
Posisi yang menggantung berjam-jam membuat kakinya kini terasa pegal dan tangannya pun sudah mulai melemah, membuat Jingga merasa berputus asa.
"Tolong....! " teriaknya terus menerus hingga suaranya terdengar parau. Air matanya berhasil lolos, saat ketakutan memenuhi hatinya. Mungkin dia akan tiada dengan cara yang sangat mengenaskan. Jika saja dia sedikit lengah, bisa saja tubuhnya akan terjatuh diantara bebatuan itu.
"Ya Allah, maafkan aku...! Ibu, Mas Alan, maafkan aku.....! " tangisnya pecah di antara rasa putus asa yang sudah menyerang. Hatinya semakin menciut karena harapan mendapat pertolongan pun sangat mustahil. Mana ada orang yang akan lewat di perbukitan seperti itu jika bukan sengaja untuk mencarinya.
"Tolong...! " suaranya terdengar serak karena tenggorokan yang sudah mengering. Tapi, tetap saja dia terus berusaha berteriak.
"Tolong...! " teriaknya diiringi tangisan yang tak bisa dibendungnya lagi. Tentu saja, sebuah teriakan yang hanya sebatas pelampiasan rasa putus asa.
Alan yang sudah berjalan beberapa meter, bermaksud mencari keberadaan base camp rombongan Jingga pun berhenti, lelaki yang sudah menggendong ransel itu segera menajamkan pendengarnya saat sayup-sayup terdengar suara permintaan tolong.
"Tolong... aku terjebak di tebing! " Suaranya terdengar semakin lirih, membuat Alan mencari asal suara itu.
Langkahnya menyusuri tempat asal dari mana suara itu. " Tolong...!" Alan mendengarnya sekali lagi meskipun terdengar lirih, tapi membuat Alan yakin jika suara perempuan itu berasal dari tebing.
Gegas, Alan berjalan mendekati tebing itu. "Jinggaaa, ya Allah.... " teriaknya terkaget saat melihat istrinya sudah menggantung dengan raut wajah tak karuan.
"Astaga... " gerutunya dengan dada yang berdebar melihat pemandangan yang hampir menghentikan detak jantungnya itu.
Alan segera memasang karmantel, carabiner dan peralatan lain pada tubuhnya untuk menuruni tebing. Jantungnya berpacu lebih cepat bukan karena tentang medan tebing, tapi tak lain karena dia sudah mencemaskan Jingga dengan posisi yang riskan.
Tanpa bicara karena amarahnya juga meledak ledak di dada, Alan dengan gesit menuruni tebing.
__ADS_1
"Mas Alan... " lirih Jingga seolah tak percaya jika Alan datang untuk menolongnya.Lengan kokohnya menyambar tubuh mungil yang sejak tadi menggantung.
"Balikkan badanmu! Lakukan dengan hati-hati!" titah Alan masih dengan satu tangannya memegangi tubuh Jingga dan satunya lagi berpegang pada tali karmantel. Berlahan Jingga membalikkan tubuhnya, tangannya melingkar di dada bidang suaminya meski lengan kecilnya tak mencakup sempurna, sementara kakinya pun mengait di pinggang Alan, persis seperti anak koala.
Alan mulai menuruni tebing dengan gesitnya, laki laki bertubuh atletis itu sudah sangat terlatih untuk melakukannya. Dia memang tak ingin melihat wajah Jingga, Meski begitu dia bisa merasakan tubuh Jingga yang sudah gemetaran. Masih bisa di rasakan keduanya, debaran jantung yang seolah menyatu tapi terhalang perasaan masing masing. Jingga dengan rasa bersalah masih menunggu Alan untuk mau menatap matanya, tapi Alan sendiri tak ingin melihat wajah istrinya karena rasa kesal dan amarahnya masih meletup-letup di dada. Hanya butuh beberapa menit, Alan menuruni tebing dengan sempurna.
"Kita sudah sampai di bawah!" ujar Alan masih menggendong Jingga dan mendudukannya di antar celah batu besar untuk menghindari terik mentari yang berangsur ke barat.
"Minumlah! " Alan mengeluarkan sebotol air mineral dari ranselnya. Kemudian berjalan meninggalkan Jingga yang masih terduduk lemas bersandar di antara batu besar.
Alan mengayunkan langkahnya ke arah ransel milik Jingga yang masih tergeletak, perempuan itu memang sengaja melempar rangselnya saat tangannya merasa kesemutan ketika menggantung di tebing.
Masih dengan wajah yang penuh marah, Alan kembali mendekati Jingga, raut wajahnya seperti mengatur emosi yang sudah tak tertahan.
"Puas! " ucapnya singkat masih dengan menatap tajam istrinya yang tertunduk. Alan berdiri di depan Jingga, tangannya bersedekap sementara matanya tak ingin beralih untuk mengintimidasi sosok yang saat ini sudah berderai air mata.
"Bagaimana jika aku tidak datang? Pernahkan kamu memikirkan perasaan orang lain? Kamu anggap apa aku ini? " suara nya terdengar dingin seolah masih menyimpan luapan emosi.
"Bagaimana jika kamu benar-benar terjatuh di sana, Jingga Andini?" lanjut Alan dengan suara lirih penuh penekanan, lelaki itu meraup wajahnya dengan kasar, mungkin jika orang lain Alan pasti sudah menghajarnya habis-habisan karena sudah sangat menyusahkan.
Mendengar semua kemarahan Alan membuat Jingga hanya semakin terisak, perempuan yang masih tergugu dengan tangisannya pun kini merasa sangat bersalah. Dia belum bisa berfikir jika semua yang dia lakukan akan membuat Alan sebegitu kecewa padanya.
Sudah cukup lama mereka terdiam diantara suara deburan ombak, bahkan matahari mulai berangsur ke barat. Senja yang sebenarnya cukup indah untuk dilalui, tapi mereka sedang berada pada sisi emosionalnya masing-masing.
__ADS_1
"Ayo kita pulang, sebelum petang! " ucap Alan yang langsung melangkah meninggalkan Jingga.
"Aduh...! " rintih Jingga membuat Alan menghentikan langkahnya, lelaki itu hanya melirik Jingga yang terjatuh. Meski ada rasa tak tega, saat melihat Jingga yang saat ini tertatih.
Tak ingin ada kata yang terucap, Alan kembali melangkah meskipun lebih pelan. Jingga memaksa kakinya yang terasa linu untuk berjalan mengikuti langkah Alan yang sudah tertinggal agak jauh. Tubuhnya masih gemetar, tapi dia tak berani hanya untuk sekedar mengeluh. Tentu saja, itu karena perasaan bersalah dan melihat kemarahan Alan terhadapnya.
Jalannya terseok-seok, membuntut di belakang Alan hingga meninggalkan tanah berpasir. Langit jingga, deburan ombak dan angin yang bertiup lembut kini mulai di tinggalkannya berlahan.
Jingga berhenti saat melihat tanah terjal bebatuan yang menanjak, dia menghapus peluh yang membasahi dahinya. Rasanya dia tidak kuat lagi jika harus berjalan di medan yang seperti itu, pikirnya, kemudian diikuti helaan nafas berat yang ke luar. Sedang Alan, hanya menolehkan sedikit wajahnya kemudian melirik Jingga yang masih mematung.
"Seperti inilah kegiatan di alam, bukankah ini yang kamu inginkan? " sarkas Alan seperti tak kenal ampun.
Mendengar teriakan Alan, Jingga kembali berjalan. Jujur saja, dia merasa sangat kesulitan untuk melaluinya apalagi dengan tubuhnya yang sudah terasa sangat lelah. Matanya kembali berkaca-kaca saat suaminya kini menghukum semua kesalahannya.
Meski dengan berat, Jingga masih bisa melalui perjalanan terjal hingga beberapa meter. Tidak hanya tubuhnya yang terasa lemas, bahkan saat ini nafasnya pun terasa sesak.
"Mas Alaaaannnnn....! " pekik Jingga saat kakinya tergelincir oleh bebatuan membuat laki laki itu spontan menoleh.
"Jinggaaa.....! " suara bariton itu menggema di antara petang, saat melihat tubuh istrinya menggelinding bebas hingga membentur bongkahan karang besar yang terletak diantara belokan yang menukik.
Alan berlari mengejar Jingga, wajahnya kembali menegang dengan rasa cemas yang kembali terlihat di raut wajahnya.
"Ngga, Jingga...! " panggilnya saat berada di dekat Jingga yang sudah tak sadarkan diri.
__ADS_1
Bersambung.
ayuk yang punya tabungan vote hadiah like bisa di kasihkan ke 'Merindukan Jingga' Terima kasih.... 😍😍😍