Merindukan Jingga

Merindukan Jingga
24. Kurcaci Manis.


__ADS_3

Hari ini Alan disibukan dengan beberapa berkas, bahkan untuk meninjau proyek keluar kota dia mengutus Raka. Beberapa kali terdengar notifikasi dari ponselnya, membuat Alan menghentikan sesaat pekerjaannya.


[Aku pulang sore, ya💃]


Kurcaci


"Dasar bocah! " gumam Alan sambil tersenyum dan menggelengkan kepala. Dia kembali meletakkan ponselnya lagi tanpa membalasnya. Terbayang olehnya, Jingga yang akan ngamuk-ngamuk, jika saja mengetahui namanya berubah menjadi kurcaci.


"Bang, ini laporan pajak yang dititipkan Bang Raka, bisa di periksa lagi." Suara Maya mengejutkan Alan yang tiba tiba sudah berdiri di dekat mejanya.


"Iya, taruh saja di situ, May! " ujar Alan dengan menunjuk ujung meja dengan dagunya.


"Apa ada yang Abang butuhkan, lagi? " Perempuan itu memang paling betah menatap wajah ganteng atasannya itu.


"Nggak usah, May! " jawab Alan masih dengan menatap laptop di depannya.


"Bagaimana jika aku buatkan kopi? " tawar perempuan berhidung mancung itu sekali lagi.


"Boleh juga itu, May. " jawab Alan, saat ini dia memang membutuh sesuatu yang bisa membuatnya kembali segar.


Perempuan itu keluar menuju pantry dan kembali dengan membawa secangkir kopi kemudian meletakkan di meja Alan.


"Ceklek... " Suara pintu terbuka, Alan dan Maya pun menoleh ke arah Jingga. Wajah Jingga seketika berubah, dari yang tadinya sumringah kini mendadak cemberut.


"Masuk, Ngga! " ujar Alan kemudian menghentikan pekerjaannya. Lelaki itu belum menyadari, jika Jingga sudah memasang wajah juteknya.


"Saya permisi, Bang! " ujar Maya yang kemudian berjalan keluar dan bersisipan dengan Jingga yang melangkah menuju sofa.


"Kamu datang dengan siapa? Dari mana kamu tahu kantorku di sini, Ngga? " tanya Alan menyusul Jingga yang saat ini sudah duduk di sofa.


"Aku naik taxi. Kemarin ketemu kartu nama milik Mas Alan. Ini aku bawa makan siang, Terus mau bilang jika nanti sore ada rapat BEM, jadinya aku pulang habis magrib. "


"Kenapa juga harus ikut BEM, Ngga?" dengus Alan yang sebenarnya tidak ingin Jingga ikut kegiatan di luar jam kuliah.


"Aku juga pengen mengaktualisakan diri, Mas! nggak cuma kampus, kantin dan rumah! " kilah Jingga membuat Alan terdiam, wajah perempuan di depannya sudah mulai menegang saat mendengar penolakan suaminya. Bibirnya mulai mengerucut karena rasa kesal dan kecewa bercampur.


"Wuih, ngambek! Kamu sudah makan? " Pertanyaan Alan di jawab gelengan oleh Jingga.

__ADS_1


"Mau ke sini biar dibolehin ikut rapat, kok. Eh, malah gitu jawabannya." jawab Jingga setengah bergumam.


"Meminta itu harus merayu, kalo pakai uring-uringan namanya ngrampok, Ngga! " sindir Alan dengan melirik Jingga yang masih memanyunkan bibirnya.


"Iya... boleh kan, jika aku ikut rapat? " tanya Jingga sekali lagi dengan membuka kotak makan dan mensajikannya di depan Alan.


"Iya boleh, tapi ntar aku yang jemput pas pulang! "


"Asyiiik...! " sorak Jingga membuat Alan mengacak rambut lembut Jingga sambil menggeleng pelan. Jingga sengaja datang ke kantor Alan hanya ingin meminta izin langsung, dia tidak ingin kasus saat melihat pameran terulang lagi.


###


Rapat BEM pun berjalan dengan lancar, meskipun terjadi banyak percekcokan antar para aktivis yang kritis, tapi setidaknya malam ini bisa mengambil keputusan, meskipun dengan jalan yang cukup alot.


Dari tadi Jingga sudah ingin sekali melihat ponselnya, takut Alan sudah menghubungi. Dan ternyata benar, belasan panggilan sudah tertera di layar benda pipih miliknya.


"Mampuslah! " gumam Jingga yang kemudian memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas.


"Kakak-kakak semuanya, Aku pamit dulu ya! Maaf nggak bisa kumpul bareng! " pamit Jingga kepada yang lain saat akan meninggalkan kantor sekretariat BEM.


"Iya, Ngga. Nggak apa-apa! " jawab beberapa orang hampir bersamaan.


"Jingga...!" panggil Arga saat Jingga akan melangkah keluar gerbang.


"Iya, Kak!" jawab Jingga menghentikan langkahnya, kemudian menoleh ke arah cowok jangkung itu.


"Kamu pulang dengan siapa? " tanya Arga saat berhenti tepat di depan Jingga.


"Oh, sudah di jemput, Kak!" jawab Jingga bersamaan dengan bunyi klakson Alan, membuat Jingga langsung berlari mendekati mobil Jeep Wrangler kesayangan suaminya itu.


"Maaf, lama! " ujar Jingga, saat baru duduk di dalam mobil.


Tak menjawab Jingga, Alan langsung melajukan mobilnya. Mereka terdiam beberapa saat, membuat Jingga merasa jika Alan sedang merasa kesal dengannya.


"Maaf, jika udah nunggu lama! " ujar Jingga dengan wajah memelas.


"Jangan memasang wajah memelas seperti itu!" ujar Alan kemudian membelokan mobil ke halaman rumahnya. Mereka menghentikan obrolannya sejenak dan turun dari mobil.

__ADS_1


Jingga merasakan tubuhnya sudah terasa lengket, bergegas dia langsung masuk ke kamar yang kemudian diikuti Alan dari belakang.


"Ngga, tidak ikut kegiatan pun tidak masalah kan, buat kamu? Bukankah hidupmu sudah menjadi tanggunganku?" ujar Alan memulai pembicaraan tentang maksutnya, saat mereka sama-sama tiba di kamar.


"Aku hanya ingin benar-benar kuliah normal, mengaktualisakan diri di kampus layaknya mahasiswa aktif, Mas! Setidaknya aku punya pengalaman berorganisasi, minimal itu! "


jelas Jingga yang masih antusias dengan kegiatannya di kampus.


"Paling kamu cuma team hore, kan? " Jingga menoleh ke arah Alan, matanya melotot ke arah laki laki yang saat ini berdiri di dekatnya.


"Jahat banget sih...!" Jingga menyahut guling dan memukulkannya pada Alan hingga berkali-kali, sementara lelaki itu malah tergelak membuat Jingga semakin kesal.


"Bener, kan? Emang posisi kamu di BEM, apa coba? " tak bisa menjawab pertanyaan suaminya, kali ini Jingga benar-benar memukul dada Alan dengan kepalan tangannya.


"Aduch... sakit, Ngga! " Mengerti keluhannya tak berpengaruh dengan pukulan istrinya terhadapnya. Alan, memilih membekap tubuh kecil jingga hingga istrinya tak bisa bergerak sama sekali.


"Lepasin, Mas Alan! " ketus Jingga dengan berusaha menggerakkan tubuhnya yang terkunci oleh lengan kokoh Alan.


"Sakit, Kurcaci Manisku! " ucap Alan saat mengangkat tubuh kecil itu hingga wajah mereka sejajar. Tatapan yang saling beradu membuat Jingga malah tersipu malu.


"Lepaskan, Mas Alan. " lirih Jingga, dadanya sudah berdebar saat mata perak kebiruan itu menatapnya penuh damba.


"Aduh... , sakit! " Jingga mengaduh, pura-pura menunjukkan wajah kesakitan, hingga membuat Alan menurunkan gendongannya.


"Mana yang sakit? " tanya Alan, mendadak wajahnya menjadi cemas.


"Hehehhe sakit, tapi bohong. " ucap Jingga dengan santainya akan berbalik, tapi Alan malah menarik lengannya hingga menatap tubuh kecilnya menatap dada bilang itu.


Alan membingkai wajah perempuan yang saat ini hatinya berdebar tak karuan, saat mata perak itu menatapnya penuh damba.


"Aku mencintaimu, Kurcaci Manisku! " ucap Alan tanpa mengalihkan tatapannya dari manik hitam milik Jingga. Wajahnya berlahan mengikis jarak diantara keduanya, hingga bibir tipis miliknya kini menyecap bibir mungil Jingga, membuat perempuan itu tergagap dan salah tingkah.


"Mas Alan, aku akan mandi dulu! " ucap Jingga dengan lirih, jantungnya berdetak begitu cepat hingga aliran darahnya terasa berdesir di seluruh tubuh.


"Sayang, aku menginginkannya! " ucap Alan sambil mencekal tangan Jingga.


"Jangan sekarang! Apa Mas Alan tidak malu, jika ada pembaca tau kita melakukannya tiap hari? " jawab Jingga dengan tersipu seolah mengiyakan saja keinginan suaminya. 😃😃😃

__ADS_1


TBC


Yuk dukung author dengan kasih vote, like dan hadiah.


__ADS_2