Merindukan Jingga

Merindukan Jingga
55. Pencapaian


__ADS_3

Alan tidak kuasa menolak permintaan Jingga untuk memilih menggunakan motor. Perjalanan panjang dengan menggunakan motor membuat Jingga beberapa kali merubah posisi duduknya. Punggungnya sudah mulai pegal bahkan sempat dia hanya menyandar di punggung Alan yang masih melesatkan motornya menuju jalan yang semakin menanjak.


"Kamu capek, Ngga? " teriak Alan dengan memiringkan kepalanya ke belakang dan mengurangi laju motornya. Dia meraih tangan Jingga dan mengeratkan di perut kerasnya agar Jingga bersandar saja di punggungnya.


"Iya, Mas! " Jawab Jingga masih menyandarkan kepala di punggung Alan.


Setelah melewati hutan lindung dan jalan yang cukup berkelok, Alan menghentikan motornya di sebuah rumah makan yang tidak terlalu ramai tapi menyuguhkan view yang sangat menarik.


"Mas, sudah sampai? " tanya Jingga yang mengangkat kepalanya saat sadar Alan sudah menghentikan motornya.


" Kita istirahat dan makan dulu. " ujar Alan dengan membuka helm dari kepala Jingga.


Mereka masuk ke dalam rumah makan, memilih private room, dengan segala kenyamanan yang ada.


"Rumah makan di sini kok tidak kalah keren dari yang ada di kota, ya? " Jingga langsung meluruhkan tubuhnya di sofa panjang, sedangkan Alan berjalan ke arah jendela memperhatikan pemandangan di daerah yang lebih rendah.


" Ini milik orang Asing, makanya berbeda! Tadi udah aku bilang bawa mobil saja, tapi kamunya ngeyel! " Alan kemudian berjalan mendekati Jingga dan duduk di sebelah istrinya.


Mereka menghabiskan waktu hampir dua jam untuk melepaskan lelah dan menikmati makan siang. Jingga masih mencoba meregangkan ototnya saat mereka akan keluar dari private room.


Alan merangkul bahu kecil Jingga, membawa istrinya kembali ke parkiran. Sesampai di luar, Jingga menghentikan langkahnya menatap seorang gadis kecil yang sedang tertawa lepas sambil berlarian mengejar papanya.


"Ngga! " Suara Alan menyadarkan Jingga dari lamunannya. Lelaki itu berdiri menatap manik mata yang berkaca kaca kemudian menelusuri apa yang barusan Jingga lihat.


"Kamu merindukan, Bapak? " Jingga mengangguk.


"Aku tidak punya banyak moment bersama beliau!" Alan merengkuh bahu kecil itu menenggelamkan Jingga dalam pelukan hangatnya untuk sesaat, kemudian kembali meregangkan pelukannya dan menatap wajah sendu yang ada di depannya.


"Kita akan punya keluarga seperti mereka, semoga Tuhan mengizinkan kita selalu bersama"


"Penuh Cinta? " sela Jingga.


"Tentu...! " Alan menyentil hidung mungil Jingga dan menarik lengan kecil itu menuju motornya.


"Sudah siap? " tanya Alan setelah memakaikan helm di kepala Jingga. Perempuan yang sebenarnya sudah merasa kelelahan itu hanya bisa mengangguk, biar bagaimanapun dia sendiri yang memaksa Alan untuk menggunakan motor.


Perjalanan kembali berlangsung hingga motor itu mulai melewati jalan yang menanjak dan menukik. Jingga merekatkan pelukannya di tubuh Alan karena atmosfir yang menyapu semakin terasa dingin saat posisi mereka yang sudah semakin meninggi.

__ADS_1


"Masih jauh, Mas? " tanya Jingga.


"Sebentar lagi! " Alan semakin mempercepat laju motornya hingga sampai di sebuah kontruksi bangunan yang masih terbengkalai.


"Mas, kenapa di sini? " Jingga masih terlihat bingung menatap ke arah kontruksi bangunan.


"Kita ke sini dulu, aku akan memeriksa dulu material proyek villa di sini. " jawab Alan begitu santainya sambil meneliti beberapa bahan konstruksi yang ada.


"Apa??? " pekik Jingga, matanya melotot hampir tidak percaya dengan kelakuan suaminya.


"Maksutnya, biar sekalian. Jadi bisa liburan dan juga bekerja. " Alan pun tersenyum tipis mencoba menetralkan wajah kesal Jingga.


"Keterlaluan, sungguh keterlaluan!" Jingga memukulkan tasnya ke tubuh Alan dengan bertubi tubi. Dia merasa seperti di bohongi saja.


"Sakit, Ngga! " Lelaki berkulit putih itu pura pura merintih kesakitan, agar Jingga menghentikan pukulannya.


"Keterlaluan, aku pikir Mas Alan ikhlas mengajaku liburan! Ternyata malah diajakin kerja.


" Mana dompetmu, Mas Alan? "


"Ayo kemarikan! " Jingga setengah memaksa mencari dompet Alan di saku belakang celana jeansnya.


"Eh Ngga, jangan gitu, ntar jatuh! " tak ingin sampai mereka terjatuh Alan dengan ragu ragu menyerahkan dompetnya pada Jingga. Secepat kilat Jingga, menyambar dompet Alan dan memasukkannya ke dalam tasnya.


"Maksutnya apa, Ngga! "


"Biar tau jika semua sudah diambil, cari duit terus juga percuma, nyari duit itu yang normal normal saja, kita nggak bakal hidup selamanya!" celoteh Jingga penuh emosional.


"Iyaaaa bu ustadzzzaahhh! Tapi kalo nggak punya duit juga repot! "


"Kalo dibilangin itu lo, jawabannya kok nggak enak di dengar! " Jingga mulai menghujani cubitan kecil di pinggang suaminya, membuat laki laki berhidung bangir itu tertawa sumbang menahan geli dan panas di kulit pinggangnya.


"Please, Ngga! I can't stand it anymore." ucap Alan sambil bergelinjang aneh membuat Jingga malah ikut tertawa melihat tingkah polah suaminya.


Jingga menghentikan cubitannya karena perutnya yang sudah kaku karena menertawakan Alan. Sementara yang ditertawakan kini hanya menatapnya dengan tersenyum tipis. Menyadari Mata perak itu menatapnya Jingga pun berlahan menghentikan tawanya.


"Jangan menatapku seperti itu! " sungut Jingga yang sudah dibuat salah tingkah.

__ADS_1


"Aku suka melihatmu tertawa lepas seperti tadi! " tangan itu menelangkup wajah mungil di depannya, menatapnya tajam dan berlahan memangkas jarak diantara mereka membuat bibir tipis Alan menyecap lembut bibir istrinya.


"Ehm... aku sudah ingin istriahat, Mas! " ujar Jingga yang salah tingkah setelah ulah nakal Alan.


"Siap, Bu Bos. Ayok kita naik sedikit lagi! "


Mereka kembali menaiki motor, hanya tinggal beberapa meter saja mereka sudah sampai di vila yang sudah dipesan Alan untuk mereka bermalam.


"Ayo turun! Kita sudah sampai. " Ujar Alan saat menghentikan motornya.


Mereka memasuki villa berlantai dua, tidak terlalu besar tapi viewnya bisa menyapu seluruh dataran di bawahnya saat berada di balkon.


"Cantiknya ya, Mas! Udaranya juga segar jadi ingat rumah! " Alan melingkarkan lengannya di bahu istrinya, sementara Jingga juga membalas menyandarkan kepalanya di dada bidang Alan. keduanya menikmati keindahan dan atmosfir pegunungan yang cukup menyegarkan.


"Doakan aku bisa membuatkan tempat yang jauh lebih indah dari villa ini! " lirih Alan yang memang berharap bisa membuat sesuatu yang akan selalu diingat banyak orang sebagai mahakaryanya.


"Mas.. "


"Kenapa mas Alan sangat ambisius? Padahal kalo masalah uang saja aku kira keluarga Mahesa dan Papa Diego tidak akan membiarkan Mas Alan kekurangan! "


"Terkadang tujuan seseorang tidak hanya terpacu pada materi saja, meski itu pun akan mengikuti secara spontan. Tapi, terkadang kita butuh sebuah bukti untuk pencapaian dari cita cita atau impian kita dan itulah arti sukses sebenarnya. " jelas Alan membuat Jingga termenung. Ada rasa sedih saat memikirkan sebuah cita cita pencapaian seperti yang baru dikatakan suaminya.


"Kenapa? " selidik Alan saat melihat ekspresi sedih Jingga.


"Aku seperti sudah tidak punya harapan untuk punya cita cita. Seharusnya aku tidak menikah dulu, seharusnya aku bisa berfikir lebih smart. "


"Ha ha ha cita cita kan nggak cuma di karir saja, Ngga! Jadi istri yang solehah, manut sama suami tidak ngeyelan juga bisa! "


"Itu sih, maunya Mas Alan saja. " cebik Jingga yang merasa lelaki yang berdiri didekatnya itu hanya mau enaknya saja.


"Jangan salah, itu malah cita cita besar lo, pencapaiannya di akhirat! Hayoo, Tuhan sendiri yang kasih penghargaan itu! "


"Iya, pak ustad! " Jingga melingkarkan kedua lengannya di tubuh Alan meski cakupannya tak sampai. Gesturenya seolah menceritakan hanya Alanlah saat ini dia punya dalam hidupnya.


Bersambung


Terima kasih yang sudah kasih Like dan hadiah... bagi author itu sebuah apresiasi tersendiri untuk tetep memberi semangat.

__ADS_1


__ADS_2