Merindukan Jingga

Merindukan Jingga
42. Unique Characteristic


__ADS_3

"Jingga... buka pintunya! " panggil Alan dengan mengetuk pintu kamar mandi beberapa kali, hanya sebuah juluran tangan yang menjawab panggilannya. Tanpa harus ada drama lagi, Alan menyerahkan kantung plastik yang baru dia bawa dari warung.


Sambil menunggu Jingga keluar kamar mandi, Alan kembali membuka layar ponselnya, ternyata ada pesan penting dari Raka, tender proyek yang dia ajukan pada pemerintah daerah untuk pembangunan sebuah tugu monumen pun terpaksa harus mundur. Sebenarnya, dia sangat kecewa bukan karena profit, bahkan dia masih punya banyak proyek yang saat ini dia tangani tapi dia memang saat menginginkan proyek yang akan menjadi acuan khalayak ramai.


Jingga keluar dari kamar dengan piyama kebesarannya, seharusnya dia memang merasa nyaman tapi karena perutnya yang terasa nyeri membuatnya terdiam, menstruasi kali ini juga sudah membuat emosionalnya sedikit sensitive.


"Sudah? " tanya Alan saat Jingga mendekat ke arah tempat tidur. Jingga hanya mengangguk menjawab pertanyaan Alan, membuat Alan yang sudah dari tadi menunggunya pun akhirnya masuk ke dalam kamar mandi.


Jingga keluar kamar, malam ini dia akan membantu ibunya untuk menyiapkan makan malam. Sudah hampir tujuh bulan dia meninggalkan rumah ini, tapi ternyata tidak ada perubahan sama sekali, kecuali Mbok Nah yang sedari tadi belum terlihat batang hidungnya.


"Buk, di mana, Mbok Nah? Kok, Jingga nggak melihatnya, ya? " tanya Jingga saat menyusul Bu Sasmitha yang sudah sibukdi dapur.


"Oh...Mbok Nah lagi menjemput anak dan cucunya. Mereka akan tinggal bersama ibu, menempati rumah sebelah yang baru saja di benerin. " jelas Bu Sasmitha.


"Syukurlah, aku lebih tenang, Buk. Lagi pula Ibu tidak akan kesepian jika banyak orang di sini. " Jingga yang selalu kepikiran dengan ibunya bisa sedikit tenang jika ada keluarga Mok Nah di sini.


Sambil mengobrol, Jingga menata makan yang sudah matang ke meja makan. Oseng daun pepaya yang merupakan makanan kesukaannya itu pun juga termasuk menu makan malam ini.


"Ngga, belajarlah menjadi istri yang baik, jangan banyak menyusahkan suamimu! "


"Maksud Ibu apa, ya? " Jingga mengernyitkan dahinya saat mendengar kalimat ibunya yang seolah olah menjadi CCTV untuknya.


"Ibu sudah mengenalmu, sembilan belas tahun Ibu hidup bersamamu, tentu saja ibu sudah hafal tabiatmu, kalo dibilangin suami itu manut jangan ngeyelan. Kamu sudah dewasa, kamu sudah bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, banyak-banyaklah belajar dari apapun dan siapapun, diambil sisi baiknya saja. "

__ADS_1


"Siap, Ibu! " jawab Jingga setelah mendengar ceramah ibunya. Sasmitha sangat khawatir karena Jingga dan Alan tidak mempunyai figure keluarga utuh dalam berumah tangga, bahkan pertemuan mereka yang terkesan dipaksakan karena perjodohan, itu juga yang membuat Sasmitha takut akan basic kehidupan rumah tangga Alan dan Jingga.


"Sana, panggil suamimu untuk makan! " Jingga pun mencari alan ke kamar, melihat kamar yang kosong dan pintu samping yang terbuka membuat Jingga berinisiatif untuk melihat ke samping.


Dia bisa melihat, asap yang mengepul diantara suasana remang remang bahkan cenderung gelap, angin malam yang bertiup dingin pun menambah pekat suasana.


"Mas Alan... " lirihnya seperti tak percaya jika saat ini Alan merokok. Karena sebelumnya dia tidak pernah melihatnya melakukan itu.


" Ada apa, Ngga?" ujar Alan saat melihat sosok istrinya yang sudah berdiri di dekatnya.


Jingga pun berjalan semakin mendekat meski dengan terbatuk, karena dia tak biasa menghirup asap rokok. Perempuan yang diliputi rasa penasaran itu pun memilih duduk di pinggiran kursi dengan menghadap ke arah Alan yang menyandarkan punggungnya di kepala kursi.


"Jangan mendekat, Ngga! Kamu bisa batuk karena tidak tahan dengan asapnya. " Alan memperingatkan Jingga untuk menjauh saat istrinya masih terbatuk-batuk.


"Ada apa, Mas? Tidak biasanya Mas Alan merokok! " tanya Jingga yang sedikit terheran sekaligus memang ingin tahu apa yang sedang terjadi.


"Apa Mas Alan tidak percaya denganku? Atau Mas Alan menganggapku tidak berguna, meski hanya untuk mendengarkanmu? " desak Jingga yang masih penasaran dengan apa yang sedang terjadi.


Alan menegakkan tubuhnya, memangkas jarak diantara mereka. Bahkan setelah membuang puntung rokoknya tangannya kini meraih pinggang kecil istrinya. Wajah mereka saling beradu dengan jarak yang begitu dekat, membuat debaran jantung Jingga semakin tak karuan.


"Hanya masalah kerjaan. Aku gagal memenangkan tender proyek pembangunan tugu monumen. Padahal aku sangat berharap sekali proyek itu bisa jatuh pada perusahaan kami. " ungkapnya penuh dengan rasa kecewa.


"Ketidakpuasan terkadang membuat kita lupa, jika Allah sudah ngasih yang jauh lebih banyak! Semua belum berakhir, masih ada kesempatan di lain waktu." Jingga menatap mata perak Alan.

__ADS_1


"Gaya kamu, Ngga...! " tangannya menoel hidung mungil milik Jingga.


"You're unique character, sometimes you mature behind your spoiled nature. " Alan membingkai wajah mungil di depannya, tatapannya mengisyaratkan sebuah kebanggaan tersendiri. Tidak disangkanya kalimat Jingga mampu menenangkannya.


"Masih ada waktu untuk mewujudkan cita-cita, lagian semua tidak berakhir sampai di sini saja! Ayok kita makan dulu! " Jingga menarik lengan Alan membuat lelaki itu kemudian beranjak mengikutinya. Ya...memang benar, masih ada hari esok, ide baru, dan mungkin karya yang lebih fenomenal.


###


Di sebuah kantor yang didesain cukup artistik Maya menghampiri Raka yang terlihat sibuk dengan laptop di depannya.


"Bang... kapan Bang Alan ngantor lagi?". pertanyaan Maya menghentikan kesibukan Raka yang sedang membuat Rancangan Anggaran Biaya.


" Apa kau menaruh hati pada Bang Alan?" Raka menghela nafas, menatap gadis yang saat ini berdiri di depannya untuk mencari jawaban yang paling jujur. Sementara Maya hanya terdiam tak mampu menjawab lagi pertanyaan dari rekan kerjanya.


"Aku bilangin ya, May...!"


"Bang Alan sudah menikah, May! Jadi berhentilah mengharapkannya, itupun kalo kamu tidak mau berakhir dengan patah hati. " Raka yang sudah mengetahui jika Maya menaruh hati pada Alan hanya bisa mengingatkan.


"Tapi mereka di jodohkan, dan Bang Alan sedikitpun tidak ada kebanggaan terhadap istrinya, bahkan dia juga seperti menutupi jati diri istrinya." Maya masih ngotot, menurutnya Alan tidak pernah mencintai Jingga dengan sepenuh hati. Alan memang tidak pernah mengeksplore tentang Jingga, bahkan karyawannya hanya sebagian yang tahu jika Jingga adalah istrinya.


"Setidaknya aku sudah memperingatkanmu, May. Kalau untuk urusan perasaan aku sendiri tidak tahu, tapi Bang Alan memang orangnya pendiam, kan? " Raka pun akhirnya angkat tangan mengatasi Maya yang seperti tak percaya jika bosnya itu menerima dan mencintai istrinya.


Maya tertegun di balik meja kerjanya. Perasaan cintanya terhadap Alan yang terpendam sejak lama seolah sudah menjadi penghuni tetap hatinya. Dia seperti sulit menerima status Alan yang sudah beristri. Entahlah, apa memang cinta seringkali menghilangkan akal sehat manusia atau obsesi manusialah yang menutup kewarasannya. Gadis itu sulit mengendalikan perasaan cintanya yang sudah berkembang liar di hatinya.

__ADS_1


Bersambung....


Terima kasih yang masih tetap stay di Merindukan Jingga. Yuk, dukung Mas Alan dan Jingga dengan memberi hadiah like atau vote ya heeee.


__ADS_2