Merindukan Jingga

Merindukan Jingga
71. Jorok


__ADS_3

Aku mencintaimu dengan egois karena aku tidak ingin dibandingkan atau bersaing dengan siapapun


(Jingga Andini)


Alan berjalan dengan tergesa-gesa saat keluar dari ruang pertemuan di kantor Dave. Hari ini Alan cuma mengisi hari kerjanya hanya untuk menemui klien, membuat kesepakatan dan terakhir, menghadiri pertemuan semua pemegang saham di perusahan Dave.


"Hae... Bro, Kenapa harus buru buru? " tanya Dave saat berhasil mengejar Alan yang akan masuk ke dalam Lift.


"Aku harus cepat pulang! " jawab Alan kemudian masuk ke dalam lift diikuti Dave.


" Bagaimana jika kita ngopi dulu? " tawar Dave.


"Jingga di rumah sendirian. Jika mau ngopi bersama, kita ke kontrakan Jingga saja." tolak Alan yang memang sudah mengkhawatirkan Jingga.


"Astaga... bucin amat! Perasaan dulu lo nggak gitu gitu amat, malahan ceweknya yang ngejar ngejar, lo." ledek Dave yang memang mengenal Alan yang paling cuek terhadap cewek dibanding teman temannya yang lain.


"Bukan begitu, Jingga hamil aku nggak tega membiarkannya sendiri." Lift terbuka, Alan melangkah keluar, masih diikuti Dave yang membuntut di belakangnya.


"Lo, itu kayak lelaki kesepian saja. sana kek, nyari hiburan sendiri.Jangan mengganggu calon hot daddy! " Alan yang nggak terlalu pinter becanda pun mulai berkelakar.


"Puuuffttt.... gaya lo, mentang mentang mau jadi Daddy. " decih Dave seolah cemburu karena Alan sudah punya tujuan hidup. Berbeda dengannya yang masih memikirkan di mana hidupnya akan berlabuh.


Dave membiarkan Alan pergi. Berlahan lahan mobil yang di kendarai lelaki itu menghilang dari basemen kantor Dave.


Rasa cemas yang menggelitik karena seharian ponsel Jingga yang tidak aktif membuatnya melajukan dengan kecepatan tinggi. Meskipun, dia sudah delivery food makanan Jepang kesukaan Jingga, tapi dia masih belum tahu apakah Jingga memakannya atau tidak. Dia benar benar tidak ingin istrinya kekurangan nutrisi lagi.


"Chhhhiiitttt.... " Alan terhenyak kaget, dia mengerem mobilnya dengan tiba tiba saat sebuah mobil sedan menyerempet body depan mobilnya.


"Shiiiittt.... " umpatnya kemudian turun dari mobil bersamaan dengan seorang gadis cantik keluar dengan mobil yang menyerempetnya tadi.


"Sory sory Mas... saya akan bertanggung jawab, tapi saat ini saya buru buru! Boleh minta no yang bisa saya hubungi? " ucap gadis cantik berambut panjang dengan melipat kedua tangannya memohon.


"Ngga perlu!" Jawab Alan dengan singkat, bermaksut meninggalkan dialogue yang tidak terlalu penting.

__ADS_1


"Please, saya akan merasa bersalah jika tidak bertanggung jawab atas kejadian ini. Please, Mas...! " ucapnya dengan wajah memelas.


"Ini kartu namaku! " Alan menyodorkan kartu namanya.


"Ini telpon kantor, ya?" tanya gadis itu sambil membaca kartu nama yang tertera.


"Iya... aku buru-buru. "


Tanpa basa basi Alan pun meninggalkan gadis itu, karena memang dia sudah tidak sabar Ingin bertemu dengan Jingga.


###


Sedan camry berwarna hitam yang di kendarai Alan itu sudah terparkir di depan rumah kontrakan. Pukul tujuh malam, Alan baru sampai di rumah. Lelaki itu sudah mengusahakan untuk menyelesaikan schedule hari ini lebih cepat, tapi nyatanya tetep saja dia harus sampai rumah menjelang Magrib.


Alan mengetuk pintu hingga beberapa kali tapi tidak ada respon, kemudian mencoba membuka handle dan ternyata memang tidak di kunci.


"Astaga... ceroboh sekali. " gumamnya lirih kemudian berjalan masuk mengedarkan pandangannya ke segala sudut ruang, dan ternyata memang sepi. Alan berjalan ke dapur, menaruh lemontea yang sempat dia beli saat perjalanan pulang itu ke lemari pendingin.


"Seperti orang kelelahan saja kamu, Sayang! " gumamnya seraya merebahkan diri di samping Jingga, menekuk kedua tangannya untuk dijadikan tumpuan kepala.Matanya menerawang mengingat loncatan loncatan peristiwa, pertemuan demi pertemuan yang sangat menyebalkan sekaligus menggemaskan kembali terbayang olehnya. Jingga Andini yang terlihat seperti bocah ABG saat pertama kali bertemu, kini akan menjadi ibu dari anaknya. Ah, rasanya hidup memang penuh sensasi.


Lamunannnya kembali terusik saat Jingga menggeliat dan tangan kecilnya melingkar di perut suaminya. Wajah Ayu itu kini menghadap tepat di bawah ketiaknya, membuat Alan ingin merubah posisi tangan agar bau keringatnya tidak menguar menajam di hidung Istrinya.


Alan menggerakkan tangannya dengan pelan, takut mengusik ketenangan tidur Jingga. Tapi tetap saja, gerakan pelan Alan yang berubah posisi tangannya membuat Jingga menggeliat gelisah. Berlahan Jingga mengerjap sekaligus tersentak kaget saat mendapati sosok besar itu sudah ada di ranjangnya.


"Astagfirullah.... kamu mengagetkanku, Mas! Aku kira gendruwo. " celetuk Jingga langsung bangkit untuk duduk saat terkaget dengan keberadaan Alan yang tidak disadarinya.


"Ya Allah, makhluk seganteng ini kamu pikir gendruwo? Kalo membuat prasangka yang kira kira dong, Sayang! " ujar Alan, laki laki itu tak ingin membawa suasana serius atas perkataan Jingga yang masih terdengar pedas.


"Siapa yang mengijinkanmu tidur di sini, Mas? " Jingga memang belum mau jika Alan tidur bersamanya.


"Aku merindukanmu, Sayang."


"Aku tidak... " lirihnya tiba tiba terlintas bayangan Ketika Maya mencumbu Maya di sofa ruang kerjanya. Mata indah itu berkaca kaca, kembali ingin menumpahkan tangisnya.

__ADS_1


"Ya ya... aku tidak akan tidur di kamar. Aku akan tidur di sofa, tapi jangan mengingatnya lagi, ya" Alan tahu jika sudah seperti itu pasti Jingga mengingat kejadian di ruang kerjanya. Meskipun sudah mencoba mengalah, tapi Jingga masih menangis.


"Jangan menangis! Aku akan keluar. " ucapnya kemudian menuruni tempat tidur itu.


"Mas Alan..." Panggilan Jingga membuat Alan berhenti melangkah.


"Apa kamu menikmati cumbuan itu hik hik hik.... " kalimat itu membuat Alan mengerti, pola pikir Jingga yang impulsive itu membuat arah pemikirannya sedang menyimpulkan sesuatu yang berlebihan. Alan kembali mendekati Jingga yang terisak. Memeluk istrinya, agar berhenti menangis.


"Dengarkan aku Jingga Andini. Aku tidak pernah mengkhianatimu, bagaimana aku bisa menikmati cumbuan itu jika yang aku pikirkan hanya dirimu. Saat itu aku hanya melihat bayangan dirimu, kamu boleh percaya atau tidak. Aku hanya bisa bicara jujur meski tidak ada bukti. " lirih Alan masih dengan memeluk istrinya yang sesenggukan.


Alan meregangkan pelukannya, menatap wajah sendu yang saat ini penuh dengan air mata.


"Percayalah padaku, Jika aku mengkhianatimu tentu saja aku tidak akan segila ini mencarimu. Jika, Aku selingkuh tentu saja aku akan senang saat kamu menghilang."


Kali ini Jingga yang memeluk Alan dengan erat. Selain juga merindukan lelaki itu, kehamilannya sebenarnya seperti mengikatnya pada lelaki yang ingin dia tinggalkan itu. Di dekat Alan, dia merasa nyaman, bahkan rasa mualnya pun bisa menghilang saat mengendus aroma tubuh suaminya.


"Kamu sudah makan? " pertanyaan itu yang dari tadi ingin dia tanyakan.


"Sudah, siang tadi. Tapi mas Alan memesan makanannya terlalu banyak, jadi makanannya masih terlalu banyak. " jelas Jingga yang memang memakan sedikit saja, tapi setidaknya dia tidak memuntahkannya lagi.


"Temani aku tidur ya...! " Jingga merebahkan tubuhnya disusul Alan yang dengan rasa bahagia menuruti keinginan istrinya yang selesai merajuk.


Seperti biasa Jingga melingkarkan tangannya begitu erat dan menelusupkan wajahnya di area favoritnya hanya untuk mengendus aroma tubuh suaminya.


"Sayang, aku belum mandi. Ini akan tercium sangat bau! " ujar Alan yang merasa tidak percaya diri saat Jingga berada di bawah ketiaknya.


"Diamlah! " ucap Jingga membuat Alan terdiam.


"Astaga anakku kenapa kamu sangat jorok sekali. " gumam Alan dalam hati yang menyadari kelakukan istrinya yang tidak lazim itu sejak mengandung buah hati mereka.


Bersambung....


Yang menyukai Cerita romantis jangan lupa Mampir di Rahasia Cinta Zoya ya.... Di episode nanti akan tampil pesonanya Mas Hans Satrya Jagad dalam menaklukkan hati Zoya.

__ADS_1


__ADS_2