbangan yang sedang Jingga rasakan.


"Saya tidak tau harus kemana, saya hanya ingin menenangkan diri sementara!" ucap Jingga, jarinya saling meremas, tubuhnya terlihat kurus dan lesu. Bahkan rambut panjangnya terlihat terlihat kusut.


"Jika kamu mau, kamu bisa tinggal sementara di rumah saya! Ini alamat rumahnya, kamu bisa membicarakan dengan ibu saya yang rumahnya bersebelahan dengan rumah saya. " Wanita itu menyodorkan sebuah kartu nama, dan di balik kartu nama itu tertulis alamat rumahnya dengan jelas. Dia memang melihat tampilan Jingga yang sudah berantakan, tapi cincin berlian dan arloji senilai puluhan juta itu menjadikan wanita itu percaya jika Jingga bukan orang sembarangan.


Sejenak Jingga berfikir, tapi tak ada salahnya jika dia pergi ke sudut kota ini. Menurutnya itu salah satu tempat aman untuk menyendiri. Dia tahu, jika dia menginap di hotel atau apartemen, Alan akan mudah melacaknya, sementara dia masih merasa jijik jika mengingat semua yang sudah terjadi antara suaminya dan perempuan itu(Maya).


"Rumahnya kecil, minimalis sekali dan berada di pinggiran kota, tapi lingkungannya cukup bagus jika untuk menenangkan diri! " Perempuan itu merasa tidak tega dengan wajah polos Jingga, raut muka yang kusam dan terlihat lelah begitu jelas sebagai pertanda jika perempuan ayu di depannya sedang frustasi.


"Baiklah... terima kasih, Bu! Saya akan melihat rumah itu. " ucapnya seraya meninggalkan wanita yang sedang menunggu gerbong kereta jurusan Jogjakarta itu.

__ADS_1


Jingga melangkah keluar stasiun mencari taxi yang akan membawanya ke alamat rumah yang akan menjadi persinggahan selanjutnya.


Di dalam taxi, Jingga baru menyadari betapa berantakan hidupnya saat ini, kuliah terbengkalai, dia juga tak tahu bagaimana melangsungkan hidup, menarik uang dari ATM sama juga meninggalkan jejak akan keberadaannya, karena dia tahu Alan punya team pelacak yang tidak diragukan kepiawaiannya meretas sistem keamanan. Ah, rasanya begitu sulit hidup yang akan dia lalui, tapi dia juga belum siap bertemu dengan suaminya karena luka hati yang masih terasa perih.


Matanya kembali memanas, dia tidak tahu apa yang akan dia lakukan. Terakhir kali Bu Sasmitha menghubunginya pun dengan penuh kemarahan karena keinginan dirinya untuk mengetahui latar belakang bapaknya.


"Lagi putus cinta ya, Mbak? " tanya supir taxi yang dari tadi memperhatikan Jingga berkali kali mengusap air matanya. Hanya senyuman getir yang di suguhannya untuk menjawab pertanyaan yang menurutnya hanya berbasa basi itu.


Dua jam perjalanan membuat suasana hiruk pikuk ramainya kota kini berganti dengan lingkungan yang cukup tenang, masih dengan fasilitas umum dan tata kota yang sederhana. Taxi yang ditumpangi Jingga berhenti di depan rumah minimalis di gang kecil komplek perumahan yang sederhana.


Flashback On


Diulurkan tangannya untuk meyakinkan kembali jika gerimis sudah berhenti. Masih menenteng kantong plastik hitam berisikan buah melon, dia kembali melangkah pulang ke rumah kontrakan. Jarak yang lumayan jauh membuatnya menahan lelah, tapi mau bagaimana lagi? Sudah seminggu dia memang tidak terlalu berselera makan, dia merasa semua itu karena pengaruh dari stress dan tertekan sejak kejadian menjijikan itu.


Jingga membuka pagar besi kontrakannya, tapi sebelum masuk, suara wanita sepuh itu memanggilnya.


"Jingga... ini ada sayur sup, tadi nenek bikin banyak! " ibu dari Bu Amira pemilik rumah yang dia kontrak mendekatinya dengan membawa semangkuk sup iga.


"Terima kasih, Nek!" ucap Jingga membuat wanita sepuh itu tersenyum sebelum meninggalkan Jingga yang buru buru masuk ke dalam rumah.


Ditinggalkannya sup iga itu di atas meja makan dan secepatnya berlari menuju wastafel.


"Huek... huekk... huekk..! " aroma bawang yang cukup menyengat membuatnya terasa mual dan pusing. Dia menutup rapat mangkuk itu hingga aromanya tidak terendus ke hidungnya.


"Ya Allah, Mungkinkah asam lambungku sudah separah ini! Apakah aku akan mati tanpa orang yang menyayangiku. " gerutunya setengah berputus asa dengan mengiris buah melon menjadi irisan kecil kecil dan membawanya ke ruang depan untuk di santapnya.

__ADS_1


###


Melihat sosok bertubuh tinggi dengan mata perak yang menatap tajam ke depan, membuat Raka tersenyum. Dia sangat bersyukur jika Alan mulai beraktifitas seperti biasanya, terus terang saja dia cukup kewalahan menangani banyak pekerjaan sejak Alan tidak masuk.


"Selamat Pagi, Bang! " ucap Raka saat saat Alan menghampiri meja kerjanya.


"Siapkan Pra rancangan dan skematik desain untuk proyek pusat perbelanjaan di pinggir kota!" ucap Alan kemudian masuk ke dalam.


Sudah seminggu lebih dia tidak mempedulikan pekerjaannya sama sekali. Meski begitu dia tidak menemukan titik terang keberadaan Jingga.


"Dimana kamu, Ngga?" desahnya saat menduduki kursi yang sudah seminggu kosong hanya untuk mencari istrinya.


Di lihatnya foto Jingga yang sedang tersenyum membuatnya semakin merindukan istrinya, rengekan yang biasa terdengar menyebalkan kini ingin kembali dia dengar. Alan kembali menghela nafas berat menahan rasa rindu yang kian membuncah dalam hatinya.


"Bang, ini hanya beberapa poin saja untuk selengkapnya sudah aku kirim di email Bang Alan! " ucap Raka yang serasa tiba tiba berdiri dan menyerahkan sebuah map di atas meja Alan.


"Ka, tolong cetak foto Jingga, terus carikan bingkai yang bagus. Aku ingin menaruhnya di meja kerjaku." titah Alan dengan memencet tombol send untuk mengirim foto Jingga ke no Raka.


"Siap, Bang! "


Melihat Alan langsung membuka map di depannya membuat Raka melangkah keluar dengan menggelengkan kepala, merasa konyol dengan kelakuan orang yang sedang putus asa karena di tinggal minggat istrinya.


"Kamu memang cerdas , Bang. Tapi sayang tidak pintar mengenali perempuan. Istrinya menghilang duluan, baru bingung mencetak fotonya! " gumam Raka dengan senyum cemeh ingin menertawakan Alan dalam menangani perempuan.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2