
Jingga masih mematut diri di depan cermin setelah sholat dhuhur. Dengan mengenakan dress yang panjangnya di bawah lutut dengan lengan di bawah siku dan warna hijau daun membuatnya terlihat lebih segar dan menawan, apalagi rambutnya yang di ikat kuda dengan sedikit poni panjang yang menggantung di kedua sisi wajahnya, menambahkan sisi cantik wajah mungilnya.
Jingga menyambar tas kecilnya dan segera mengambil sebuah kotak makanan yang sudah disiapkannya untuk Alan.
Senyum manis menghias bibirnya di sepanjang jalan, di bangku belakang taxi dia berharap ini akan menjadi surprise buat suaminya.
Siang dengan terik mentari, taxi yang ditumpangi Jingga pun berhenti di depan sebuah kantor berlantai dua. Kantor Alan memang tak sebesar perusahaan lain, tapi itu murni jerih payah dan kerja kerasnya sendiri.
Jingga berharap, kali ini dia harus bisa membujuk Alan agar bisa untuk memaafkannya.
"Maaf Mbak, Pak Alannya ada? " tanya Jingga pada receptionist yang bertugas di bagian depan.
"Ada Mbak, silahkan langsung ke lantai atas! " ujar seorang perempuan berpenampilan rapi yang menatapnya penuh selidik.
"Terima kasih! " ujar Jingga seraya meninggalkan meja receptionis menuju lantai dua.
"Masuk...! " Suara bariton itu terdengar setelah beberapa kali Jingga mengetok pintu. Saat dia membuka pintu itu, dia melihat Alan masih sibuk dan fokus ke laptopnya.
"Jingga...! " panggil Alan terhenyak, saat melihat Jingga sudah di depan matanya.
" Maaf, Bang! Sudah ditunggu klien! " sela Maya yang tiba-tiba saja nongol dari balik pintu .
" Oke... May! Kita berangkat sekarang. " jawab Alan yang membuat Jingga kecewa saat mendengarnya.
" Ngga, kamu mau nunggu di sini atau...? "
"Aku langsung pulang saja, Mas! " sela Jingga dengan cepat saat terdengar kalimat Alan menggantung.
"Baiklah, aku pulang, Mas!" pamitnya bersamaan dengan tangannya yang meletakkan paper bag berisi kotak makanan di atas meja.
" Ayo, aku antar ke depan! " tawar Alan.
" Nggak usah, Mas! " tolak Jingga,
Dia pun langsung berbalik setelah berpamitan dengan Alan. Ada rasa sedih yang saat ini menyentuh hatinya, mulutnya mengatup bahkan matanya pun mengembun.
Dengan langkah tergesa, dia pun keluar dari gedung yang mayoritas berdinding kaca itu, beberapa staf lainnya menatapnya dengan pandangan aneh. Tapi tidak dia pedulikan, dia keluar dan berjalan terlebih dahulu untuk menghilangkan diri dari pandangan orang yang mengenalnya.
__ADS_1
Langkahnya terus menelusuri trotoar, hingga sebuah mobil berhenti di sampingnya.
" Jingga! " panggil Haris dengan membuka kaca jendela mobilnya.
"Dengan siapa? " tanya lelaki bermata coklat itu.
"Sendiri, Bang! " jawabnya lirih.
" Aku antar pulang! " tawarnya, saat merasakan kejanggalan dengan sikap Jingga yang terlihat lesu.
"Nggak usah, Bang! Terima kasih... " tolak Jingga membuat Haris segera turun dari mobilnya.
"Ayo,..!" bujuknya dengan membukakan pintu. Mau tidak mau Jingga akhirnya menerima tawaran teman suaminya.
Pajero sport itu membelah ramainya jalan yang cukup ramai. Diantara keheningan yang tercipta, audio mobil terus saja melantunkan musik memecahkan kebisuan diantara keduanya. Sesekali mata tajam milik Haris mengekor, mengamati sosok di sebelahnya. Kekaguman yang sudah tersirat sejak lama pun bukannya memudar tapi malah semakin kuat.
"Ehmm ehmm... Kenapa pulang sendiri?" tanya Haris mencoba membunuh kebisuan diantara mereka.
"Mas Alan, ada pertemuan dengan klien." jawab Jingga dengan memainkan jari jarinya.
"Maaf ya Bang,... Mampirnya besok jika ada Mas Alan! " ucap Jingga saat mobil berwarna grey itu berhenti di depan gerbang rumahnya.
"Makasih, Bang! " ucap Jingga. Setelah itu, dia langsung menghambur masuk ke dalam rumahnya.
###
Sudah tiga hari Jingga dan Alan belum saling menyapa atau sekedar makan bersama di dalam satu meja. Tentu saja mereka tidak tidur bersama dalam satu kamar. Jingga melirik jam yang ada di dinding kamarnya, sudah pukul sepuluh malam perempuan yang merasakan kesepian yang teramat sangat itu masih menunggu kepulangan suaminya. Tapi ternyata, yang ditunggu belum juga kelihatan, hingga membuatnya memutuskan untuk tidur terlebih dahulu.
Mendung menyelimuti hatinya, di sana ada kesedihan yang hanya bisa tersimpan tanpa bisa di ungkapkannya lagi. Jingga mulai merebahkan tubuhnya di tempat tidur, tangisnya pun pecah di antara kesedihan yang seolah menghimpit dadanya, tapi ini memang salahnya. Berlahan, mata sembabnya membawa rasa ngantuk yang begitu hebat. Perempuan yang sebenernya masih ingin menunggu suaminya itu pun akhirnya terlelap dalam tidur.
Alan meregangkan tubuhnya dan menarik semua ototnya yang terasa kaku itu, setelah turun dari mobil. Matanya melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Sudah hampir jam sebelas malam, dia yakin jika Jingga pasti sudah tidur seperti malam-malam biasanya saat dia datang ke kamar bernuansa girly itu.
Langkah panjangnya memasuki rumah, tapi belum sempat menaiki tangga dia melihat Bi Murti yang masih nampak di dapur.
" Bi, Jingga sudah makan? " tanya Alan saat melirik makanan yang masih utuh di meja makan.
" Belum, Mas Alan. Mbak Jingga akhir-akhir ini jarang makan." jelas Bi Murti, yang bermaksut menceritakan kesedihan Jingga.
__ADS_1
"Mas Alan mau makan? " lanjut perempuan paruh baya itu menghentikan kegiatannya membereskan pantry.
"Nggak, Bi. Cuma mau nanyain Jingga saja. "
"Mas Alan...! " kalimatnya menggantung diantara ingin cerita dan tidak.
" Akhir akhir ini, Mbak Jingga terlihat murung, kelihatan sedih banget. " cerita Bi Murti membuat Alan mengernyitkan dahinya.
"Ohh, biar aku lihat di atas, Bi. " ujar Alan yang kemudian berlari menaiki tangga menuju kamar Jingga.
Flash Back
Kemarin malam, Alan pulang pukul sepuluh, saat itu yang dituju adalah kamar Jingga. Rasanya semua pekerjaan sudah menyita banyak waktu, bahkan hanya untuk menemui istrinya pun dia kesulitan membagi waktu. Jika saja bukan karena psikolog yang mengatakan pada Alan, jika akhir akhir ini Jingga terlihat murung dan kurang fokus, mungkin Alan masih menunggu lagi untuk menemui Jingga.
Tangan kokoh itu membuka pintu kamar Jingga, istrinya nampak sudah tertidur dengan memeluk guling. Wajahnya memang terlihat sembab saat Alan menatapnya lebih dekat. Di singkirkan anak rambut yang menghalangi pandangannya dan menatap wajah cantik istrinya. Wajah yang sebenarnya sudah sangat dia rindukan.
Lagi-lagi, proyek resortnya benar benar menyita pikirannya, dia teringat jika besok harus menyelesaikan semua rancangan dan kesepakatan. Gegas, dia berdiri dan membenarkan posisi selimut istrinya hingga sebatas leher, dan mencium kening putih milik Jingga sebelum dia masuk ke dalam ruang kerjanya.
Flash on
Alan mendekat dan duduk di tepian tempat tidur milik istrinya, di tatapnya lekat lekat wajah yang sudah terlelap itu.
"Apa yang sedang kau pikirkan, Sayang!" gumamnya dengan mengelus pipi lembut di depannya membuat Jingga mengerjapkan mata.
"Mas Alan, ...!" panggilnya dengan mata berkaca kaca, tubuh kecil itu kemudian beringsut untuk duduk.
" Kenapa, kamu menangis? " tanya Alan menatap tajam manik mata yang sudah berkabut di depannya. Membuat bibir mungil itu mengatup menahan tangis.
"Mas Alan, maafkan aku! " ucapnya seraya menghambur memeluk suaminya.
"Maafkan aku,.. jangan marah padaku hik hik hik" Tangisnya tergugu dalam pelukan tubuh kekar milik Alan.
" Hae ... tidak ada yang marah denganmu! " ucap Alan sambil mengelus punggung istrinya.
Mendengar ucapan suaminya membuat Jingga semakin mengeratkan pelukannya dan terisak di dada bergelombang itu.
"Jangan mengabaikanku! " Jingga masih betah dalam pelukan sosok yang sudah dia rindukan.
__ADS_1
Bersambung....