Merindukan Jingga

Merindukan Jingga
41. Negatif Thinking


__ADS_3

"Kamu kenapa, Cah Ayu? Kok pakai acara digendong? Dan itu kenapa jidatnya? " cecar Eyang putri saat melihat Alan meletakkan Jingga di kursi meja makan. Sebenarnya, jika hanya untuk melangkah pelan saja Jingga masih bisa, tapi karena rasa kesalnya pada Alan, perempuan itu tidak akan membiarkan Alan melenggang begitu saja.


"Jatuh Eyang, ! " jawab Jingga, matanya menatap tajam Alan, seoalah ingin menumpahkan segala kekesalannya pada lelaki yang saat ini duduk di depannya.


"Nggak bisa jalan, Eyang! Biasalah, banyak polah sekarang pakai jarit ya, gitu! " Tak henti-henti Alan meledek Jingga seperti sengaja membuat istrinya bertahan dengan kemarahannya. Namun, Jingga hanya diam saja meskipun saat ini hatinya sangat meradang, iya... Kejengkelan itu karena Alan seolah tidak merasa bersalah sekaligus jidatnya yang masih terasa nyeri.


Setelah sarapan, Jingga memilih berjalan sendiri meskipun harus sedikit mengangkat lilitan kain batik itu karena membuatnya tak leluasa seperti saat mengenakan celana atau dress dengan potongan bawah yang lebar.


###


"Benarkah Eyang sudah sehat? " tanya Alan meyakinkan lagi kala mereka sedang duduk santai di pendopo, karena sore nanti dia ingin segera ke rumah Bu Sasmitha.


"Biasa kalo udah tua ya gitu, le! Eyang tak apa, kalian nengokin Sasmitha saja. Dia pasti sudah kangen dengan anak wedoknya(anak perempuannya). " jawab Eyang Putri yang begitu mengerti perasaan seorang ibu.


Menjelang sore, setelah solat ashar mereka berpamitan dengan Eyang Putri dan meninggalkan pelataran luas rumah joglo itu. Jingga masih cemberut, rasanya kakinya serasa diikat saja, tidak bisa bergerak seperti. biasa.


" Kenapa cemberut terus?" tanya Alan dengan hanya melirik saja ke arah Jingga yang duduk di sampingnya.


" Menyebalkan! " Hanya kata itu yang dia tujukan untuk suaminya.


" Kenapa menyebalkan? Kan, bentar lagi kita pulang ke rumah Ibu! Jangan cemberut gitu terus. Nanti malah dikira aku sudah menganiya istriku! " Berusaha membujuk perempuan di sampingnya untuk menampilkan senyum, meskipun hasilnya gagal juga.


"Aduh...! Sengaja ya, Mas? " Saat jalan terjal membenturkan kepala Jingga di rangka jendela mobil. Ia semakin negatif thinking terhadap Alan.


"Kenapa aku apes banget sich! " gumam Jingga dalam hati diiringi desahan nafasnya yang kasar.


Jalan terjal sudah mereka lalui hanya dalam waktu sekejap saja, mobil Jeep itu berbelok di halaman rumah Bu Sasmitha. Sebenarnya ada rasa bahagia yang menesulup diantara rasa kesalnya pada Alan yaitu saat melihat rumah yang sudah menjadi saksi dia tumbuh menjadi seorang gadis.


"Ayo turun! "

__ADS_1


"Nggak bisa turun! " ketusnya menjawab ajakan Alan. Alan turun terlebih dahulu dan membukakan pintu mobil, kemudian menggendong dan menurunkan Jingga dari dalam mobil.


Suasana rumah terlihat sepi, tapi masih terlihat bekas bunga dan tanaman yang masih basah karena habis disiram. Jingga masih berjalan dengan kalem yang diimbangi oleh Alan yang juga memelankan langkahnya hingga sampai di depan pintu.


"Assalamualaikum... tok tok tok! " Alan mengetuk daun pintu rumah yang memang sudah terbuka lebar seperti biasanya.


"Masuk ajalah, Mas! " Jingga memang sudah tidak sadar ingin segera ganti baju.


" Husss... Itu namanya tidak sopan! Ini rumah Ibu." Tatapan tajam Alan mengarah ke Jingga yang sudah mengerucutkan bibirnya.


"Assalamualaikum... ! " salam keduanya di sambut kedatangan wanita paruh baya dengan senyum lebarnya.


" Waalaikum salam...Jingga, Nak Alan! " ucap Bu Sasmitha yang berjalan tergesa menghampiri anak dan menantunya. Dipeluknya Jingga sejenak, seolah ingin menuntaskan rasa rindunya selama ini.


"Ayo masuk...! " ajak Bu Sasmitha setelah melepas pelukannya. Mereka berjalan menuju ke ruang tengah yang biasa digunakan untuk mengobrol dan berkumpul.


"Bu, Jingga akan ke kamar dulu! udah gerah banget ini. " ijin Jingga membuat Sasmitha menyadari penampilan anaknya yang aneh.


"Oh, itu ... Kita ke tempat Eyang pas nggak ada persiapan, Bu. Dan terpaksa Jingga mengenakan kebaya Eyang."


"Bu, apa ibu tau jika Jingga mengalami trauma?" Alan akhirnya menanyakan itu pada Mertuanya. Dia tidak menyia-nyiakan kesempatan di saat Jingga tidak bersama mereka.


"Iya, sudah lama. Apa, Nak Alan menyesal mengetahui keadaan Jingga?" Ada rasa kekhawatiran di wajah Sasmitha takut menantunya tidak bisa menerima keadaan anak perempuannya.


"Bukan-bukan seperti itu, Bu. Kenapa ibu tidak membawanya ke psikolog? Kasian Jingga saat situasi tertentu seperti hujan petir dan melihat parang, dia mengalami post traumatic stress diorder! Keadaan yang seperti itu bisa membuatnya depresi. " Alan sangat menyanyangkan jika keadaan Jingga yang seperti bisa berlarut hingga sekian lama tahun.


"Apa semakin parah, Nak Alan? " Bisa terlihat kecemasan itu di wajah Bu Sasmitha saat mendengar kata depresi.


"Jingga saat ini sedang menjalankan terapi. saya pikir sudah ada kemajuan, karena dia sudah mempu memberi perlawanan pada rasa ketakutannya itu. Tapi dia memang masih harus melanjutkan terapinya. "

__ADS_1


"Maafkan Ibu, Ibu hanya memikirkan bagaimana hidup tenang dan menjauhkan diri dari keluarga besar. Jadi Ibu tidak pernah berfikir tentang kondisi Jingga yang butuh seorang psikolog. " Bisa terbaca oleh Alan banyak hal yang masih dirahasiakan ibu mertuanya tapi dia tidak ingin memaksa Bu Sasmitha untuk bercerita sekarang.


"Saya mengerti. Doakan saja agar semua bisa berjalan lancar. Jangan khawatir, Jingga pasti bisa mengatasi semuanya. "


"Tentu saja. Oh ya, ibu akan menyiapkan makan malam dulu! " Sasmitha meninggalkan Alan yang kemudian beranjak menuju kamar, hari menjelang petang membuat badannya menagih untuk di bersihkan. Dia kembali mengingat Jingga yang seharian menggunakan baju era abad ke 18 itu membuatnya ingin tertawa geli sekaligus kasihan, berbeda dengannya yang selalu stay baju di mobil untuk cadangan saat dia harus meninjau proyek dilapangan.


Pandangannya mengedar ke seluruh sudut kamar, tapi tidak ditemukan Jingga di dalamnya. Alan berjalan mendekati pintu kamar mandi, dia yakin Jingga ada di dalamnya.


" Ngga, kamu di dalam? " tanyanya dengan menempelkan kepalanya di pintu kamar mandi. Dia begitu penasaran kenapa Jingga terlalu lama di dalam sana padahal kamar mandinya tidak ada bathtub.


" Jingga...! " panggil Alan sekali lagi dengan kembali mengetok pintu kamar mandi beberapa kali.


"Mas, perutku sakit! Aku menstruasi, bisa membelikan aku pembalut? " Wajah Jingga meringis menahan rasa sakit di perutnya, saat membuka sedikit pintu kamar mandi.


"Pembalut? "


"Iya, masak aku beli sendiri? Di warung sebelah rumah ada, Mas. Tinggal jalan beberapa meter saja. " Jingga kemudian menutup kembali pintu kamar mandi.


"Astaga Jingga, bukan masalah jalannya, tapi ... ! " Alan menggaruk tengkuknya yang rasanya tidak gatal. Tidak pernah dia membayangkan akan membeli pembalut. Apa yang dipikirkan orang jika melihatnya membeli pembalut.


"Mau apa nggak? " Teriak Jingga dari dalam kamar mandi, seolah memaksa Alan untuk mengiyakan keinginannya.


"Iya sebentar...! "


Dengan terpaksa Alan mengiyakan, mau tidak mau dia pergi keluar. Alan dari jauh sudah meneliti situasi di dalam warung, untung saja warung pada situasi yang sepi membuatnya mempercepat langkahnya.


"Mau beli apa, Mas? " saat sampai di warung membuat dia sudah di sambut ibu pemilik warung.


"Beli itu! " Alan menunjuk salah satu merk pembalut dengan asal asalan. wajahnya bersemu merah menahan rasa malunya. Apalagi, saat menyadari kehadiran dua gadis untuk berbelanja, rasanya dia ingin sekali menenggelamkan wajahnya di dasar samudra.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2