
Alan Membelah jalan raya dengan santai saat akan kembali ke rumah, tapi itu sebelum dia menyadari ada mobil yang mengikutinya sedari tadi. Lelaki berwajah bule itu akhirnya menambah kecepatan dan mengalihkan sementara tujuan pulangnya menuju sebuah rumah makan yang cukup ramai, saat mengetahui sebuah mobil sedan mengikuti mobilnya dari belakang
"Mas Alan, kita kan tidak merencanakan makan malam di luar? " tanya Jingga merasa bingung dengan rencana tiba-tiba Alan yang berbelok ke sebuah rumah makan.
"Kita akan makan di sini. Jangan turun, dulu! Aku akan membukakan pintu mobil untukmu." jawab Alan yang kemudian keluar dari mobil terlebih dahulu menuju pintu sebelah.
"Sebenarnya ada apa, Mas? " tanya Jingga saat keluar dari mobil.
Alan masih terdiam, dia kemudian bergegas mengapit pinggang istrinya menuju ke dalam rumah makan.
"Kita akan makan di sini. " ujar Alan saat menarik kursi untuk Jingga.
"Tadi, aku sudah meminta Bi Murti untuk memasak udang sambal pedas sama opor ayam dan ditambah acar mentimun! " ucap Jingga masih bingung saja.
"Ngga apa, kita akan makan lagi di rumah!" jawab Alan membuat Jingga semakin bingung.
Akhirnya, mereka benar-benar menyelesaikan makan malam di sana. Tapi Alan masih saja melihat mobil sedan mewah itu berada di parkiran, bisa terlihat beberapa orang di dalamnya.
Alan memutuskan membawa Jingga keluar dari rumah makan lewat pintu belakang. Ya, dia tak ingin mengambil resiko apapun atau sekedar berspekulasi. Jingga sendiri hanya mengikuti apa yang diarahkan suaminya. Mereka meninggalkan mobil mereka di rumah makan tersebut dan pulang menggunakan Taxi.
"Mas, ada apa? " tanya Jingga saat mereka sudah duduk di bangku belakang taxi. Dia bisa melihat wajah Alan yang terlihat menegang.
"Tidak ada apa-apa. Kita akan baik-baik saja. " Alan merengkuh bahu istrinya kemudian mencium puncak kepala Jingga, tapi otaknya masih berfikir tentang mobil sedan yang membuntutinya sejak dari butik.
###
Malam itu selesai belanja dari butik dan makan malam di luar, Jingga langsung mempelajari beberapa catatan yang baru tadi siang dia fotocopy. Besok terakhir ujian, dan itu pun tinggal satu mata kuliah saja. Sedangkan Alan malah menghabiskan waktunya untuk berolahraga di belakang. Pikirannya kembali tersita pada mobil sedan yang membuntutinya tadi.
"Mas Alan, ada yang nyari! " ujar Bi Murti saat mendapati Alan berada di tempat Gym.
"Siapa, Bi?" tanya Alan dengan mengakhiri aktifitasnya.
"Katanya teman kantor, Mas Alan. " jawab Bi Murti yang kemudian pergi meninggalkan Alan.
__ADS_1
Lelaki yang masih menggunakan kaos singlet dan celana pendek itu pun akhirnya keluar, dia yakin jika yang datang paling Raka.
"Oh, kamu, May. " ucap Alan saat melihat yang datang ternyata Maya.
"Bang, ada hal penting yang ingin aku bicarakan soal proyek pembangunan hotel yang ada di luar kota! "
"Kenapa? Apa ada kendala? " tanya Alan yang melihat wajah serius Maya. Lelaki itu kemudian duduk di sebelah Maya.
"Bang Raka meminta kita untuk menyusulnya besok dengan membawa berkas perencanaan dan kesepakatan awal, beliau meminta Bang Alan menyusul karena butuh persetujuan berkas yang baru direkonstruksi ulang dengan beberapa points perbaikan karena kemarin ada sebuah trouble katanya dan sekalian meninjau langsung kondisi di lapangan. " jelas Maya.
"Baiklah besok kita akan berangkat dan nanti aku akan bicara pada Raka, jangan khawatir dia bisa diandalkan! " ujar Alan masih dengan tenang.
"Jadi, kita akan berangkat bersama atau gimana? " tanya Maya.
"Iya,kita berangkat bersama saja dari kantor. " jawab Alan.
"Baiklah Bang, aku permisi untuk menyiapkan acara besok! " pamit Maya saat melihat Jingga yang sedang melewati ruang utama tempat mereka berbincang.
"Mau dong! " sapa Alan pada Jingga yang baru menyeduh kopinya di meja makan. Jingga hanya menyodorkan secangkir kopi di depan Alan dan kemudian ia berjalan menuju ke dapur.
Alan mengikuti Jingga yang berjalan menuju pantry. Istrinya terlihat membuat kembali kopi seperti yang diberikan padanya.
"Ngga, kamu marah? " tanya Alan saat berada di tengah pintu.
"Nggak, kenapa harus marah?" jawab Jingga, tangannya masih sibuk mengadu gula dan kopi.
"Jangan dekat-dekat! atau aku siram dengan air panas!" ancam Jingga saat melihat Alan mulai berjalan mendekatinya. Wajah Jingga terlihat begitu jutek saat melihat kehadiran suaminya.
"Kenapa? Benar kan, Cemburu?" ucap Alan dengan kedua tangannya terangkat, tanda dia tidak akan mendekat.
"Benar cemburu, kan? " desak Alan ketika tak ada jawaban dari Jingga. Perempuan itu masih asyik menyeduh kopinya.
"Apaan cemburu? Badan Mas Alan bau! " jawab Jingga dengan melewati Alan begitu saja dengan membawa secangkir kopi panas ke meja.
__ADS_1
Mereka menikmati kopi bersama, Jingga memang sudah merasa mengantuk, tapi malam ini dia masih ada beberapa lembar materi yang harus dipelajari. Karenya dia membuat kopi untuk bisa menahan rasa kantuknya.
"Ngga, besok aku ke luar kota kemungkinan aku tidak pulang! " Kalimat Alan menghentikan Jingga menyesap kopinya.
"Apa bersama teman Mas Alan yang tadi? "
"Tentu, emang Kenapa? " ujar Alan.
"Aku tidak menyukainya, dia seperti mencari perhatianmu, Mas! " jawab Jingga, bisa terdengar desahan lemah saat perempuan itu melontarkan kalimat keberatannya. Dia memang tidak senang saat melihat Alan bersama Maya, apalagi harus keluar kota bersama.
"Hahaha, wajar sih posesif jika punya suami ganteng."
"Ganteng tapi tua! " cebik Jingga yang begitu kesal dengan kesombongan suaminya. Dia memilih membawa kopinya masuk ke dalam kamar.
Melihat Jingga berjalan ke kamar, Alan pun membuntut di belakang.
"Sayang, dia cuma rekan kerja tidak ada apa-apa! " bujuk Alan masih dengan mengejar Jingga masuk ke dalam kamar.
"Apapunlah, terserah! Tapi jangan stalking kayak gini. Itu ponselnya berbunyi terus! " Jingga mencoba mengingatkan Alan jika dari tadi ponselnya sudah berdering terus.
Alan berjalan menuju sofa karena ponselnya tergeletak di sana.
"Iya, ada apa, Ka? tanya Alan saat mengangkat telpon dari Raka.
" Bang, kayaknya ada yang mensabotase proyek kita! Untung saja masih bisa teratasi. Tapi aku harap Abang bisa mengendalikan situasi di sini. " ucap Raka seolah mendesak Alan untuk ikut campur tangan langsung.
"Oke, besok aku dan Maya akan ke sana!Jangan khawatir pasti kita bisa menghandle semuanya! " ucap Alan mencoba menenangkan Raka.
Alan kemudian duduk termenung memikirkan rentetan kejadian yang seperti tiba-tiba mengancam. Apa semua berhubungan dengan bisnis, atau memang kebetulan dalang semuanya seorang pebisnis. Mungkin urusan kerjaan Alan tidak terlalu mencemaskan karena proyek sudah berjalan enam puluh percent dan semua kesempatan sudah menguatkan posisi perusahaannya. Tapi mobil sedan tadi? Ada rasa cemas yang menghinggapi hatinya tentang keselamatan terutama pada Jingga.
Bersambung
Yuk semangatin thornya karena dengan like vote komen juga bolehnya. soalnya next chapter si othor butuh energy extra nih.
__ADS_1