
Alan nampak tergesa memasuki gedung yang menjadi bagian dari hidupnya, bukti dari pencapaiannya meski belum semewah dan sebesar kantor arsitek yang sudah mendunia, tapi alangkah indahnya bila mensyukuri apa yang sudah di dapat. Bukankah itu akan jauh lebih baik?
Satu dua dan kesekian karyawan yang berpapasan dengannya pun menunduk hormat, meski dia lebih mengkondisikan sistem kerja mereka sebagai team work tapi tetap saja tidak merubah apapun, dia tetap menjadi orang nomer satu di kantornya.
Lelaki pendiam, cuek bagi yang belum mengenalnya dengan benar, membentuk karakternya sendiri di mata pegawainya, belum lagi wajah gantengnya membuat decak kagum karyawati di sana, untuk gender cewek tidak terlalu banyak menghuni kantor dengan dinding mayoritas kaca itu.
"Selamat pagi, Bang! " sapa Raka saat melihat Alan melewati mejanya.
"Oh ya Bang, kemarin ada perempuan datang ke sini ingin bertemu Abang! Katanya si, dia yang menabrak mobil Bang Raka! " ucap Raka dengan meletakkan beberapa map berisi laporan yang akan diperiksa oleh Alan.
Alan masih terlihat tidak peduli, tangannya menyalakan remot AC karena merasa gerah. Padahal, rasa itu semua hanya melanda dirinya saja. Ya, semua itu karena mengurus Jingga yang sungguh merepotkan karena dia selalu terlibat dengan mood istrinya yang sedang hamil, hingga membuatnya sedikit keteteran saat akan berangkat kerja.
"Soal perempuan itu urusan kamu sajalah! Lagian mobilnya sudah di ganti sama Papa dengan Marcy. " ujar Raka masih memperhatikan sekilas isi Map.
"Secepatnya kamu nyari asisten, Ka! Tapi laki laki saja. Aku tidak mau bermasalah lagi, bekerja dengan perempuan gila! "
" Puuuuft .... siap,Bang! " Raka menahan tawanya, merasa bosnya kali ini trauma dengan makhluk yang namanya perempuan.
" Pulang kerja, nanti ajak semua karyawan di kantor untuk makan bersama dan pastikan ketika pulang satu orang membawa satu kotak makanan. Dan untuk bagian pelaksana lapangan dan surveyor, percayakan saja pada ketua team mereka masing masing biar mereka mengaturnya, ingatkan pula pekerjaan bangunannya jangan sampai tidak kebagian! Dan pastikan tidak ada yang korupsi! " jelas Alan secara detail.
"Siap, Bang! Tapi dalam acara apa? " tanya Raka meski dalam hatinya mengumpat kesal karena selalu memberi perintah serba dadakan.
"Sebentar lagi aku akan menjadi hot daddy! " ucap Alan dengan senyum tipis yang terbit di wajahnya. Rasa bahagia yang tidak pernah surut dalam menyambut kedatangan buah hatinya membuatnya Alan sangat bersyukur, Tuhan sudah mempercayakan semua padanya.
"Wah... Selamat, Bang! Aku ikut senang, Bang. Kalau begitu saya permisi untuk mengurus semuanya." Lelaki muda dengan tubuh jangkung itu meninggalkan ruangan Alan. Dan membagikan beberapa informasi dan job pada yang lainnya.
###
Daniah dan Tyara berjalan menelusuri koridor kampusnya. Kerumunan mahasiswa yang biasa berderat di setiap sisi kampus, kini nampak semakin memudar karena waktu yang semakin merambat ke sore hari. Mereka merasakan kejenuhan yang teramat sangat karena seharian penuh mereka mengikuti jam kuliah, saat ini mereka mulai mencari ide kemana akan menghibur diri.
"Ke rumah Jingga, yuk! Aku dengar dari Bang Aslan Jingga sudah balik. " ajak Tyara begitu bersemangat. Matanya berbinar, menandakan nuansa hatinya yang bahagia saat akan bertemu teman yang sudah di rindukannya.
Mereka berjalan ke parkiran motor. Ya, kali ini Daniah yang membawa motor gede sementara Tyara hanya memboncengnya.
__ADS_1
Persahabatan memang tidak bisa dipaksa tidak bisa di rencanakan, Tapi persahabatan akan mengalir begitu saja dengan kecocokan dan rasa saling memiliki dari masing masing.
Gadis tomboy tersebut melajukan mogenya dengan begitu gesit, beberapa kali Tyara menepuk pundaknya agar Daniah mengurangi laju mogenya. Sore seperti ini, jalan sangat ramai karena banyak pekerja yang baru pulang dari kantor membuat Tyara merasa miris.
"Chhhiiiittt...." Daniah menghentikan motornya dengan tiba tiba, saat akan berbelok di halaman rumah Jingga. Hampir saja sebuah mobil Jaguar yang juga akan berbelok menabraknya dari depan. Untung saja, van depan motor hanya merusak sedikit cat bamper depan.
"Siaaalll.... " umpat Daniah kemudian melajukan kembali motornya masuk ke halaman rumah.
Dia melihat dari spion mobil jaguar yang hampir menabraknya itu juga masuk mengikutinya.
"Dan... kita dikejar! " ucap Tyara dengan menarik tubuh Daniah untuk segera masuk. Gadis feminim itu merasa was was jika dikejar pemilik mobil yang hampir ditabraknya.
"Ngapain sih lu takut? Kesalahan kan bukan murni dari kita?" protes Daniah meski langkahnya mengikuti Tyara.
Beberapa kali tyara memencet bel hingga akhirnya pintu terbuka. "Kalian...! " Jingga langsung memeluk mereka bergantian. Betapa senang hatinya saat melihat kedua sahabatnya berkunjung.
"Oh... ternyata cewek jadi jadian ini teman lo, Ngga! " ucap Dave saat mendapati mereka masih di depan pintu.
"Mas Alan di belakang, Mas! " bukannya menanggapi Dave, Jingga langsung menunjukkan keberadaan Alan.
Jingga pun menarik ke dua sahabatnya menuju rumah bagian belakang. Sudah nampak Alan dan Dave duduk di gazebo dekat kolam renang. Sedang Jingga dan kedua sahabatnya memilih duduk di kursi panjang di teras belakang, dekat pantry yang menghadap dua pohon cemara dan hamparan rumput nanti hijau.
"Ngga, kenapa lu mau diajak pulang Bang Alan sih? " ujar Daniah membuat Jingga mengernyitkan dahi.
"Emang kenapa? "
"Kalau kita yang bawa pulang lo, kan kita dapet voucher berlibur di Bali! " jelas Tyara. Saat itu Alan memang menjanjikan itu pada kedua teman Jingga.
"Gila lo ya... mau manfaatin suamiku! " umpat Jingga yang memang tidak pernah tahu hal itu.
"Itu sih kecil, duit laki lo kan banyak. " lanjut Daniah.
"Oh ya, kenapa lo pakai acara cuti semester? " tanya Tyara yang sudah menyiapkan pertanyaan itu buat Jingga.
__ADS_1
"Hmmm....kasih tau nggak ya? hahahhaa....! " Jingga menggoda kedua temannya yang sudah dipenuhi rasa penasaran.
"Sayang, aku boleh keluar sebentar? " tanya Alan menghampiri Jingga.
"Kemana? "
"Urusan cowoklah, Ngga! Nggak lama! " sahut Dave.
"Jangan mencuci otaknya mas Alan lo, Mas Dave! " Jingga paling tahu jika Dave paling ahli untuk itu.
"Hahahaha....Siap Bu Bos. Tapi aku nggak janji!" jawab Dave masih dengan tergelak.
"Awas saja ... kalau pulang jadi nggak bener! " Ancam Jingga dengan muka bersungut.
"Aku pergi dulu ya, Sayang! " pamit Alan dengan mencium puncak kepala Jingga.
"Duuuhhhh Bang Alan... bikin yang jomblo tambah merana nih! " ucap Daniah dengan memalingkan muka dari adegan yang bikin baper.
"Makanya jadi cewek yang utuh, jangan jadian jadian! " ujar Dave mengolok tampilan dan sikap Daniah yang tomboy.
Alan dan Dave pun menghilang dari pandangan mereka, sedangkan mereka bertiga masih menikmati suasana rumah jingga yang bikin adem dan betah.
"Ayolah, Ngga... Kenapa lo sampai cuti? Padahal kita pinginnya kita bisa wisuda bareng." rengek Tyara yang begitu penasaran. Dia hanya tahu dari Aslan jika Jingga cuti.
"Sebentar lagi kalian akan jadi aunty! " ujar Jingga dengan senyum yang masih melekat di bibirnya.
"Ahhhh... serius lo, Ngga. Akhirnya, jadi juga usaha Bang Alan! Ahahahahah" ucap mereka bersamaan dengan tawa bahagia yang menggelegar memenuhi suasana belakang rumah Jingga.
Daniah dan Tyara memeluk Jingga secara bergantian, setelah tawa bahagia kini berganti dengan mata mereka yang berkaca kaca. Suasana tawa pun berganti dengan rasa haru.
"Terima kasih, aku merasa tidak hanya mendapatkan sahabat, tapi saudara. " ganti Jingga yang ini ingin menangis bahagia. Ah Bumil satu ini emang kelewatan baperan ya gaes.....
Bersambung....
__ADS_1
Ayooo siapa yang mau bilang sedikit???? insyallah kita up lagi nanti malam ya gaesss.... readers aquuuhhhh tercinta.