
Jingga sudah kembali dari rumah sakit, Dia sangat bahagia bisa melahirkan secara normal. Meskipun pernah Alan menyarankan untuk ceasar tapi perempuan mungil itu tetap memilih untuk tetap melahirkan normal.
Terlihat bayi mungil dengan mata perak itu selalu tertidur, membuat Alan rasanya sudah tidak sabar untuk mengganggunya.
"Mas Alan jangan mengganggunya!" ujar Jingga saat Alan menoel hidung mancung putrinya.
"Kalau mengganggu mamanya boleh, ya? " Alan beranjak dari box bayi kemudian berjalan menghampiri Jingga yang sedang memompa Asinya. Sekar yang masih sedikit minumnya dan banyak tidur, membuat Jingga harus memompa asinya yang melimpah sebelum kedua *********** membengkak.
"Nggak ada ya, jatah buat Papa sekar? Hahahah.... " goda Alan membuat Jingga mencubit perut keras suaminya.
Mereka terlihat sangat bahagia, kehidupan masa lalu yang kurang sempurna membuat mereka tidak ingin Sekar Ayu mengalaminya.
Jingga menaruh Alat pemompa Asi setelah dirasa cukup untuk yang di keluarkan.
"Sayang, terima kasih sudah membuat hidupku terasa lebih sempurna. " Alan mengikis jarak diantara mereka, kini ciumannya mendarat di bibir yang bagai candu untuknya. Jingga meregangkan kembali jarak diantar mereka. Kemudian menatap mata perak di depannya.
"Aku mencintaimu, Mas. Terima kasih sudah menjadi Lelaki hebatku! " Jingga kembali memeluk Alan. Wajahnya menelusup di antara gelombang dada suaminya. Betapa bersyukurnya dia, Tuhan sudah memberikan Alan padanya.
"Ehm ehem.... Kayaknya Sekar udah mau dibikinkan adek lagi! " Ternyata sudah ada banyak orang yang ada di depan kamar Sekar.
"Ya sabar, Pak. Masih nifas! " Ledek Raka yang saat ini merangkul gadis yang selalu terlibat perdebatan dengannya saat mencari Alan. Pricilla, dari kesal jadi cinta. Itulah kisah Raka dengan Pricilla.
"Halah, paling kalau udah ngerasain juga nyosor, Ka! " bantah Alan, yang sudah telanjur malu karena ledekan Raka.
"Iya...gaya tuch, si Raka. Diam diam menghanyutkan. Masak aku yang tunangan duluan, dia yang udah nyebar undangan Married! " sela Aslan yang datang bersama Tyara. Untung saja kamar Sekar dibuat sangat luas, sehingga bisa menampung banyak orang orang dewasa yang ingin melihatnya.
"Lah, serius, Ka? " tanya Alan dijawab dengan orang orang mengacungkan undangan. Haris dan Manda, Aslan dan Tyara, Dave, dan tidak lupa musuh bebuyutan Dave yaitu Daniah.
"Bang jangan lupa, janjinya! Jika aku menikah Bang Alan akan memberikanku satu unit rumah dari Mahesa Property. " Raka bercanda menagih janji Alan.
"Gampang itu, Ka. Sudah aku sisain satu unit buat kamu. " Alan memang pernah berjanji akan memberi satu unit rumah dari Mahesa Property, biar bagaimanapun kerja keras Raka sudah banyak membantu Alan.
" Wah... Aku mau, Al! " sahut Dave.
"Kapan kamu nikah? Jadi orang jangan serakah! "
"Hahaha... ternyata pasangan itu bisa menularkan sifat pada pasangannya! " Dave tergelak saat kalimat Alan begitu mirip dengan Jingga.
Kebahagian tercipta diantara gurauan semua yang ada di kamar Sekar. Hingga Bu Sasmitha memanggil mereka untuk makan siang bersama.
__ADS_1
###
Tiga tahun kemudian.......
"Papa....!" teriak Sekar menghambur ke gendongan Papanya saat melihat Papanya sudah keluar dari kamar dan bersiap untuk berangkat. Saat melihat kelakuan Sekar, Alan teringat pada awal dia menikah dengan Jingga.
Bertemu Jingga dari seseorang yang sangat kekanak kanakan dan manja, hingga saat ini menjadi seorang wanita dewasa, tapi tetap jadi ibu dan istri yang galak.
Ya, sikap Jingga yang sangat disiplin dan sedikit kaku membuat Alan adalah tempat Sekar untuk bermanja. Meskipun begitu Jingga adalah figur Ibu yang membuat Sekar tidak bisa jauh darinya karena Jingga selalu menumpahkan perhatiannya untuk keluarga.
"Ih Mama, peyutnya gendut ,lucu banget. " celetuk Sekar membuat Jingga menatap perutnya yang sudah mulai membesar karena usia kandungan yang menginjak empat bulan.
"Mas, lucu ya? " tanya Jingga, memang ngga pede memakai kebaya dengan perut yang sedikit membuncit.
Hari ini Jingga wisuda, meski tidak tepat waktu, tapi setidaknya dia berhasil menyabet gelar Sarjana dengan IPK 3,65 cukup bagus untuk ukuran seorang ibu rumah tangga.
"Sayang, kamu tetap perempuan tercantikku. Mau buncit mau apapun kamu tetap wanita tercantikku!" Alan mencium kening Jingga, membuat Sekar mengerucutkan bibirnya.
"Ih, papa ... gantian dong yang dicium! " bocah yang masih dalam gendongan Alan itu pun mengalungkan tangannya di leher Alan. Alan pun mencium putri cantiknya yang sudah merajuk.
"Ayo kita berangkat, Mas. Keburu telat. " Ajak Jingga.
Sekar turun dari gendongan Alan dan memilih berjalan menggandeng mamanya menuju mobil. Sedangkan Alan, menyeret koper yang akan dia bawa ke suatu tempat setelah acara ceremonial kelulusan Jingga.
Acara berlangsung sekitar lima jam, untung saja Sekar tidak rewel meminta pulang, bocah itu malah tertidur di pangkuan papanya hingga acara selesai.
Saat acara di bubarkan Alan langsung mencari Jingga, takut istrinya akan kelelahan karena acara yang terlalu lama. Masih dengan menggendong Sekar Alan mencari Jingga, dan benar saja. Jingga sudah menyandarkan tubuhnya di kursi.
"Sayang... kamu tidak apa apa? " tanya Alan.
"Tidak, Mas! aku baik baik saja. Bangunkan Sekar, Mas. Kita akan berfoto. " tanpa dibangunkan Alan, Sekar pun membuka matanya. Meski masih menyandarkan kepala di bahu papanya.
"Mas, Terima kasih karena mas Alan akhirnya aku jadi sarjana! " ujar Jingga dengan merangkul tubuh suaminya. Matanya berkabut, rasa bahagia membuat Jingga meneteskan air mata.
Setelah sesi foto dan Jingga berganti baju, akhirnya mereka melakukan perjalanan panjang. Itu pun, setelah konsultasi dengan dokter, Alan berani membawa Jingga untuk perjalanan jauh.
Hampir Tiga jam perjalanan karena Alan menyetir dengan santai, bahkan Sekar sudah tertidur di bangku belakang, akhirnya mereka sampai di suatu tempat yang seperti tidak asing bagi Jingga.
"Mas, ini?" tanya Jingga meragu.
__ADS_1
"Ayo turun! mumpung masih sepi. Hari ini tempat di reservasi untuk kalian, Jingga Andini dan Sekar Ayu. "
Mereka turun dari mobil, termasuk Sekar yang tidak mau lagi digendong Alan. Bocah itu sangat senang melihat tempat yang baru saja di rancang papanya.
"Terima kasih, kamu tidak pernah bosan menungguku di sini! " ucap Alan dengan merangkul bahu kecil istrinya. Dia merubah total tepi tebing yang selalu menjadi tempat Jingga menunggunya di kala senja, ketika mereka belum bertemu. Tempat itu sudah berdiri sebuah mercusuar dan sebuah villa mewah, wahana bermain untuk keluarga. Benar benar sudah di sulap oleh Alan.
"Aku persembahkan semua ini untuk kalian, istri tercintaku" Alan mencium kening Jingga kemudian dia berjongkok.
"Juga untuk kalian anak anakku. Kalian segalanya dalam hidupku! Tidak hanya menciptakan sebuah Maha karya tapi kalian adalah cita cita dan tujuan hidupku. " Alan mencium Sekar dan perut Jingga.
Akhirnya semua cita cita mereka terwujud meski harus dengan tertatih tatih dan banyak cobaan yang datang. Tapi percayalah jika diniati dengan baik semua juga akan berakhir dengan baik.
"So sweet, Bang! " ucap Raka yang berjalan ke arah Alan, ternyata laki laki itu sudah membawa semua karyawan di kantor untuk merasakan liburan di tempat yang sudah mereka desain.
"Bang, sudah diabadikan ! " ternyata Raka sudah memfoto drama barusan. Membuat Jingga tersipu malu.
"Terima kasih, Ka. Untuk loyalitasmu! Kamu sudah aku anggap saudaraku, Ka! " Alan memeluk Raka, membuat mata Raka berkaca kaca. Dia juga sudah menganggap Alan seperti Abangnya, karena sudah membantunya membangun masa depannya.
"Ini juga karena bantuan ayah pricilla yang memudahkan semua perijinan dan membantu mempromosikan tempat ini. " ucap Raka. Ayah Pricilla memang bagian penting dari jajaran pemerintahan daerah. Membuat semua proses berjalan dengan lancar.
"Makasih, Pris". ucap Alan.
" Sama sama, Bang. "
Semuanya sangat bahagia saat menikmati kerja keras mereka, lebih lebih Jingga karena Alan membuatnya penuh cinta.
Visual Sekar Ayu
Terima kasih untuk yang sudah berkenan membaca 'Merindukan Jingga' sedih author saat mengakhiri cerita ini. seolah author akan berpisah dengan para readers yang selalu ngikuti dari part ke part. Jujur, author selalu melihat profil kalian, rasanya seperti punya teman baru kenalan baru. Semoga ada manfaat yang diambil dari cerita 'Merindukan Jingga'
Mohon maaf jika masih banyak kekurangan dan bikin bingung dengan alurnya.
Pengumuman
Yang suka cerita Romance, yuk mampir di My Husband My Hero
__ADS_1
Mampir juga disini ya 'Rahasia Cinta Zoya'